New Post

Rss

Saturday, March 29, 2008
no image

Pagi Sempurna

Pagi tak pernah sesempurna ini
Bangun disambut mendung yang menusuk
Ahhhh…Nikmatnyaa…

Anehkah aku??!!

Ahh..aku beda dengan kalian
Aku tak suka pagi cerah
Yang katanya menyiratkan semangat tak kunjung padam
Aku suka mentari yang tertutup
Aku suka tetesan sebangsa embun berjatuhan
Aku suka dingin yang merasuki tiap pori kulitku
Bukan..bukan berati aku pemalas
Bukan isyarat aku tak ingin hidup
Aku hanya ingin mencari
Titik semangat pagi tanpa cerah mentari

Aku sudah bilang..
Aku berbeda..
Kalian dapatkan euforia dari terik surya pagi
Aku tidak..
Aku justru tergugah karna mendung yang tebal itu
Aku selalu merasa ingin melakukan segalanya dibawah gulungan awan menghitam
Disaat semua orang malas beranjak dari tidurnya
Aku mencoba menikmati keheningan dan jalani hariku tanpa seorangpun tahu
Kalian bilang dingin di pagi hari membawa kemalasan sepanjang hari
Tidak!! Tidak berlaku untukku..
Rendahnya derajat ini membuatku ingin bergerak, berjalan bahkan berlari
Tanpa tujuan mencari dimana cahaya bersembunyi
Tapi karna keyakinanku, aku bisa hangat tanpa mentari
Tuesday, March 18, 2008
no image

Pers, Perempuan dan Privasi

KOMPAS Senin, 28-07-2003. Halaman: 45

Artis cantik Bella Saphira luar biasa mengamuk ketika ia ditanyai oleh seorang wartawan hiburan, apakah betul bahwa ia juga berprofesi sebagai wanita panggilan. Peristiwa ini terjadi awal Juli lalu ketika Bella menghadiri sebuah acara dan ditemui sejumlah wartawan. Saat itu beberapa wartawan menanyakan padanya soal hobi barunya menekuni bela diri Aikido. Tapi, tiba-tiba saja seorang wartawan "dari tabloid terbitan Jakarta" bertanya, "Maaf Bel, katanya kamu bisa di-booking sama om-om. Komentar kamu gimana?"


Bella yang langsung berubah raut muka memarahi wartawan itu, "Gila, kok bisa kamu tanya seperti itu! Enggak sopan banget! Saya ini bukan pemain baru, Mas! Kalau mau tanya baik-baik dong,enggak sopan banget pertanyaannya!" (Warta Kota, 8/7).

Sebelumnya, selebriti perempuan lainnya, Sarah Sechan, juga mengatakan sangat terganggu privasinya saat ia melangsungkan pernikahan, dan ia banyak menolak pertanyaan wartawan pada dirinya. Apalagi lalu muncul gosip bahwa Sarah menikah karena ia sudah berbadan dua sebelumnya. Mantan VJ MTV yang kini menjadi orang media,
juga sebagai wakil Pemimpin Redaksi majalah Cosmo Girl, menyatakan bahwa dirinya sangat ingin memelihara hidup privasi. Ia dan pihak manajemennya sampai harus menggelar konferensi pers tersendiri,menjelaskan sikap mereka kepada para wartawan.

Hampir setiap hari masyarakat ditaburi dengan berbagai tayangan televisi soal kehidupan selebriti yang berkisar dari soal pacaran, perkawinan, kelahiran anak, perceraian, dan kematian. Belum lagi puluhan tabloid di sekitar yang menjajakan banyak hal yang berkaitan dengan dunia selebriti, seolah-olah selebriti itu adalah dunia yang perlu dicermati sedemikian detail tiap sisi kehidupannya dan perlu
jadi panutan bagi para pembaca atau penontonnya.

Memang ada hukum besi di antara orang-orang pers bahwa salah satu syarat berita yang layak adalah jika menyangkut tokoh penting (name makes news, begitu doktrinnya). Kalau definisi layak berita salah satunya adalah menyangkut soal nama-nama besar, memang menurut sejumlah orang media, dua kasus yang diangkat dalam permulaan tulisan, masuk dalam kategori berita pula. Mereka-mereka ini akan berkilah, "Kalau toh si sumber menolak tudingan tersebut, itu pun sudah jadi berita."

Hukum besi macam ini sendiri memang harus dicermati dengan kritis, seberapa jauh sebuah institusi bernama media, dan mereka yang berprofesi sebagai jurnalis punya hak untuk masuk dalam kehidupan pribadi seseorang (terutama karena dia adalah orang terkemuka, atau ternama, atau seorang selebriti). Rasanya persoalan ini jarang
diangkat ke permukaan dan penulis merasa sudah waktunya ada waktu yang sedikit dicurahkan untuk membicarakan masalah ini.

Beberapa minggu lalu, Komisi I DPR mengundang sejumlah artis ke DPR dan dari pertemuan itu muncul keluhan dari para artis bahwa media banyak membulan-bulani mereka dengan berbagai pemberitaan yang sudah mengoyak hidup pribadi seorang artis. Tak kurang entertainer seperti Dedy ÆMiingÆ Gumelar dan Ayu Azhari pun mengeluhkan kehidupan pribadi mereka yang disobek-sobek dengan aneka berita di media massa.

Leviathan yang menghibur
Fenomena kehidupan artis yang diangkat ke permukaan lewat media massa bukanlah perkara baru. Itu sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu, dan sebagaimana definisi berita diungkap di atas, maka sejak pemberitaan dijadikan industri hal tentang kehidupan artis pun menjadi akrab dengan pembacanya. Namun, fenomena makin maraknya
kehidupan pribadi diangkat ke permukaan, tak bisa dilepaskan dari maraknya industri media di Indonesia selepas represi puluhan tahun di bawah rezim Soeharto.

Memang membaca kehidupan artis-yang dibayangkan masyarakat sebagai dunia gemerlap, penuh kecantikan, kegantengan, dan kekayaan materi-sangatlah menarik. Masyarakat selalu ingin tahu macam apa kehidupan pribadi seorang artis yang di layar kaca tampil dengan sangat meyakinkan dan tampil sangat cantik. Memang, salah satu fungsi
media ketika ia dirumuskan adalah juga untuk memberikan hiburan kepada masyarakat.

Namun, masalahnya ada dua hal. Pertama, seberapa jauh institusi media dan profesi wartawan bisa masuk dalam urusan-urusan kehidupan pribadi (dalam hal ini tidak hanya menyangkut para artis, bisa para pejabat, atau politisi) serta apa pula urusannya untuk mengurusi kehidupan pribadi seseorang. Kedua, walaupun berita-berita tersebut
dikategorikan menghibur daripada memberikan informasi-apalagi pendidikan-sebagai fungsi lain dari media massa, namun apakah benar bahwa masyarakat melulu membutuhkan hiburan dan perlu terus dihibur setiap hari sehingga melupakan banyak hal lain yang lebih penting dalam kehidupan mereka.

Dalam kaitan dengan hal terakhir ini, dunia hiburan bisa menjadi semacam "leviathan baru", "leviathan yang menghibur", yang mencengkeram masyarakat dengan hiburan setiap hari tanpa sadar bahwa ia telah melupakan banyak hal yang lebih penting dalam kehidupan ini. Penulis pernah mengungkapkan gagasan ini dalam tulisan lain ("Leviathan yang Menghibur", sisipan Bentara, Kompas, 2 Agustus 2002).

Memang situasi ekonomi terpuruk, pejabat tak habis-habisnya korupsi, anggota DPR lebih pikir diri sendiri daripada yang mereka wakili, dan buat sebagian orang ini menjadi legitimasi bahwa masyarakat kemudian perlu dihibur dengan berbagai tayangan tersebut. Namun apakah betul argumen ini bisa diterima?

Jangan-jangan ini hanya sekadar argumen yang dipakai mereka-mereka yang selama ini menangguk keuntungan dari gunjang-ganjingnya kehidupan para artis, melempar gimmick kepada artis agar terus bisa menulis atau menyiarkan sesuatu dari dunia tersebut. Kecurigaan lain yang perlu diwaspadai adalah maraknya intrusion of privacy ini lahir
dari persaingan antarindustri media pula. Semakin heboh, semakin banyak yang akan membaca atau menonton. Kehidupan pribadi para artis jadi komoditas yang enak dan laku dijual.

Tapi masalahnya, kenapa hanya perempuan yang lebih disoroti kehidupan pribadinya? Kenapa menjadi sangat penting untuk media tertentu dengan siapa sang perempuan ini berjalan, dengan siapa ia bergandengan tangan, dengan siapa ia makan bareng, atau dengan siapa ia tidur bareng?

Tayangan atau bacaan seperti itu hanyalah mengukuhkan stereotyping media terhadap perempuan yang tidak adil, tidak seimbang, dan menjadikan perempuan korban dalam sorotan media. Bias jender macam begini bukanlah baru, tapi justru perkembangan menunjukkan bahwa fenomena ini makin menekan para perempuan dan mengukuhkan citra dominasi atau tirani media atas perempuan khususnya dalam dunia hiburan. apitalisasi industri media pada akhirnya menjadi latar makin terpinggirkannya para perempuan dalam media.

Menentukan batas
Raymond Wacks, seorang guru besar hukum di University of Hongkong, menulis buku yang sangat menarik dalam kaitannya dengan kasus ini, Privacy and Press Freedom (Blackstone Press, 1995). Dengan mengutip C Munro, Prof Wacks menyebutkan sejumlah pemikiran yang perlu dipertimbangkan ketika media hendak mengangkat hal-hal pribadi
dari para selebriti kita, dengan terutama mengaitkannya dengan kepentingan publik.

Munro mengajukan sejumlah pertanyaan yang menantang: "Seberapa jauh pengaruh dari kecenderungan perilaku seks seorang dokter terhadap legitimasi sang dokter di mata pasiennya? Seberapa jauh pengaruh dari seorang guru sekolah yang memuja setan terhadap legitimasinya sebagai seorang guru di mata orangtua murid? Apakah ada
urusan publik yang dibahas ketika media menyuguhkan perilaku sesungguhnya dari para artis atau olahragawan, yang sering kali menjadi idola dari ribuan penggemarnya? Dan bisa pula seorang anggota parlemen mempunyai affair dan karenanya ia berbohong pada keluarganya seberapa jauh hal ini berpengaruh pada kepemimpinannya dalam parlemen
tersebut?

