New Post

Rss

Saturday, May 17, 2008
no image

Hadiahmu Untukku di Hari Ulang Tahunmu

Telah dekat hari ulang tahunmu, Pacarku. Tentu saja aku akan menyiapkan sebuah hadiah untukmu. Ah, inilah saat-saat sulit yang telah menjadi konsumsi kecemasan otakku jauh-jauh hari sebelumnya. Aku termasuk jenis laki-laki yang tak bisa memilihkan sebuah hadiah dengan tepat. Memang, aku mengenal beraneka pernak-pernik hadiah; kue cokelat, sebuket bunga, selingkar cincin, kalung, bandana untuk rambutmu yang terurai, arloji mungil, boneka lucu, dan mungkin sehelai baju. Tetapi, pengetahuanku tentang mereka hanya berupa setarikan asap rokok saja, bukan sehisapan sebatang rokok.

Ada sebuah benda yang begitu kukenal. Kamu telah lama tahu tentang itu dan sering juga mengomel karenanya; buku. Bukulah satu-satunya benda yang sangat kukenal lekak-lekuknya, saat ini.

“Kamu kok cuma mikirin buku mulu sih? Emangnya apa aja yang diberikan buku buat kamu; selain nilai test jelek, uang saku cepat habis, tak pernah traktir. Kamu make kacamata kan karena buku juga? Aku heran sama kamu! Hu, begitu bangganya dengan sebutan Predator Buku.”

Yah… begitulah, Sayang. Kamu tahu, mungkin cuma bukulah yang sangat bisa kupahami. Dari aroma buku mana yang paling enak dibaui, rasanya yang selezat masakan ibu tercinta, warnanya yang menarik, harga yang cocok, tempat-tempat terterang sampai paling tersembunyi yang bisa didatangi untuk mencarinya, sampai pada singgasananya di kamar pun (tentang singgasana ini, aku sudah membayangkannya; buku yang akan kuberikan sebagai hadiah buatmu, harus kamu letakkan di sudut utara kamarmu, tepat di dalam pelukan boneka beruang kesayanganmu) aku ahli merancangnya.

***
Hari ulang tahunmu. Kita bersepakat tanpa kata terucap, ber-candle light dinner di sebuah restoran di pinggir Margonda Raya. Restoran ini punya dua ruangan berbeda. Yang satu dibatasi tembok-tembok, sedangkan yang lainnya hanya dipagari pagar kayu setinggi pinggang kita. Dan tentu saja, yang kedua menjadi pilihan kita.

Pengunjung tidak ramai benar, malam ini. Maklum saja, hari ini bukan akhir pekan; waktu yang tepat bagi masyarakat pekerja merayakan sepekan kerja mereka. Hingga, kita pun bisa dengan leluasa memilih meja terujung. Di bawah kita, sejauh mata memandang, terlihat pohon-pohon mulai menghitam hijaunya oleh persetubuhan waktu dan kelam. Di antara hijau yang menghitam itu, terlihat pendar kekuningan dan putih dari lelampu yang mulai dinyalakan. Petanda, penghuni kompleks perumahan Depok Indah mulai membenah diri menyambut malam. Dan dari ketinggian, kita terpesona oleh kilau getar kehidupan di bawah sana.

Inilah pemandangan indah yang jarang kita temui. Maklum, hari-hari kita selalu dipenuhi dengan sumpeknya perkampungan Jakarta, yang terkadang membuat kita rindu untuk mengunci kamar, lalu berdua saja kita habiskan waktu seharian.

“Ah, serasa di puncak,” katamu diiringi senyum yang selalu membuatku pengen tersenyum seribu kali.

Kamu memesan menu spesial yang disajikan restoran ini. Tentu saja aku hanya bisa mengekor pesananmu (sejak kapan sih aku bisa menjadi seorang pemilih menu makanan yang handal?).

Aku memperhatikan gemulai tanganmu yang menyumpit mie dari mangkok. Lalu, perhatianku
beralih pada tarian dua belah bibirmu yang menjepit mie. Kamu menelannya dengan menggerakkan kedua ujung bibirmu ke dalam, mendekati gigi. Ah, pasti kamu tak sadar, bibirmu jadi begitu enak untuk dipandang saat ini.