Sangat jelas di sini, perlu sangat dibedakan mana yang merupakan kepentingan umum dan mana yang merupakan kepentingan pribadi. Dan untuk itu media harusnya lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi sang media.

Kalaupun seorang Bella Saphira adalah juga seorang wanita panggilan, so what? Kalaupun seorang Sarah Sechan telah hamil sebelum ia menikah, so what? Adakah kepentingan umum yang terlanggar di sana? Yang terjadi justru adalah kepentingan pribadi dari contoh-contoh ini yang menjadi sangat terganggu.

Buat kalangan media sendiri, praktik seperti ini menunjukkan media kurang peka membedakan mana soal yang bisa dikonsumsi umum dan mana yang merupakan hak pribadi sang selebriti. Bukan tak mungkin, sang selebriti menuntut balik pada media tersebut atas urusan pelanggaran hak pribadi.

Masyarakat pun rasanya perlu lebih jeli dalam menyeleksi konsumsi media yang ada di sekitar kita dan tak menelannya bulat-bulat. Apakah persoalan pacar baru seorang artis seksi lebih penting daripada masalah sejumlah bupati yang menjadi terdakwa dalam kasus korupsi di berbagai daerah? Apakah soal perselingkuhan aktor ganteng dan keren lebih penting dari soal kegagalan panen para petani di suatu tempat? Atau betulkah masyarakat lebih memilih mengonsumsi berita tentang pesta ulang tahun ratusan juta dari seorang aktor muda daripada ratusan juta yang sama yang bisa membangun puluhan sekolah untuk daerah konflik seperti di Aceh, misalnya. Berita-berita yang seolah-olah menghibur itu sering kali ibarat candu, terasa nikmat sehingga melupakan kita dari berbagai soal serius yang seharusnya memang kita hadapi. Itulah tesis yang dikemukakan oleh Neil Postman ketika ia menulis buku Amusing Ourselves Till Death (1985). Apa kita memang mau terbius terus-menerus dengan hiburan-hiburan di sekitar kita? (*)

Ignatius Haryanto
Wakil Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan di Jakarta
no image

Wihara Cinta

Aku tertegun. Bau tajam menusuk lewat rongga hidung mencari saraf penciuman. Otak kecilku dipaksa berputar cepat menelisik kenangan-kenangan usang tertinggal. Mungkin karena aku tidak lahir di jaman Pentium hingga sulit mengenali bau yang sekian tahun lalu pernah tersimpan datanya di folder kenangan. File cinta kuberikan namanya, di hardisk Remaja (C:). Sengaja kupartisi hardisk otakku untuk memisahkan kenangan indah dan buruk. Yang indah kubuat foldernya di partisi bagian C, mewakili singkatan kata cinta. Entah logika mana kupakai memberikan nama itu. Biarlah semua yang indah atas nama cinta. Cinta untukku dan cinta orang-orang di sekitarku.

Kelahiranku tidak jauh dari seputaran waktu ditemukannya mikroprosesor. Benda kecil dengan kemampuan besar yang jadi cikal bakal prosesor pentium jaman ini. Tidak bisa dibandingkan perbedaan kemampuan keduanya. Mungkin membandingkan semut dengan gajah. Tapi kalau lobang yang dimasuki lobang semut, kenapa harus memakai gajah. Mungkin bisa tapi gajah harus dipotong kecil-kecil seukuran semut lalu ditarik dengan serat pohon pisang yang dalam bahasa batak daerahku disebut riman. Pekerjaan melelahkan bukan?

Hio ya… hio. Sekejap kenangan tentangmu berputar-putar kembali seperti gasing di atas ubin merah darah tigapuluh kali tigapuluh centimeter. Ngilu di hati ketika gasing bertumpu di cluster memori yang menyimpan duka.

Aku tidak bisa berhenti begitu saja mengenangkannya. Kedalaman cengkraman tangannya tak tergoyahkan hentakan-hentakan kepala memaksanya keluar dari telinga. Kini ia malah berteriak mengumandangkan namanya. Kenangan itu.

Perlu kutusuk-tusuk gendang telingaku hingga berlubang-lubang. Suara itu tetap tidak berhenti. Dia makin marah dan menggila. Menempel di ujung saraf pendengaran. Aku tidak berani menariknya satu persatu. Takut otakku ikut terseret juga. Bisa-bisa aku jadi manusia tanpa kenangan. Amnesia.

Ada bagian indah yang tidak ingin kubuang dari sana. Termasuk kamu. Tapi aku tidak pernah suka ketika yang muncul hanya deraan kesakitan yang pernah terlintas di perjalan hidup, perjalanan cinta yang buruk.

Tidak bisa kuisolasi pedih itu. Virusnya cepat berbiak mengisi segala sudut. Anti virus khusus otak sekarat tidak mampu memperbaiki rusak file kenangan yang terjangkiti. Padahal baru seminggu lalu ku update. Untuk megkarantina pun tidak sanggup. Anti virus bedebah sialan. Pilihan di delete, hilang permanen. Tidak. Aku tidak mau. Bagaimana pun ada kenangan manis di sana meski secuil.

Kutinggalkan amarahku di meja engkoh penjual Hainam campur. Tidak jadi aku pesan kesukaanku. Irisan tipis daging merah yang kuangankan sejak dari rumah tidak menarik lagi. Aku sudah terlalu muak dengan satu hal yang sangat kubenci ketika hendak makan di warung. Beberapa pengalaman jelekku entah kenapa selalu terjadi di warung engkoh. Entah di kantin kampus dan daerah Kota.

Lima daftar menu disodorkan tepat di mukaku disertai suara keras berebutan menarik perhatian menawarkan jualan. Seolah aku ucok kecil yang tidak bisa baca dan sedikit tuli. Mungkin aku harus teriak : ” Aku ini sarjana meski IP dua lebih sedikit. Tahu baca dari ini Budi sampai Das Kapital Karl Max. Telingaku juga beres kata dokter THT dua minggu lalu. Mungkin dengan teriakanku mereka semua akan menciut seperti keong masuk ke rumahnya.

Aku bisa baca kalau dua dari daftar menu menyediakan Hainam campur. Ada pula dikasih nama Hainam campur Singapore. Apa babinya dari Singapura atau penjualnya dari Singapura. Pertanyaan terakhir lebih masuk akal. Untuk apa megimpor sekedar daging babi dari negeri tetangga. Di Banten sana beratus babi bule gemuk diternakkan di kandang-kandang berlantai semen dan beratap seng. Babi bule yang putih semua bulunya meski sebenarnya cenderung ke pink.

Kenapa juga harus disodor-sodorkan hampir kena muka. Berteriak lagi.
“Hainam campur”
“Bakmi…bakmi”
“Hainam campur”
“Boleh…boleh, silahkan”
“Ya nanti sebentar lagi”
“Kwetiau?”
“Ya, nanti”
“The botol, fruit tea, atau apa?”

Aku menoleh. Wanita. Tak sanggup aku marah atau mendongkol padanya dalam hati sekalipun.
“Es teh manis”

Ee… dia balik badan tanpa mengucapkan terima kasih. Mata duitan umpatku. Dasar kapitalis tambahku. Segala cara untuk uang. Produk laku itu lebih penting. Manusia itu cuma aset. Kapitalis, umpatku kembali. Tentunya dalam hati.

Jalan becek melewati los penjual ikan segar masih seperti dulu. Kecuali baunya semakin menjadi. Bertumpuk-tumpuk ikan tongkol digelar dekat ikan bawal, kegemaranku.
Toko kelontong Sejahtera. Masih bercat hijau muda di bagian luar. Sama seperti dulu kecuali lebih kusam dan beberapa bagian tertutup tenda-tenda biru berdebu. Sebagian halaman depan pun tertutup jualan bumbu-bumbu dapur. Bau bumbu campur aduk mengalahkan bumbu bakmi di atas penggorengan.

Aku terbayang kelezatan rasa mi hangat baru diangkat dari penggorengan. Dihidangkan di atas piring ceper. Piring dari bahan yang sama untuk membuat kursi metromini. Pantulan kilau mi akibat minyak berlimpah menerbitkan liur.

Dulu aku begitu tertarik untuk menikmatinya ketika memcium harumnya uap yang keluar dari penggorengan. Tidak menunggu lama pesanan sudah di atas meja ditemani segelas air putih. Sepasang sumpit bambu berbungkus pelastik kuraih dari tempatnya di ujung meja. Cuka makanan, sambal dan saus tomat tak ingin kutambahkan untuk harum mi seenak ini.

Jepitan-jepitan mi menunggu masuk mulut tidak bertahan lama di udara terangkat dari piring. Sehitungan beberapa detik melucur ke mulut. Ujungnya kusedot dengan tarikan napas sambil memoyangkan bibir. Ujung lainnya yang masih tertinggal di piring kudorong pelan-pelan dengan sumpit.

Bibir berminyak-minyak menambah lancar barisan mi itu meluncur ke rongga mulut lalu dikunyah lembut untuk menikmati lama-rama racikan bumbu yang nikmatnya luar biasa. Ingin aku punya istri pintar memasak mi senikmat ini. Mungkin tidak perlu lagi aku makan nasi. Tiga kali sehari hanya makan mi berminyak. Lupakan kolesterol yang makin tinggi dan darah yang makin tinggi sampai ke langit, jantung juga biar kelelahan memompa darah ke seluruh tubuh. Kenikmatan di atas segalanya.

Di ujung jepitan sepasang sumpitku terakhir tanganku berhenti. Gadis itu membuatku mematung. Rambutnya hitam legam jatuh lurus di bahunya. Kulit putih wajahnya bercahaya seperti matahari. Aku seperti klorofil daun mengharapkan sinar dari wajahnya. Kemana pun dia bergerak aku mengikut terus walau akibatnya tangkai daunku harus berkelok-kelok mengikut gerak sinar matahari dari wajahnya.

Mata sipit seperti mengintip saja melihat segala sesuatu. Astaga aku cukup lama terpaku melihat gerak bibirnya naik turun ketika berbicara pada ayahnya yang sedang menghitung uang di kasir. Tebakanku asal saja karena kulihat mereka mirip. Sama sipit dan kulitnya hampir serupa putihnya. Rambut pun sama hitamnya. Tapi kalau dibandingkan dengan lelaki sipit yang baru saja meninggalkan kasir sambil membawa bungkusan juga mirip. Aku sulit membedakan mereka. Bagiku semuanya sama saja. Seperti melihat orang Amerika, sama saja. Seolah mereka semua sama. Berambut pirang dan bertubuh jangkung. Ternyata bukan hanya aku saja yang berpendapat begitu. Teman-temanku pun sama. Bahkan aku pernah bertemu orang Jepang dari rombongan kesenian bertanya kemana saudara perempuanku. Aku bingung. Saudara perempuanku ada di Sumatera, tidak pernah kubawa bertemu dia. Setelah dia menerangkan ternyata teman perempuanku yang beberapa kali kubawa bertemu dengannya. Dia juga melihat kita orang Indonesia sama semua. Dianggapnya bersaudara. Dia tidak tahu kalau di Ambon pernah perang.

Cepat-cepat kulap mulut dengan tisu di atas meja. Membayar di kasir setelah meminum seperempat gelas air putih yang dihidangkan. Rupanya dia pamit ke ayahnya entah hendak kemana. Aku ikuti saja. Aku seperti kutub utara magnet mengikuti dia si kutub selatan. Tarikannya begitu kuat seperti tersedot pusaran tornado. Menarik ke tengah pusaran, membuatku pusing di tengah pusarannya yang menyedot siapa saja di sekitarnya.

Aku tidak bisa melepaskan kesempatan ini begitu saja. Aku ingin kenalan dengannya. Tidak harus berharap menjadi pacarnya. Menjadi temannya pun tak apa. Siapa tahu istriku kelak bisa belajar membuat mi enak darinya.

Wajah-wajah yang kutemui saat berpapasan gelap semua. Memandang hanya lurus ke depan tidak peduli dengan aku yang menabrak alur arah mereka yang berjalan cepat di tengah para pembeli. Hanya wajahnya bercahaya di siang ini. Dengan mudah kuikuti pergerakan cahaya yang keluar dari wajahnya. Ternyata bukan cahaya dari wajahnya saja. Seluruh tubuhnya bercaya di tengah orang banyak. Seolah satu-satunya sumber cahaya di tengah jagad raya maha luas.

Mataku tertumbuk pada pinggulnya yang bergerak ke kiri kekanan mengikuti langkahnya. Bahkan bagian itu sungguh sempurna. Pinggul besar di bawah pinggang ramping konon bagus untuk melahirkan anak. Tapi aku tidak ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Suatu hal yang mustahil kalau pun aku menginginkan. Banyak sekali hambatan yang harus kulalui bila berani membayangkan ia menjadi istri. Bukan hanya aku yang akan kesulitan. Dia dan anak-anak kami terutama akan sulit memperoleh sepucuk surat pengakuan memiliki sesuatu dari RT.

Di tempatku berdiri sekarang ini dia dulu berhenti. Di tengah angin dengan bau hio yang tajam dia berhenti. Menolehkan wajahnya ke belakang. Sontak aku menghentikan langkah dan menahan napas melihat senyum di bibirnya. Ia mengganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Aku jadi memperhatikan leher putihnya. Kutahan mataku untuk tidak berfokus ke bawah lehernya karena takut dia menganggap aku laki-laki yang bukan-bukan.

Kuikuti ia masuk gerbang kelenteng Darma Bakti. Sepanjang jalan masuk berbaris pengemis. Kuperhatikan kulitnya sama denganku dan matanya pun sama seperti mataku. Aku menunduk malu sejenak lalu hanya menatap lurus ke depan mengikuti kemana ia mengarah. ,p> Aku berhadapan dengan barisan hio ditancap di atas pedupaan. Merah hio kontras dengan warna abu-abu yang dihasikan setelah terbakar habis sedikit demi sedikit lalu jatuh menjadi gundukan abu. Sudah pasti bau tajam pun menusuk hidung lebih tajam sebab hio terbakar hanya beberapa meter di depanku.

Kulihat ia membelok masuk ke ruangan yang penuh dengan asap dan barisan orang menyembah naik turut tidak serempak. Masing-masing khusuk dengan doanya sendiri sambil bibir komat-kamit meluncurkan doa kepada dewa. Di pintu masuk tempat ia berbelok kulihat patung dewa kegembiraan. Kesebut kegembiraan karena mulutnya tertawa. Entah pemberian namaku benar atau tidak. Sepertinya terbuat dari besi kuningan, tapi bisa saja emas. Kudengar seniman patung kelenteng sangat tinggi cita rasanya. Penghormatan terhadap dewa sungguh besar hingga layak dibuatkan patungnya dari emas murni.

Kursi kosong dari semen sekeliling halaman wihara membuatku memilih duduk di salah sudut. Wihara dan kelenteng pun aku tidak tahu apakah sama atau berbeda. Kuanggap saja sama karena aku memang tidak tahu apa-apa. Bahkan alat-alat peribadatan agamaku pun aku tidak begitu tahu. Aku hanya tahu altar dan meja persembahan. Bagiku tidak penting mengetahui segalanya. Yang penting aku bisa berhubungan dengan Tuhanku di atas sana kalau memang ada. Sejarah telah mencatat banyak orang yang pintar tidak mengakui lagi ada Tuhan di atas sana atau tinggal di hati manusia. Aku memang tidak se ekstrim mereka yang berani mengatakan Tuhan itu ada. Aku percaya Tuhan ada tapi sedang sakit mata. Kenapa demikian? Beberapa hari lalu aku jalan kaki dari lapangan Banteng menuju harmoni lewat jalan depan Katedral. Kulihat bentangan tali di antara pohon pinggir jalan. Digantungi pakaian-pakian kumal bermacam ragam. Beberapa potong celana kumal, rok dan celana dalam buluk. Cahaya lampu jalan remang-remang menembus lewat celah dedaunan membuatnya terlihat semakin kumal. Mungkin Tuhan yang di Katedral sedang sakit matanya, tidak melihat ada gelandangn tidur di bawah pohon sini. Atau ia tertalu tinggi berdiri di atas menara hingga tidak melihat manusia dibawah di seberang jalan. Ini kan jaman modern. Setidaknya dia bisa pakai teropong atau webcam, di sebar beberapa titik di seputar halaman hingga bisa mengamati keamanan sekitar lewat komputer. Tenaga Tuhan sedikit hemat, tidak perlu lagi naik turun tangga ke menara.

“Hi”. Pikiranku tentang Tuhan sakit mata sekejap bubar tak berbekas. Aku mengangguk dan tersenyum tak bisa berkata menatap wajah dihiasi bibir tersenyum seindah… aduh aku bahkan tidak tahu dibandingkan dengan benda seindah apa. Kuterima uluran tangannya dengan dada yang masih berdebar.
“Kenapa mengikutiku?”
“Aku tidak mengikuti anda”
“Kalau begitu mengapa tidak berdoa ke dalam”
“Ah em.. ah”
“Menunggu saudara?”

Kusadari kebodohanku berbohong. Jelas-jelas aku duduk di sini menunggu dia keluar. Aku tidak bisa berkata lebih lanjut. Malah menghindari jawaban dengan bertanya. Pertanyaanku sebenarnya pengakuan bahwa aku memang mengikutinya. “Bagaimana bisa tahu kalau saya mengikuti anda?”
“Tiga pedagang bumbu memperingatkan kalau aku diikuti lelaki dengan tatapan mata aneh”
“Mataku tidak aneh”. Astaga mungkin penjual bumbu itu sedang melihatku menatap pinggulnya yang bergerak-gerak ketika berjalan menuju wihara ini. Aku jadi sedikit malu.
“Maafkan saya”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan”
“Siapa yang kau doakan” Dia diam sesaat.
“Seseorang”
“Seseorang?” Jangan-jangan aku yang didoakan agar tidak berbuat jahat kepadanya. “Tidak. Aku tidak mau berbuat jahat kepadamu. Sumpah”
“Bukan kamu tapi tindakanmu mengingatkan aku padanya. Bukankah kamu yang tadi makan di warung kami?
“Ya”
“Sama betul. Seseorang itu juga selesai makan di warung lalu mengikutiku ke sini”
“Anda punya pengalaman buruk tentang seseorang itu?”
“Sama sekali tidak. Malah sebaliknya”

Kuperhatikan betul-betul bibirnya komat-kamit menceritakan tentang seseorang itu. Aku seperti menunggu sepasang bibir itu jatuh kutanah lalu memuntut untuk memasangkannya kembali di wajahnya. Bibir itu terlau indah untuk bergerak memamerkan kecantikannya.

Dia mengambil tempat di sebelahku menghindari matahari sore. Aku memang mengambil tempat di dekat pohon cery menghindari panas.

Perkenalannya dengan pemuda. Ia sangat mencintainya. Pertama kali duduk dengan pemuda itu juga sama seperti posisiku saat ini dengannya. Kenapa semuanya serba sama pikirku. Jangan-jangan dia mengarang cerita.

Di wihara ini kami berjanji untuk saling mencintai lalu membangun keluarga untuk melahirkan keturunan kami. Di sini cinta kami bermula. Cinta kuharap abadi yang tak akan hilang walau wihara ini harus dirubuhkan untuk dibangun pusat perbelanjaan. Aku begitu mencintainya. Sudah kuberikan apa yang menjadi haknya di atas pelaminan.
“Dia meninggalkan anda?”

Bodoh sekali. Pertanyaanku malah menerbitkan air mata dari kedua mata indahnya. Aku siap menunggu kata-kata terakhirnya bila saja dia harus pergi dengan pertanyaanku yang telah menerbitkan sedihnya.