Kontinyu! Gerakan tangan dan bibirmu terus berulang. Memenjara perhatianku. Membuat pesananku cuma bengong menunggu giliran untuk dicicipi.

Ujung-ujung rambutmu jatuh disamping leher, menyentuh pundak bajumu yang berwarna jingga. Ada juga beberapa helainya menghiasi atas dadamu yang halus, kuning keputihan. Terkadang ujung rambutmu yang menyebarkan wangi tetumbuhan, bergerak-gerak oleh sapuan angin.

Aktifitas memakan miemu berhenti mendadak. Kamu pandangi aku.

“Kenapa mienya nggag dimakan?” katamu.

“Aku sedang berdoa, Tri. Melantumkan seberkas harapan tentang kita, yang mungkin bila kuucapkan dihadapanmu, kamu akan mencapku ‘gombal’. Yah sudah, aku ucapkan itu di hadapan Tuhan saja. Setidak-tidaknya — bila Ia pun menilaiku gombal — suara-Nya kan tak bisa kudengar!?”

Kamu menggelengkan kepala dengan halus, ditimpali sekilas senyum. Aku bisa menebak, apa kata hatimu bila menggeleng dan tersenyum sekilas itu; “dasar gila!”. Tersenyum lagi dan melanjutkan memakan miemu.

Tak banyak kata terucap dariku hari ini. Kita sudah jalan bareng selama dua tahun. Tetapi kebersamaan kita tetap seperti ini-ini saja. Untuk itu, aku harus berterima kasih padamu. Kamu telah menerimaku apa adanya dan tak pernah ingin untuk merubahnya. Itulah penilaianku! Mungkin penilaian orang lain beda. Atau perasaanmu pun beda. Mungkin juga penilaianku salah, tak sesuai keadaan sebenarnya. Bisa jadi, kamu sering berucap kekesalan tentangku di forum-forum curhatmu. Mungkin kamu juga punya pacar lain, selain aku?! Bisa saja bukan?

Ah, persetanlah dengan kemungkinan-kemungkinan-kemungkinan itu. Yang penting, engkau selalu hadir dengan kesempurnaanmu dalam hati dan pikiranku. Persetan dengan syak wasangka, pandangan orang lain, persetan pula dengan kenyataan-kenyataan lainnya, bahkan persetan pula dengan perasaanmu yang mungkin berbeda dengan penilaianku. Bukankah kamu yang ada di dalam hati dan pikiranku adalah realitas juga untuk diriku dan untuk sebuah dunia kecilku?

***

Tahun lalu, saat ultahmu yang kedelapan belas, aku menghadiahkanmu sebuah boneka kelinci. Sekarang entah di mana boneka itu. Aku tak pernah bertanya tentangnya lagi, kamu pun tak pernah berceritera lagi tentang boneka kelinci yang kubeli di Blok M itu.

Boneka itu aku beli setelah terlebih dahulu berkonsultasi pada seorang temanku. Ia memang telah terkenal dengan kisah-kisah cintanya yang mendebar-debarkan. Maka, sering ia dijadikan tempat berkonsultasi cinta oleh anggota geng kami. Jadi, boneka itu bukan hadiah dariku untukmu saja. Melainkan hadiah dari aku dan temanku untukmu.
Tahun ini aku tak mau terus-menerus mematikan inderaku. Aku tak mau lagi bertanya pada orang lain. Aku bertekad membeli sebuah hadiah untukmu yang dipilih hati dan pikiranku sendiri tanpa berkonsultasi dengan orang lain atau setelah repot membolak-balik buku-buku petunjuk bercinta.

Bergentayanganlah aku di beberapa mall, bolak-balik di counter-counter pernak-pernik hadiah, mondar-mandir di eskalator, nongkrong di lift…. Namun sampai kaki ini penat dan tubuh ini merinding lemas, aku belum menemukan hadiah yang cocok untukmu.

Malah kudapati diriku sedang asyik melihat-lihat buku yang terpajang di rak-rak sebuah toko buku kecil. Aku betul-betul capek waktu itu, Sayang. Aku ingin mengaso sejenak; membaui aroma buku di sekitarku, membersihkan mataku dengan beraneka warna gambar sampul buku.