“Dia meninggal ditempat anda duduk sekarang. Lima perampok terpaksa membunuhnya untuk mendapatkan uang di sakunya.
Di wihara ini cintaku lahir dan mati.
Selamat sore ! Dia meninggalkanku berdiri setelah terlonjak kaget. Wihara cinta, gumanku.

Jakarta, 23 Oktober 04
Dimuat di Rayakultura
no image

Hadiah Untuk Lautku

Langit masih pekat. Sejauh mata memandang hanyalah kegelapan yang tampak, selimuti bumi di tengah deru kesunyian. Perlahan tapi pasti, semburat lemah kemerahan berpendar lembut dari kedalaman cakrawala. Berpasang-pasang mata menanti penuh harap. Berat tubuh diserahkan pada pagar anjungan, sebuah kamera stand by di tangan, dan mata awasi lekat-lekat. Cahaya itu berpendar sedikit lebih terang. Saat berikutnya sang bintang mengintip dari balik singgasananya. Tangan-tangan bergerak lincah, arahkan bidikan tepat sasaran dan mulai menembak. Kehidupan di atas mulai tercipta, membangunkan kehidupan lain di bawahnya. Makhluk terpintar di dunia itu tiba-tiba saja meloncat ke atas, tembus batas antardunia, menyatu dengan dunia atas. Kemunculannya yang mendadak itu menimbulkan decak kagum para penghuni dunia atas, melebarkan senyum yang telah terbentuk semenjak cahaya kehidupan itu menampakkan diri. Makhluk itu kembali menyapa dan tanpa menyia-nyiakan waktu, detik yang menyenangkan itu kan jadi abadi di atas selembar kertas.

Kau tahu? Itulah salah satu mimpiku. Aku dan teman-teman berdiri bersandar pada anjungan pagar, menikmati hangatnya mentari yang baru saja menggantikan rembulan, dan menghabiskan roll film di kameraku, mengabadikan saat-saat lumba-lumba yang lincah itu melompat ke permukaan air dengan latar belakang matahari terbit.

Namun, tampaknya mimpi itu semakin mustahil bagiku. Bagaimana kita sebagai makhluk darat dapat menikmati laut bila makhluk laut sendiri tidak dapat lagi menikmati dunia mereka? Lihat saja lempengan hitam kerak minyak mentah yang pernah menutupi sepajang pantai di muara Cimanuk Lama, Indramayu, pada Januari 2003 lalu. Buruknya lagi, pencemaran ini juga merambat sampai ke Pantai Tirtamaya yang merupakan aset wisata kebanggaan Indramayu.

Meskipun usaha pembersihan kembali muara Cimanuk Lama dan daerah sekitarnya telah dilakukan, daerah itu telah mengalami perubahan. Ekosistem di sana terganggu. Ikan-ikan keracunan dan terumbu-terumbu karang semakin sulit hidup. Hal ini tentu saja menurunkan harga daerah wisata tersebut. Pertama-tama mereka harus menutup sementara areal tersebut selama proses pembersihan. Kemudian mencoba memulihkan kehidupan di bawah air tersebut. Barulah kemudian mereka dapat berharap para wisatawan akan kembali mengunjungi daerah tersebut. Sungguh saat-saat yang tidak menyenangkan.

Aku memang bukan anak pantai yang mengalami sendiri perjuangan mempertahankan sekaligus dua alam kehidupan, laut dan darat (kelangsungan hidup para penghuni laut sekaligus kelangsungan hidup para pengelola taman wisata laut yang menggantungkan hidup pada taman wisata tersebut). Perasaan ini semakin sulit diselami ketika untuk mempertahankan hidupkita malah menghancurkan kehidupan lain, buka memperjuangkannya seperti yang dilakukan para pengelola taman wisata. Dapatkah kau bayangkan? Apa yang dapat mereka jual bila areal wisata tersebut mengalami kerusakan seperti di Indramayu?

Bayangkan bila hal serupa terjadi serentak juga di Taman Wisata Laut Bunaken dan taman laut lainnya. Belum lagi usaha penangkapan ikan yang merusak di berbagai perairan. Para nelayan masih saja membandel dan mencuri pakai berbagai bahan peledak, pukat harimau, atau alat-alat lainnya untuk mendapatkan hasil tangkapan sebanyak mungkin.semakin banyak hasil tangkapan, semakin berbangga pula para nelayan. Mereka merasa berhasil menaklukkan laut, seperti halnya nenek moyang kita. Namun, apakah kebanggaan yang dirasa para nelayan masa kini sama dengan kebanggaan nelayan kita terdahulu? Apakah merusak laut demi hasil tangkapan yang tak mau disebut sebagai menguras habis hasil laut dapat dibanggakan? Sudah begitu banyak media yang menjerit melihat kejadian ini. Tak perlu lagi kujelaskan betapa berbahayanya peralatan-peralatan tersebut.

Berbagai alternatif cara pemanfaatan hasil laut telah ditawarkan. Namun, apakah cara-cara tersebut cukup aman? Lihat saja usaha penangkapan ikan-ikan hias di salah satu perairan lain di Asia Tenggara ini. Di sana para nelayan menggunakan gas karbon dioksida untuk membius ikan-ikan hias sehingga mudah ditangkap. Memang, hasil tangkapan mereka bertambah. Dengan demikian mereka dapat memperoleh lebih banyak dari hasil penjualan beragam ikan menarik tersebut. Hanya saja mereka berusaha menutup mata terhadap resiko penangkapan tersebut. Ikan-ikan yang ditangkap tersebut tak sedikit yang berumur pendek, mati begitu saja setelah berhasil terjual. Terumbu karang yang menjadi rumah ikan-ikan tersebut juga merasakan efek dari gas karbon dioksida yang disemprotkan tersebut. Bagaimana mungkin? Para pemburu mengerjar ikan-ikan hingga ke celah-celah terumbu karang. Di sanalan para pemburu menyemprotkan karbon dioksida pekat. Setelah ikan-ikan itu pingsan, mereka dimasukkan dalam plastik dan siap dijual di daratan. Karbon dioksida tersebut telah membuat terumbu karang kesulitan mendapatkan oksigen dan mati perlahan-lahan. Tidak ada terumbu karang berarti tidak ada rumah bagi makhluk laut kecil yang biasa berlindung di antara tentakel-tentakelnya. Tidak ada makhluk laut kecil berarti tidak ada makanan bagi ikan-ikan yang lebih besar. Dan begitulah rantai kehidupan di laut terputus.

Mudah saja bagi instansi kelautan untuk memasang spanduk dan menebarkan tulisan di berbagai tempat: Selamatkan Terumbu Karang atau Selamatkan Ekosistem Kelautan. Namun, seberapa efektifkah seruan-seruan tersebut? Kebanyakkan orang hanya membaca tulisan-tulisan tersebut sambil lalu dan tak mau ambil pusing. Mengapa? Hal ini dikarenakan ketidaktahuan masyarakat terhadap kondisi laut kita, laut Indonesia terutama. Padahal, laut merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat menyumbang banyak bagi kehidupan kita.

Program ‘membuka mata’ inilah yang sebaiknya lebih digalakkan. Lalu, kita bertanya-tanya, bagaimana caranya menyadarkan masyarakat perihal kelautan ini? Promosi keindahan laut sebenarnya memiliki daya tarik tersendiri yang mampu menggerakkan masyarakat untuk memelihara alam kelautan. Penayangan liputan mengenai kelautan, misalnya saja program national geographic channel - under the sea, sebenarnya mampu menarik minat masyarakat. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa proram telvisi semacam itu dianggap membosankan. Oleh karena itu, menjadi tugas pemerintah bersama para pemerhati lingkungan kelautan untuk membuat program semacam itu menjadi lebih menarik, mungkin dengan lebih mengekspos potensi laut nasional Indonesia.

Semoga saja dengan informasi yang cukup mengenai kekayaan laut Indonesia dan potensi-potensinya, masyarakat perkotaan yang bosan dengan asap kota memikirkan kunjungan ke berbagai taman wisata laut yang tersebar di Indonesia ini sebagai alternatif tujuan liburan. Kunjungan ini selain diharapkan dapat memuaskan keinginan manusia untuk menyatu dengan alam dan mendapatkan penghiburan dari alam, juga bertimbal balik dengan sumbangan ‘perhatian’ dari para wisatawan pada objek wisata itu sendiri.

Program ini akan semakin baik bila diimbangi dengan sarana dan prasarana yang menunjuang. Jalan yang memadai, tidak perlu mewah, bahkan terkadang tanah padat yang sedikit dirapikan, dapat menambah kenikmatan berkunjung. Akan lebih baik bila penduduk lokal turut terlibat dalam program ini. Mereka dapat berpartisipasi dengan menjadi pemandu wisata atau pengelola rumah singgah dan mengakomodir kebutuhan sehari-hari para wisatawan dengan hasil alam yang tersedia di tempat tersebut. Dengan demikian, selain melestarikan areal wisata kelautan itu sendiri, kekhasan suatu daerah wisata pun dapat ditonjolkan yang juga dapat semakin memupuk rasa cinta tanah air.

Pemberian hadiah wisata ke taman-taman laut juga dapat dipikirkan sebagai alternatif cara pelestarian laut. Selama ini hadiah suatu lomba atau sayembara biasanya berkisar pada tiket wisata ke Bali, voucer menginap di hotel bintang lima, atau voucer makan di restoran ternama. Mengapa tidak diadakan hadiah wisata ke taman laut Bunaken atau ke Pantai Tirtamaya di Indramayu? Orang berkata bahwa promosi lisan biasanya berhasil lebih baik. Tidak tertutup kemungkinan bahwa setelah kunjungan tersebut, para peserta wisata mempromosikan daerah wisata pada rekan-rekannya dan semakin banyak lagi wisatawan yang berkunjung yangberarti semakin besar pula dana yang diperoleh untuk pemeliharaannya - dengan catatan tidak disalah gunakan.