Aku mulai mengambil buku itu satu-persatu, sebuah kebiasaan yang tak pernah bisa dikekang. Kubaca! Kuhabiskan sejamku di sana. Terhanyut dalam ceritera, mengunjungi tempat-tempat terjauh dari dunia, pengembaraan sukmaku mengasyik saat itu. City of Love and Ashes bawa aku mengunjungi belantara cinta di Mesir, kala perang, kala perjuangan bertubrukan dengan keinginan diri. “Buku bagus,” bisik hati kecilku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku pun membeli buku itu. Dan hati langsung berkata; inilah hadiah untukmu.

Yah, menurut orang kebanyakan, buku adalah sebuah hadiah yang paling netral. Tak bisa mewakili perasaan sang pemberi. Menurutku mereka salah. Dengan memberimu buku ini, aku berharap (mungkin sebuah harapan yang teramat muluk) kamu akan selalu setia bersamaku, walau hal itu akan membawamu pada beberapa konsekuensi hidup yang sangat tak menyenangkan.

***

“Mana hadiahnya??” Kata-katamu yang selalu manja, pasti akan menghentikan segala lamunan, pengembaraan sukma, dan segala aktifitas berpikir otakku. Yah, kamu selalu mampu membawaku kembali ke bumi yang real, entah semabuk apa aku dengan segala alkohol otak ini.

Ku keluarkan buku itu dari tasku. Tak ada sampul kertas kado atau pita merah muda. Dengan hati yang sedikit cemas dan tangan yang bergetar, kuberikan buku itu padamu. Kau menerimanya (tentu dibarengi senyum indahmu)! Ingin kulayangkan juga hadiah kecupan tulus untukmu, wakil dari pijar-pijar tak bernamaku. Lagi-lagi, peraturan darimu dan keengganan melanggar peraturan itu, menghentikanku. Ah, basi! Tak ada keromantisan apa-apa! Pacaran macam apa ini? Hatiku berumpat. Tapi kulihat kamu, asyik-asyik saja. Seakan-akan telah memaklumi segala kekurangan yang harus kita terima. Misteri apa lagi yang kamu sembunyikan?

Hari beranjak ke jam setengah delapan malam. Dan kita harus pulang kira-kira setengah jam lagi. Itu peraturan yang kamu buat kira-kira sembilan bulan yang lalu. Saat itu, aku begitu menyesal telah memacarimu. Ingin kuputuskan hubungan kita saat itu juga. Kau tak memberi kebebasan dan kesempatan untuk nakalku beraksi. Tapi, sekali lagi senyummu, sikapmu, parasmu, rambutmu, kulitmu, kukumu, matamu, dan segala-mu lainnya, memborgol ide gilaku.

Kita menjalani waktu dengan berpegang pada peraturan-peraturanmu. Lambat laun aku jadi mengerti. Pagar yang kamu buat adalah pagar yang bakalan mengajari “nakal” lain yang timbul dari pijar-pijar perkelahian hati dan pikiranku. Pijar-pijar seperti ini, pasti telah meracuni banyak ceritera hidup sebelum ceritera hidup kita. Sehingga, janganlah heran bila ia punya banyak nama dan penggambaran. Karena dalam sebuah periode kehidupan, selalu akan ada segelintir orang yang merelakan waktunya untuk menyepi dan menghayati pijar-pijar ini secara mendalam dan utuh. Merekalah para ‘tukang kata’ yang selalu menempuh jalan yang sunyi, sambil mengkreasikan beraneka rupa ungkapan jiwa!

In My Place dari Cold Play, terdengar dari loud speaker yang ada di dinding dan tongkat penyangga atap rumah makan.

Apakah mereka yang bekerja di tempat ini punya pengetahuan Bahasa Inggris yang terbatas, sehingga lagu itulah yang diputar di malam yang butuh keromantisan ini?

Aha, bisa jadi di antara mereka ada yang sedang berkisah cinta juga. Mungkin kisah yang tak kesampaian? Maka ia memutar lagu penantian itu, sekedar untuk menguatkan komitmen cintanya atau untuk meruntuhkan kepongahan orang yang ditaksirnya. Atau mungkin sebagai pelarian perasaan?