Pepatah lama menyebutkan ‘tak kenal maka tak sayang’. Dengan program pengenalan semacam ini diharapkan semakin banyak warga Indonesia yang sayang akan negaranya. Semoga saja rasa sayang yang mungkin tercipta ini memberi dampak psikologis yakni pengalihan energi masyarakat Indonesia yang beberapa tahun terakhir ini ‘panas’ menjadi energi untuk mengembangkan ‘bakat terpendam’ Indonesia – sumber daya alam yang selama ini terlupakan. Bukankah lebih baik aksi pengembangan taman wisata daripada aksi pengrusakan atau mogok makan?!

Laut Indonesia telah memberi begitu banyak kehidupan bagi masyarakatnya, di laut maupun di darat. Sudah sepentasnya kita memberi hadiah yang setimpal bagi mereka. Aksi pemeliharaan dan pengembangan ini dapat menjadi hadiah yang manis bagi alam kelautan kita, juga hadiah yang manis bagi keturunan kita kelak.


*Juara III Lomba penulisan Esei tingkat remaja/pelajar SMU se-Jabotabek dan Wilayah Sangatta Propinsi Kalimantan Timur yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan Kementrian Lingkungan Hidup dan PERISKA P.T. Kaltim Prima Coal (KCP) (2004)
Monday, March 17, 2008
no image

Aku Selebriti, Maka Aku Penting

KOMPAS Minggu, 25-01-2004. Halaman: 17

ASPEK mana kehidupan artis yang tak luput digali oleh media massa? Semuanya telah habis ditumpahkan kepada para pembaca atau penonton media di Indonesia. Mulai dari soal perkawinan, perceraian, isu perselingkuhan, soal kekerasan dalam rumah tangga, soal tiruan wajahnya, dan lain-lain. Selain itu pula, dalam tampilan di televisi, amat mudah kita menemui berbagai wajah selebriti dalam berbagai tayangan lain, mulai dari soal masak-memasak, tebak-tebakan berhadiah puluhan hingga ratusan juta rupiah, membahas kehidupan sehari-hari, hingga pada artis yang memberikan tips menghindari kejahatan menghampiri dirinya.

Infotainment. Itu kata kunci yang dipakai oleh berbagai production house ataupun tasiun televisi. Maksudnya hendak mengatakan bahwa informasi dan entertainment hiburan), bukanlah dua entitas yang terpisah, namun dalam rumus ini, keduanya aruslah menyatu. Seolah mau menekankan bahwa "informasi haruslah menghibur,karena alau informasi terlalu serius, tak akan yang mendengarkan".

Cobalah menonton acara Asal (Asli tapi Palsu), dan kita akan mendengar chorus bagaimana para peserta yang wajahnya mirip dengan seorang selebriti tertentu, berharap ia akan bisa jadi ngetop karena kemiripannya tersebut. Apa pun profesi yang telah disandangnya sekarang seolah tak cukup kalau ia pun tak jadi sengetop selebriti
yang mirip dengannya. Padahal banyak terjadi si "kembaran" sang selebriti itu usianya lebih tua dari sang selebriti itu sendiri. Jadi sebenarnya siapa mirip dengan siapa?

Tak ada yang salah dengan orang yang punya keinginan jadi ngetop, atau menjadikan dirinya sebagai selebriti yang akan dikagumi orang ketika berjalan, dikomentari ketika sedang berkeliling-keliling di mal. Banyak orang berlomba-lomba untuk tampil bak selebriti, atau menjadikan diri sebagai selebriti, lewat cara apa pun itu.

Dalam situasi seperti ini, tak salah untuk tetap mengingat apa yang dikemukakan oleh Neil Postman ketika ia memperingatkan bahaya dari industri televisi yang secara terusmenerus menghibur masyarakatnya hingga mati. Tentu saja Postman mungkin berlebihan ketika ia mengambil istilah mati, sebagai batas ketika manusia tak lagi dihibur oleh dunia televisi, tapi istilah apalagi yang lebih cocok dari itu?

Dunia televisi memang punya logika sendiri. Ia berkesan instan, yang penting adalah tampilan, performance di televisi (peduli apakah punya bobot atau tidak), pun kalau sekadar berucap "pokoknya acaranya oke banget", yang penting seseorang telah mengucapkannya, seraya kamera menyorot pada wajahnya. Apakah deskripsi lebih lanjut
dari "oke banget" tadi, tak penting, toh kamera sudah akan menyorot ke tempat lain lagi. Apakah ungkapan "oke banget" tadi mencerminkan kemiskinan bahasa atau cara pengungkapan, itu tak soal juga, karena toh bukan itu yang penting. Yang penting adalah wajah berseri, tepukan penonton, betapapun tololnya jawaban yang diucapkan.

Dalam film Confession of the Dangerous Mind, digambarkan seorang produser acara televisi yang merangkap profesi sebagai pembunuh bayaran CIA, dan dalam memproduksi tayangannya, ada pernyataan "makin rendah selera yang ditawarkan kepada penonton, makin laku acara tersebut".

Tayangan infotainment ada di seluruh saluran televisi Indonesia.Dalam seminggu, kita akan mendapatkan tayangan infotainment sebanyak puluhan jam, bahkan dalam masa ketika televisi swasta harus beroperasi 24 jam, sejumlah tayangan infotainment pun di-rerun pada pukul 04.00 pagi! Padahal kalau dilihat isinya, antara satu tayangan dengan tayangan lainnya tak jauh berbeda materinya.

Sebuah kelompok pemerhati media di Amerika bahkan tiap tahun membuat list "junk food news", yang ditujukan pada hiruk pikuknya media terhadap sejumlah kasus tertentu yang menyangkut dunia para selebriti. Kelompok ini merasa bahwa berita yang telah dimuat oleh media sudah sangat berlebihan. Misalnya dalam kategori ini adalah,
segala hal yang berkaitan dengan diri seorang David Beckham, pemain sepak bola asal Inggris, dan istrinya, Victoria Posh, yang mantan anggota grup Spice Girls, seakan tak pernah ada hentinya.

Dalam diri saudara tuanya, media cetak, selalu ada halaman yang memberi porsi soal kehidupan artis atau selebriti lainnya. Bahkan tabloid yang mengurusi soal beginian pun tak sedikit, walau sebagian dari mereka sangat khawatir dengan kehadiran infotainment di televisi, yang sedikit banyak akan memukul segmen pembaca mereka.
Seolah-olah para pengelola acara infotainment ini hendak mengatakan bahwa para artis dan kehidupannya ini adalah yang paling penting, sehingga kita-para pemirsa-harus memperhatikan setiap detil kehidupan sang artis. Si artis bisa jadi panutan moral, karena ia bijak berumah tangga, bisa merawat tubuh dan muka dengan piawai, pandai memasak, membagi tips melawan penjahat, membagi tips untuk memelihara hewan dan lain-lain. Seolah-olah manusia biasa tanpa predikat selebriti jadi tak penting untuk tampil di media.

Memang dalam dunia jurnalisme dikenal salah satu syarat berita adalah soal prominence (keterkenalan sang sumber). Tapi dengan semata-mata menekankan pada unsur prominence dalam pembuatan berita atau infotainment tadi, maka unsur lain sebagai syarat berita menjadi kabur. Tak penting lagi mempertimbangkan soal signifinance dari kejadian yang dialami sang artis bagi pembacanya, tak penting pula apakah memang ada suatu fenomena yang baru terjadi, atau sekadar mengulang-ulang pola lama (pacaran, selingkuh, menikah, bercerai, menggugat di peradilan). Atas nama prominence-nya sang artis, segala aspek dunia artis menjadi ô"berita" di berbagai tayangan infotainment. Tak peduli apakah melanggar kehidupan pribadi si artis atau tidak, tayangan ini akan terus muncul.

Judul tulisan di atas mempelesetkan adagium dari filsuf Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada), dan adagium tadi sengaja dipelesetkan agak jauh, untuk menaruh dalam konteks kehidupan artis dan kehidupan media di Indonesia. Intinya sama, soal eksistensi manusia, dan penanda apa yang dipakai untuk menyebut
eksistensi dirinya; soal berbelanjakah, soal berpikirkah, soal berpakaiankah, atau soal dirinya masuk dalam liputan media massa atau tidak.

Dunia ini seolah ekstravaganza dengan parade keriuhan tanpa henti, di mana artis cantik dan ganteng satu per satu terus bermunculan, membentuk barisan tanpa putus. Kita pun dihibur dan dihibur dan dihibur. Suatu yang remeh temeh mendadak jadi sangat
penting (cara memoleskan lipstick di bibir, cara menghindari pencopetan handphone di perempatan jalan) karena diangkat oleh televisi, dan sebaliknya sesuatu yang betul-betul sangat penting (eksploitasi artis oleh kalangan partai politik, artis yang jadi
selingkuhan para pejabat, hingga ke soal penggusuran tiada henti) tak pernah jadi agenda serius untuk tampil.

Prominence di atas segalanya. Tak heran jika banyak orang berlomba-lomba jadi prominent people, alias menjadi selebritas, tanpa mempertimbangkan apakah yang prominent tadi memiliki bobot atau tidak. Makin heboh penampilan, makin akan diliput media massa. Media massa kita memang sangat menghibur kehidupan kita.

Ignatius Haryanto
Wakil Direktur LSPP di Jakarta
Antologi Puisi dan Cerpen Aku Perempuan: Dari Para Perempuan Belia

Antologi Puisi dan Cerpen Aku Perempuan: Dari Para Perempuan Belia

Judul: Aku Perempuan
Penulis: Widiani Hartati, Arnette Harjanto, Agnes Cynthia Dewi
Penerbit: WRA Cipta
Halaman:124 hlm, 10 cm x 15 cm

Antologi Puisi dan Cerpen “Aku Perempuan”: Dari Para Perempuan Belia

Oleh Agnes Winarti*

“Kau tidak menulis Pram. Kau berak.” Terbayangkah bahwa seorang Pramudya Ananta Tur muda, pernah mendapat semprotan kalimat macam itu? Idrus, sang sastrawan ternama Indonesia, diakui oleh Pram sebagai guru besarnya, justru yang memuntahkan kalimat itu.

Kita yang menggemari dunia sastra pastinya tidak asing dengan nama besar Pramudya A. T, yang karya-karyanya dilarang terbit kala rezim Soeharto, namun kini tersohor ke seantero jagat bahkan diterbitkan dalam berbagai bahasa asing. Melihat kukuhnya eksistensi Opa Pram hingga detik kini, maka selayaknya semburan macam itu takkan mengecilkan hati siapapun gerangan yang punya antusiasme besar di dunia perangkaian kata dan kalimat alias dunia penulisan.

Tiga perempuan belia yang masih di awal bangku kuliahnya telah menerbitkan sebuah antologi puisi dan cerpen yang mereka pilihkan dari setumpukan buah karya mereka. Dengan terang benderang, tajuk Aku Perempuan mereka ambil sebagai judul yang memayungi antologi mereka ini. Ini merupakan judul yang diambil dari salah satu puisi termuat di dalamnya. Letupan-letupan emosi yang akrab dengan perempuan pun kemudian diketengahkan untuk menamai bab-bab pembagi dalam buku ini, meliputi Pedih, Api (mewakili kemarahan), Hampa, Rindu, Harap dan Cahaya (mewakili optimisme). Uniknya, beberapa puisi intermezzo disediakan untuk menjembatani antar-bab. Misalnya puisi Biarkan Aku Bicara mengawali bab Api yang menampilkan karya-karya mereka tentang letupan perasaan identik dengan amarah. Sementara itu, intermezzo yang berjudul Kalau Kau Muak hadir sebagai pembuka bab Harap dan Cahaya. Memang perlu diakui, meski puisi dan cerpen dalam buku ini disusun dari letupan-letupan negatif seperti kepedihan, amarah, kekosongan dan kerinduan menuju letupan yang menitikkan harapan dan optimisme, namun tetap saja buku ini pekat dengan suasana hati yang muram. Entahlah, mungkin pada kebanyakan penyair, momen terbaik menelurkan karya seperti puisi dan cerpen memang justru pada saat nuansa melankolis sedang melanda hati.

Tak dapat dipungkiri karya-karya dalam buku ini masih banyak mengambil tema-tema umum seperti keindahan alam, cinta, persahabatan dan pergulatan dalam diri pribadi masing-masing penulisnya. Eloknya, beberapa tema kepedulian sosial juga hadir. Misalnya dalam puisi Cinta Seorang Ayah, Widiani Hartati sang penulis menunjukkan kritik dan kejijikannya pada realitas kehidupan di mana ada bapak yang tega berbuat tak senonoh kepada darah dagingnya. Atau dalam cerpen $20 karya Arnette Harjanto yang berkisah tentang bagaimana seorang remaja putri dihadapkan pada pilihan mengambil sikap ikut atau melawan arus yang berkait dengan masalah mempertahankan moral atau mengutamakan materi. Cerpen Demi dan puisi Bencana dipersembahkan untuk rakyat di beberapa bagian Indonesia yang di tahun 2004 mengalami bencana tsunami dan gempa bumi. Kritik pada kinerja penguasa juga dilayangkan dalam salah satu cerpen yang berjudul SMS namun kurang eksplorasi lebih dalam, sehingga ujung-ujungnya hanya berkutat pada pergumulan kesedihan si pengisah dalam cerpen dengan dirinya sendiri.
Sedikit disayangkan, isi puisi Aku Perempuan yang dipakai sebagai tajuk buku di sampul depan ternyata kurang greget. Padahal greget itu seakan-akan dijanjikan dengan ditampilkannya frase ‘aku perempuan’ itu sendiri. Ternyata, penulis masih memandang ke-perempuan-annya sebagai kelemahan dengan pemakaian repetisi. Kodrat bereproduksi alias menjadi ‘ibu’ seolah jadi satu-satunya harapan seorang perempuan untuk menjalani hidupnya. Pendek kata, alih-alih menampilkan resistensi pada apa itu yang ‘digariskan’ sebagai kodrat perempuan, penulis justru kembali pada kodrat reproduksi itu, tak lebih tak kurang.

Beberapa salah ketik tetap ditemukan, namun tak sampai menggangu kenikmatan membaca. Sependapat dengan Maria D Adriana dari Kantor Berita Antara, “Kehadiran mereka mungkin belum menggoreskan pemandangan seindah pelangi di langit biru, tetapi setidaknya tumbuh bagai kuncup bunga yang siap memamerkan kelopak yang mempesona.”

Dan tepatlah apa yang disampaikan oleh novelis Maria A. Sardjono dalam mengakhiri pengantarnya untuk buku ini, “Memang, itu baru permulaan….Tetapi tanpa ada keberanian untuk memasuki awal permulaan, sudah pasti tidak ada satu katapun yang akan lahir dari ketiganya.” Jadi, kita tunggu masing-masing individu penyair nan belia ini untuk menelurkan karya-karya selanjutnya. Sampai jumpa lagi di dunia perangkaian kata! Kalian tidak berak. Kalian menulis.

*Freshgraduate of Mass Communication Major, FISIP UI, book and movie lovers, a member of Forum Penulis Agenda 18

Dimuat di rayakultura
Sunday, March 2, 2008
no image

Sepotong Memoar Assad

Beberapa malam lalu, sepasang seniman gitar menyajikan pengalaman bermusik terindah dalam kehidupan musik gitar klasik di Indonesia, mungkin. Nadanada brilian dan penuh virtuositas merasuki pendengar yang hadir. Rasanya sangsi, sepotong catatan kecil ini mampu mewakili perziarahan spiritual bermusik yang ditampilkan Duo Assad tadi malam.

Tidaklah berlebihan, atau pun melebihlebihkan, bila meragukan catatan kecil ini akan dibaca sampai habis, kalau kita sekalian menjadi saksi mata langsung akan suguhan musik penuh makna dari sepasang gitaris kakak beradik kenamaan, Sergio dan Odair Assad. Pasalnya, pengalaman religius macam itu harus dialami sendiri, tanpa mampu diwakili dengan medium apapun.

Tapi toh, rasanya tidak menjadi sempurna pengalaman menggauli musik semalaman bersama sang maestro tanpa mengawetkannya dalam sebuah catatan pendek. Katakanlah sebagai memoar kehidupan yang perlu dibingkai dalam guratan keabadian. Karena apa yang tidak tertulis hanya akan dimakan angin.

21 November 2007, Usmar Ismail Hall, Kuningan, menjadi saksi bisu akan penampilan Duo Assad yang untuk pertama kalinya mengadakan resital di Indonesia. Atas undangan dari Guitar Maestros Concert Series pimpinan gitaris Sudirman Leman, Sergio dan Odair menjanjikan sebuah jamuan musik yang memukau.

Sebagai nomor pembuka, karya tiga bagian – Rigaudon, Menuet, dan Le rappel des oiseaux – milik Jean-Phillipe Rameau, seorang komposer Prancis, menjadi pilihan duet yang melegenda itu. Tanpa tekanan untuk bermain sempurna, bagian demi bagian mereka lewati dengan mulus, tanpa kesalahan yang berarti. Dengar saja bagaimana pada bagian Rigaudon, yakni sebuah bagian yang membutuhkan pemenggalan kalimat yang jelas karena merupakan sebuah tarian Barok, dimainkan dengan nafas yang stabil dan teratur. Walau mirip dengan gaya Bourre, namun ritmik gaya Rigaudon lebih sederhana.

Menyusul kemudian karya Domenico Scarlatti dan Heitor Villa Lobos. Masingmasing dengan beberapa bagiannya. Penampilan pada lagu ini juga layak dipuji, walau nuansa yang dibangun belum cukup ‘panas’, mungkin dikarenakan akustik ruangan yang tidak optimal.

Sergio, sang kakak, mempunyai warna suara gitar yang lebih gelap, tenang, dan ritmis dibanding Odair, adiknya. Maka tak heran bila sepanjang resital ini, jalur melodi dijarah habis oleh Odair yang kecepatan jari dan intensitas nada yang dihasilkan tidak diragukan. Begitu pun pada karya 2 bagian yang ditulis Sergio, Eterna dan Tahhiyya li Ossoulina. Oleh keduanya, karya tersebut dibahasakan dengan amat puitik. Dengar saja bagaimana ketrampilan mereka berdua dalam mengolah musikalitas karya, hingga terbangun sebuah nuansa romansa dalam pemahaman kultur sekarang, Avant Garde. Lalu perlahan menggiring pada ketegangan yang memuncak pada dialog tanya jawab antar kedua gitar. Dan jeda.

Seusai jeda, karya Astor Piazzolla, Bandoneon dan Invierno porteno seakan menyihir seisi ruangan untuk kembali tekun memahami pesan musik yang ingin disampaikan. Bandoneon sendiri adalah nama sebuah alat musik yang menyerupai arkodeon. Di tangan Piazzolla, imitasi suara instrumen ini kembali dihidupkan pada permainan gitar. Kesan itu kemudian diperkuat lagi oleh irama Tango yang amat mendominasi karya komposer kelahiran 1921 di Argentina ini. Sesekali perubahan ritmik yang terjadi dengan cepat, serta alur melodi tegas dan pendekpendek yang tersusun, menyerupai permainan musisi Jazz yang sedang jam session.

Tak ketinggalan, untuk mencirikan identitas bangsanya, Duo Assad membawakan karya dari negerinya sendiri, Brazil. Tak pelak karya Antonio Carlos Jobim, seorang musisi legendaris Brazil, dimainkan dengan ruh Samba yang kental. Seakan ingin mewakili misi kesenian yang mereka emban. Karya ini pun sama memukaunya dengan penampilan sebelumnya. Ekspresi sebuah karya moderen yang amat brilian!

Sebelum membawakan encore, dua komposer yang karyanya dibawakan pada malam itu adalah Egberto Gismonti dan Radames Gnattalli. Dan sebuah aksi panggung yang paling ditunggu akhirnya dipentaskan: Sergio menaruh gitarnya, berdiri di belakang Odair yang duduk dengan gitarnya, kemudian Sergio membungkuk, dan mereka memainkan sebuah gitar dengan 4 buah tangan!