Bukankah sebuah lagu kadang-kadang bisa membuat kita meloncat-loncat, memelintir-pelintir kepala, mengacung-acungkan tangan, berteriak dengan suara keras semampu kita, membuat kita tertidur dengan enak? Lantaran melodi dan syairnya mewakili sepenggal pengalaman hidup kita. Tetapi, tentu saja tak ada satu lagu pun yang sanggup menuntaskan sebuah kenangan hidup kita dalam beberapa menit durasinya. Karena itulah, kita masih saja memburu lagu-lagu baru untuk memperbanyak koleksi hiburan jiwa kita.

***

Aku menggandengmu ke kost-kostanmu. Sebuah Suzuki Carry merah kecoklatan diparkir di dekat pintu pagarnya. Kamu buka pintu pagar! Aku beranjak hendak masuk bersamamu. Bukankah inti perayaan ultahmu ada di kamar nomor 11, lantai I, bangunan ini? Kamu pandangi sekilas Suzuki Carry itu.

Kamu bersikeras menahanku untuk tidak masuk. Bagaimana mungkin, Sayang? Aku belum memberi hadiah terindah untukmu. Maka, aku bersikeras untuk ikut masuk.

“Hai, ada tamu tuh. Udah dari tadi nunggunya.” Kata temanmu padamu, sambil memamerkan sekilas senyum yang tampak tak cocok untuk dipelototi.

“Kamu langsung pulang aja, sekarang. Besok kan ada test!! Aku lagi ditunggu tamu tuh!” Katamu, lalu langsung masuk dan menutup pintu pagar.

Aku berbalik! Melangkah menyusuri sepi gang. “Ah, hadiahmu untukku di hari ulang tahunmu, begitu tak menyenangkan!!”

Palmeriam, Oktober 2004

no image

Dari Sebuah Lukisan Udara

Para tualang tolong dengarkan;
akankah kalian tempuh sunyi
alam sempurna di malam purba
pula pagi sang embun sulung?

Jejak-jejak tercipta lantas
menghilang
adalah kisah-kisah yang sayang
diabaikan.
Jejak-jejak tercipta kadang
membekas
hanya kilasan rasa; panas dan
dingin.
Para tualang tolong dengarkan;
mendatangi negeri mimpi, sendiri menenun impian
mengabarkan hidup pada debu dan kayu
pendengarmu bisu beku?
Kisah-kisah keluh di ingatan
mengalir lintas lidah menyentil hati lapar,
menyambar kilat-kilat angan
kadang mabuk kemabukan kadang... ah
sudahlah.
Wahai pengembara, teruslah
berjalan.
Walau jejak bukan abadi pun
sempurna.
Namun setidaknya cipta lukisan
udara,
dengan debu peleset alas kakimu!

September 2006

*Dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu 11/5/08
no image

Buku Harian

Segala yang tercatat
akan membekas
Segala yang membekas
akan terkenang

Dedaunan kering luruh
dan berkecipak
di setapak
Dentangdenting botol yang menyapa malam
dunia temaram
Dendang kecil gagak di pucuk
cemara
darah membara
Tak'kan terulang
Tak'kan terulang
Tak'kan terulang

17/7/2006

*Dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu 11/5/08
no image

Bayangan

Betapa cintanya sang bayangan
Pada tubuh
Selalu ia ada di sana,
"kehendaknya"
Menemani tubuh

Betapa cintanya sang bayangan
Pada tubuh
Ia selalu "ingin" ada bersama tubuh
Kapan dan di mana saja
Betapa cintanya bayangan
Pada tubuh
Walau ia "tahu" tubuh tak "tahu"
Ia "ingin"
Betapa cintanya sang bayangan
pada tubuh
Gerlap gemerlap cahaya ia pun berubah-ubah
Ke kiri ke kanan selatan utara berputar bagaikan gasing
Namun kaki tubuh tumpuan
bayangan
Betapa cintanya sang bayangan
pada tubuh
Walau ia tahu, ya bayangan tahu
Tubuh tak pernah memandang ke bawah
Mengajaknya tertawa. Walau ia tahu, ya
Bayangan tahu tubuh tak selalu tahu ia ada.
Ketika gelap tiba, dan matamu tak mungkin melihatnya
Bayangan selalu "ingin" ada di sana,
"ingin" beserta tubuh
Hingga tiba di bawah sinar lampu
Betapa cintanya sang bayangan
Pada tubuh
Dan ia tahu, ia harus pergi
Suatu hari.