Fantastis! Dibutuhkan teknik yang amat tinggi untuk melakukan hal tersebut. Apalagi karya yang dibawakan sangat sulit, dan membutuhkan kecepatan dan ketepatan. Namun, duo yang sudah berpasangan lebih dari 25 tahun ini, tampil dengan amat magis. Persis dengan apa yang mereka sudah lakukan selama puluhan tahun. Jalan kehidupan bersama gitar yang mereka tempuh, dedikasi dan kecintaannya, dibalas dengan persahabatan indah dari gitar itu sendiri, serta semua pecinta permainan gitar klasik di seluruh dunia.

Keterkaguman penonton tidak cukup pada 1 lagu encore. Tepuk tangan panjang memaksa Sergio dan Odair naik kembali ke atas panggung dan menutup resital malam itu dengan sepotong karya yang amat manis. Dan entah, apa catatan ini mampu memberi pengalaman bermusik yang sama dahsyatnya ketimbang menyaksikan sendiri pesona kedua seniman besar itu. Rasanya tidak.

Dimuat di Majalah GONG Edisi Januari 2008
Saturday, March 1, 2008
no image

Jangan Abaikan Aku

Muka klimis, amboy klincongnya
Seragam licin disemprot wewangian
Ketika mereka melintas
Nyamuk, lalat tampak mundur teratur

Mulutku terbuka, tanpa sadar ludah ikut menetes
Mataku terpana dengan kemegahan mereka
Tapi air liur mereka terlempar
Terhempas tak sengaja ketika menatapku

Entah aku ini siapa ?
Rakyat Jelata atau Hewan Melata
Mengapa mereka selalu menyalak
Selalu memberiku peringatan

Jangan Begini
Jangan Begitu
Ini Salah
Itu juga Salah

Mereka terus menerus berteriak
Tanpa Jeda
Tanpa Spasi
Tanpa sempat aku menyela

Otakku mampet
Padahal tak kusumbat
Langkahku mati
Padahal kaki masih kuat berpijak

Bapak-Ibu yang di Koran, di televisi berkata
Jika orang sering diberi ucapan ‘JANGAN’
Daya kreatif orang jadi buntu
Akhirnya akan memberontak ketika terpojok

Betul atau tidak?
Entahlah…….
Sebenarnya aku ini pemberontak atau orang yang terhambat
Tapi mengapa aku diyakini mereka sebagai seorang Perusak

Aku tak tahu apa yang kuhancurkan
Andai benar aku penyebabnya
Aku enggan mengulanginya
Lalu apa yang harus kuperbuat ?

Kepada mereka inginku bertanya
Tapi mereka betah sekali melihat keatas
Aku yang terhimpit sesak semakin kerdil tak terlihat
Apa yang harus kulakukan ?

Aku tak boleh diam
Walau bibirku kelu, kaku, beku
Aku harus menyapa mereka yang kucintai, kukagumi
Jangan Abaikan Aku, rintihku lirih
no image

SMS

Malam makin larut. Aku masih saja berbaring diam di atas tempat tidurku. Tidak, aku tidak tidur. Kelopak mataku seolah malas menutup, malah membiarkan kedua manik mataku hadapi langit-langit kamar. Napas yang memburu memenuhi dadaku. Namun, udara yang kuhirup tampaknya tak mampu menyuplai oksigen sesuai kebutuhan otak. Sesak! Pusing!

Tubuh ini begitu lemas terasa. Ingin rasanya tangan kanan menggenggam tangan kiri, hanya untuk memastikan bahwa tulang-tulangku masih terikat erat pada tempatnya. Namun, udara malam telah melumpuhkanku. Rembulan menyedot habis energiku. Mungkin Rizal, temanku itu benar, manusia-serigala itu ada! Kau tahu kisah itu, bukan?! Manusia yang akan bertransformasi menjadi serigala di kala bulan purnama. Mungkin nenek moyangku adalah salah satu dari mahluk jadi-jadian itu. Buktinya, malam ini aku hanya dapat terbaring tanpa daya di atas kasurku dengan napas memburu dan pikiran yang kosong.

Tok, tok, tok,... . Lagi-lagi seseorang mengetuk pintu kamarku.
“To, ayo turun, yang lain nyariin kamu..., ga enak sama famili kita... .Mereka bawa oleh-oleh untukmu loh... .” Itu suara ibu. Ibu yang...ah..sudahlah, tak usah bicarakan ibu. Aku malas membicarakannya saat ini. Hh...Entah sudah berapa kali ibu mengetuk pintu kamarku malam ini, mencoba membujukku menebar senyum basa-basi pada keluarga besar kami. Tanggapanku? Aku? Masih saja terdiam, tak kuasa beranjak dari pembaringanku.

Apakah aku lumpuh? Tidak. Cacatkah aku? Tidak. Namun, aku kehilangan kekuatanku. Menggerakkan jari saja aku tidak mampu!

Langkah ibu menuruni tangga masih tertangkap jelas indra pendengaranku. Aku heran, bagaimana mungkin manusia-manusia dibawah sana itu mampu mengobral senyum dan tawa sepanjang hari ini. Dari mana mereka mendapatkan energi untuk itu? Apakah mereka semua menyodot energi mahluk lain seperti yang kulihat di film-film jagoan Jepang semasa kanak-kanak dulu? Apakah mereka - bukan rembulan - yang menyedot habis energi yang kukumpulkan dalam tidurku semalam kemarin ditambah sarapan dan makan siangku hari ini?

Entahlah! Pertanyaan-pertanyaan itu hanya semakin mendesak otakku yang sudah over-load. Aku ingin istirahat!

Kucoba kumpulkan sebanyak mungkin hawa untuk kualirkan melalui lubang hidung untuk masuk ke dalam paru-paru. Namun, semakin aku berusaha, dada ini semakit terasa sakit. Di satu sisi seolah memintaku memasukkan lebih banyak udara lagi, di sisi lain memaksaku menghembuskannya saat itu juga.

Tiba-tiba saja ada rasa asin yang mengganggu indra pencecapku; asin yang dibawa butiran air mata menggiring debu jalanan bercampur keringat yang melekat di wajahku. Akhirnya kelopak mataku bersedia turun dan mengatup. Tapi hanya sekejap; dalam hitungan detik pun tidak. Aku ingin mempertahankannya mengatup, namun aku tak dapat mengusir bayang-bayang yang menyertainya; bayang-bayang darah yang mengalir deras dari tubuh seorang kawan di saat ia meregang nyawa.

Seharusnya ia masih di sini bersamaku. Seharusnya ia mengiringi kami dengan petikkan basnya di panggung besok malam. Seharusnya ia menghilang dari benakku sejak tiga tahun yang lalu dan menyisakan kenangan manis saja bagi kami. Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin teror itu terulang kembali?

Kugerakkan sedikit kepalaku, coba hapus bayang-bayang imaji yang semakin nyata di langit-langit kamar. Seketika pandanganku tertumpu pada hp yang tadi meluncur begitu saja dari tanganku. Layar hp itu masih menunjukkan isi sms yang kuterima sore ini: “To, Gus udah pergi, To... .Tabrakan sama truk... . Dia pergi, To... Gus ga kuat nunggu Rizal ngambil duit di bank... .” Kini band kami kehilangan dua personilnya. Apa gunanya sebuah band tanpa basis dan gitaris? Padahal Gus bukanlah tipe pelanggar lalu lintas! Aku jadi ingin bertanya, kemana perginya para petugas lalu lintas ketika itu? Apakah mereka tengah menukar uang pajak dengan sepiring danging panggang? Ataukah mereka sibuk berebut recehan yang dilemparkan para kondektur bus pada preman halte yang menerikkan tujuan mereka untuk menarik penumpang?

Dada ini semakin sesak dan otak ini semakin mampat. Kemana slogan kepedulian dan pelayanan kasih yang dikumandangkan ketika pita peresmian rumah sakit dipotong pejabat setempat? Entah sejak kapan nyawa manusia tak lebih berharga dari lembaran kertas bercetak angka rupiah produksi BI. Dan ini bukan yang pertama kalinya.

Dimuat di Rayakultura
no image

Kamu Sama Gunung Meletus

Kamu bagi hidupku
dan gunung meletus bagi kehidupan,
adalah sama;
sama-sama menghancurkan sekaligus menciptakan.

Pengayaan
Empat baris diatas merupakan sari apa yang kupelajari dari Gunung Meletus dan Kamu. Namun, anatara Gunung Meletus dan Kamu, dimana persamaannya?

Bagiku, Gunung Meletus dan Kamu adalah sama; berdampak, baik negatif dan positif.

Bagi kehidupan, Gunung Meletus merupakan bencana. Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 menciptakan gelombang tsunami yang mencapai ketinggian 40 meter, menghapus 165 desa nelayan di Jawa dan Sumatra serta menewaskan 36.000 penduduk. Atau letusan Gunung Tambora pada April 1815 yang didaulat sebagai letusan paling ganas yang pernah tercatat dalam sejarah. Kabarnya letusan tersebut mampu menurunkan suhu bumi sebesar 3ºc dan menyebabkan beberapa bagian Eropa dan Amerika Utara mengalami “satu tahun tanpa musim panas”.

Kamu, sama seperti itu. Tak terhitung banyaknya waktu kugadaikan hanya untuk mengharapkanmu. Berapa energi yang habis hanya untuk menentukan “aku akan mendekatimu atau tidak”. Merasakan sesal yang mendalam saat tak berhasil menyampaikan perasaanku. Merasakan sedih ketika melihat Kamu pergi. Dan ketika tenggelam di samudera cinta tidak terbalas.

Tapi, Kamu juga menjadi berkah bagiku. Lihat saja, Kamu ibarat sungai yang membawakan inspirasi dan mengumpulkannya di lautan, dan aku—entah sambil berenang atau dari atas sampan—tinggal memungutinya. Dan berbaris tulisan, berbait lagu bisa terlahirkan. Terlebih, Kamu yang sempat beberapa waktu menjadi kompas penuntun jalanku, sehingga ku punya arah untuk dituju dan tak asal berjalan.

Sama juga, dibalik letusannya, Gunung Meletus pun menciptakan kehidupan. Materi-materi yang dimuntahkannya ke tanah, menyuburkan tanah tersebut dan memungkinkan berkembangnya hutan dan lahan pertanian. Mineral-mineral vulkanik; tembaga, emas, perak, dan timah, seringkali ditemukan diatas magma yang tersembunyi di dalam bumi. Terbentuknya pulau baru, dengan contoh paling terkenal adalah pulau Hawai. Dan karena efeknya yang mampu menurunkan suhu bumi, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat akan ada gunung yang akan meletus; demi mencegah pemanasan global.

Sumber Bacaan
Deskripsi letusan Gunung Krakatau
Deskripsi letusan Gunung Tambora
Dampak letusan gunung berapi
Dampak positif letusan gunung berapi

no image

Menyimak Kuartet Gesek

Satu per satu empat perempuan muda yang berbalutkan pakaian hitam keluar dari belakang panggung. Dengan menggendong senjata masing-masing, mereka berempat berdiri bejajar sambil tersenyum. Tanpa basa-basi mereka membungkuk memberi hormat, duduk, lalu meniupkan sepotong komposisi indah ke langit-langit gedung. Biar karya ini yang bicara tentang siapa kami. Mungkin itu maksud mereka.

BUAH karya Joseph Haydn (1732-1809) berjudul Quartet opus 74 no. 1 in C. Lewat komposisi inilah mereka memperkenalkan diri ke hadapan penonton yang berharap dijamu dengan sebuah sajian pertunjukkan musik yang berkualitas. Empat perempuan asal Inggris tersebut mensinergikan jiwa musik mereka dalam sebuah kelompok gesek, Iuventus String Quartet.

Pada 28 Januari 2008 malam di Goethe Haus, Jakarta Pusat, kuartet gesek yang terdiri dari Victoria Sayles, Rose Redgrave, Ruth Rogers, dan Katherine Jenkinson ini, memamerkan kepiawaian mereka dalam menyulam not demi not demi menghidupkan kembali nyawa musik yang tercipta berabad-abad lalu. Dengan nyaris sempurna, kuartet yang dibentuk pada tahun 2003 ini memulai resital pada malam itu dengan meninggalkan kesan takjub yang mendalam di raut para penonton. Tentunya lewat karya Haydn tadi.

Bagaimana tidak. Karya Haydn, komposer di jaman Klasik ini, dilantunkan dengan porsi yang sesuai dengan keharusannya. Yakni musik berstruktur monofonik yang simpel, tidak berlebihan. Intonasi yang ringan dan timbre cerah membungkus olah rasa mereka dalam menafsirkan karya tersebut. Kejelasan dialog tanya jawab antar instrumen pun turut menyumbang nilai estetik pada permainan.

Haydn, yang memang dikenal sebagai “Bapak Simfoni’, juga banyak menciptakan komposisi khusus untuk kuartet gesek. Ada ratusan karya jenis ini yang ia rampungkan selama hidupnya. Untuk karya simfoni saja, Haydn mencipta 104 buah. Musiknya yang sangat orisinil disebabkan sebagian hidupnya yang hanya menjadi musisi istana. Sehingga pengalaman musikalnya terisolasi dari gaya komposer lain yang sedang berkembang di jamannya.

Kuartet yang tersusun atas dua biola, satu biola alto, dan cello itu bermain dengan amat menyenangkan dan lincah. Dan dengan amat rileks, Iuventus menutup karya yang terdiri dari lima bagian ini – Allegro, Andantino grazioso, Menuet, Finale – dengan tempo yang amat cepat, namun tanpa memberi kesan karya tersebut memiliki teknik bermain yang amat tinggi dan kompleks.

Di sajian kedua, karya dari komposer besar Jerman, Ludwig van Beethoven (1770-1827) menjadi pilihan. Karya tersebut bertajuk Quartet opus 18 no. 1 in F. Karya ini mempunyai karakter yang berbeda jauh dengan sebelumnya. Dan dengan amat mendadak, nuansa klasik yang barusan usai digantikan dengan nuansa romantik yang ekspresif dan penuh elegi. Apalagi karya ini milik seorang komposer yang menjadi ikon penting yang menjembatani perubahan jaman Klasik ke jaman Romantik. Yang mana Beethoven sendiri adalah seorang yang amat penggelisah, pemarah, urakan, tapi sering kesepian, penyayang, dan jenius luar biasa. Walau ia pernah berguru pada Haydn, tapi musiknya sungguh berbeda. Ia mandiri. Tidak mengekor siapapun.

Di tangan empat perempuan pemusik ini, dengan amat emosional, mereka mengedepankan sentuhan-sentuhan liris pada melodi. Dengan amat melodius, tiap instrumen yang kebagian jatah melodi membuat miris perasaan yang mendengarkan. Kadang terdengar elegan dan jenius, karakter Beethoven. Atau pada bagian lain, justru terdengar tenggelam dalam amarah atau tangis yang tersedu-sedu.

Dengar saja pada bagian ketiga, Scherzo & Trio. Sebuah babak yang dramatik dan dengan intensitas volume suara yang fluktuatif. Ada gemuruh suara rendah dari cello yang galak yang selalu mengawal dengan setia, atau kadang sebagai solis. Sungguh ramai dan bernyawa.

Namun, pada karya empat bagian ini – Adagio con brio, Adagio affettuoso ed appassionato, Scherzo & Trio, Allegro – stamina mereka terlihat menurun. Tidak serapih karya pertama. Kedodoran banyak terlihat pada melodi-melodi cepat yang dibawakan biola 1 (Ruth Rogers) dan biola 2 (Katherine Jenkinson). Artikulasi yang sedikit kabur seakan mendengar sebuah gumaman, bukan ucapan. Tapi itu pun tak mengurangi rasa puasnya penonton pada penampilan mereka yang diselenggarakan oleh Chamber Music Series ini.

Berikutnya adalah karya yang berjudul Piano Quintet opus 81 yang dibawakan usai istirahat. Karya dari zaman Romantik ini adalah milik Antonin Dvorak (1841-1904), komposer asal Kroasia. Dvorak adalah komponis yang terkenal dengan komposisinya untuk simfoni dan concerto.

Penampilan pada karya yang ketiga ini agak berbeda. Kali ini, dengan formasi kuintet, mereka ditemani oleh pianis, Martin Cousin. Juga dalam empat bagian – Allegro ma non tanto, Andante con moto, Scherzo Furiant, Finale – karya ini dibuka dengan solo melodi pada cello sebagai tema lagu yang diiringi leh piano. Kemudian, suasana yang awalnya kalem, mendadak dikejutkan oleh masuknya ketiga instrumen lain yang bertempo cepat dan garang. Lalu berlanjut pada pengembangan dari tema di awal lagu oleh cello.

Lewat karya Dvorak ini, permainan kuintet mereka mencapai klimaks dengan memuaskan. Virtuositas kelimanya terlihat begitu menakjubkan. Karakter lagu yang dibawakan dengan rubato semakin mengentalkan semangat Romantik yang diemban. Sungguh sebuah sajian yang memaksa penonton untuk memberi tepuk tangan panjang meminta Encore. Namun Encore yang dinanti tak kunjung jua. Dan membiarkan penonton pulang dengan beban ingin membayar utang untuk menyaksikan pengalaman musik sejenis. Sekaliber malam itu. Akankah musisi Indonesia?

Diterbitkan di media Sinar Harapan pada 2 pebruari 2008
no image

Sekilas Tentang Agenda 18

Apa itu Agenda 18?

Agenda 18 adalah suatu kelompok penulis muda yang berbasis katolik dan berwawasan plural. Kelompok ini terdiri dari sekumpulan penulis-penulis muda, baik pemula maupun yang sudah malang-melintang menghiasi kolom-kolom media massa. Berangkat dari semangat bersama untuk terus mengembangkan kemampuan menulis, kelompok ini terus-menerus menjadi wadah segala macam pertukaran pengalaman dan ilmu-ilmu terkhusus dalam bidang penulisan.

Diawali dengan suatu keprihatinan akan Indonesia, tanah air kita tercinta yang penuh dengan keragaman didalamnya. Saat ini, kekayaan budaya dan kehidupan berbagai komunitas di bangsa kita mulai dilihat dengan penerapan cara pandang tunggal yang dapat berujung pada fanatisme sempit dan mengganggu kerukunan hidup bersama. Hal ini sangat kontradiktif mengingat kondisi bangsa kita membutuhkan adanya semangat pluralitas untuk membangun kehidupan masyarakat yang sehat dan dinamis.

Persoalan tersebut dipandang perlu diangkat ke permukaan, terutama lewat media massa. Maka itu digagaslah pembentukan komunitas penulis untuk terus mengkampanyekan pluralitas diantara bangsa ini.

Kelompok Agenda 18 sendiri bermula dari sebuah pertemuan di awal tahun 2003 dimana sejumlah wartawan Katolik bertemu dengan Romo Alex Wijoyo SJ, sekretaris eksekutif Komisi Komunikasi Sosial, KWI, dan berbincang-bincang tentang hal apa yang bisa dilakukan sebagai suatu kelompok. Terlontarlah gagasan untuk menumbuhkan para penulis muda, sebagai suatu respon dari kondisi dimana para penulis Katolik tidak lagi banyak muncul ke permukaan, dan untuk menghasilkan itu diperlukan usaha sistematis dan berjangka panjang untuk mencapai tujuan tersebut.

Sampai saat ini Agenda 18 sudah melakukan 3 kali pelatihan penulisan dasar yang menghasilkan 3 angkatan, yaitu : 2003, 2004 dan 2007. Setiap orang yang telah mengikuti pelatihan dianggap sah menjadi bagian dari kelompok ini. Kegiatan pelatihan sendiri tidak hanya berhenti sampai disana, setelah pelatihan biasanya diadakan pertemuan regular dengan jangka waktu tertentu untuk bertukar pengalaman sarta menjaga semangat untuk terus menulis. Pelatihan ini sendiri direncanakan akan diadakan secara berkala.

Harapannya dengan kegiatan yang terarah dan sistematis, maka akan tumbuh sejumlah penulis muda yang memiliki kepekaan sosial, kemampuan menulis yang baik, serta mengemukakan gagasan kepada publik lewat tulisan-tulisannya dalam media massa umum.

Copyright © agenda 18 All Right Reserved