Margonda, 28/11/07

*Dimuat di Suara Pembaruan edisi Minggu 11/5/08.
no image

Pasrah

lelah hati tenggelam dalam air
dingin angin menusuk pikiran buruk
deras air basahi emosiku

asap-asap nikmat memenuhi paru-paruku
mengulang hari yang tak pernah bersahabat
hanya di temani tujuh - sembilan nyawa yang memerhati
dengan alunan suara yang memecah hati
terdiam darah mengalir deras
oh Tuhan ku tak sampai menjalani
semua cobaan yang Kau jatuhkan
menanti panggilan dari Mu
ampuni jahatku...
maafkan dosaku..
no image

Waktu Itu..

waktu dia cinta...semua indah
setiap lembar waktu kita ukir
air mata mu selalu ku usap
tawa mu selalu ku temani
setiap musim kita jalani
dalam cinta kehangatan dan kasih

semuanya milik kekuatan cinta kita
kesepian mendekati mu
dengan senyum ku buat nyaman dirimu
waktu dia cinta...
waktu terus berlari..
kau mulai menjauh..
ku terdiam sendiri..
tetap menunggu kau kembali..
kata kau dulu "aku selalu cinta.."
tak pernah kulupa..
saat bertemu kau lagi yang bersama dirinya..
kau tersenyum seperti dulu
seakan cinta seperti dulu...
waktu dia cinta...
Friday, May 2, 2008
no image

Dua Bulan Mencari Kode

Setelah mengalami perjuangan yang cukup berat dan melelahkan, akhirnya Saya berhasil memecahkan masalah: bagaimana memasukkan foto dari Flickr ke dalam blog ini?

Seperti ini kisahnya..

Saya klik salah satu folder album foto Agenda 18, lalu klik satu salah satu fotonya. Setelah muncul foto yang diinginkan, cari pilihan "SHARE THIS" di sebelah kanan agak atas layar komputer Anda (pilihan ini hanya muncul jika Anda adalah si empunya akun Flickr). Lalu jika Anda klik "SHARE THIS" tadi, akan muncul sebuah kotak dengan beberapa pilihan: "SHARE THIS PHOTO","GRAB THE LINK", "EMBED IT",dan "BLOG IT".

Instingtif, Saya klik pilihan "EMBED IT". Ternyata benar! Kode-kode HTML yang Saya butuhkan untuk bisa menampilkan foto di blog ini, memang ada di situ. Pilihan lainnya secepatnya Saya tinggalkan. Segera kode tersebut Saya Copy, kemudian Paste ke dalam salah satu Widget yang tersedia. Dan abrakadabra, beberapa foto terpilih pun muncul di bagian bawah blog ini!

Pemberitahuan bagi Anda semua, Saya sudah mencari kode HTML tersebut selama hampir 2 bulan! Bayangkan, 2 bulan! Mungkin sekarang Anda bisa membayangkan betapa sumringahnya Saya ketika berhasil menemukan kode itu. Leganya :)

Sekarang, Saya siap jika ada yang minta bantuan memecahkan masalah serupa.
no image

Dari Hujan untuk Sepotong Ayam

Siang ini, Jakarta masih saja bersimbahkan air dari langit. Sedari dini hari hujan tak juga berhenti mengguyur adil dimana-mana. Memang aneh “mood” langit jaman sekarang. Kalau dulu Ia punya siklus “menstruasi” teratur, 6 bulan basah 6 bulan kering. Akhir-akhir ini “mood”nya seenak hati, semenit cerah berganti detik basah.

Orang-orang perkantoran memandang nanar keluar jendela, bergantian menatap langit dan jalanan yang becek. Jam makan siang sudah tiba, namun tak ada yang bisa keluar mengisi perut yang cadangan makanannya telah habis terkuras oleh otak. Tak cukup itu, banyak mulut berkomat-kamit menggerutu dan memaki si langit, “Ga’ bisa makan ke Mal seberang deh!!”. Tapi dibalik gerutuan ada pula yang memanjatkan doa, semoga langit berbaik hati berhenti menangis agar sore nanti mereka bisa pulang tanpa menggulung celana dan menjinjing sepatunya.

Di luar gedung-gedung arogan, seorang anak berlarian kecil di tengah rintik hujan. Tangannya yang kecil memegang sebuah payung golf berukuran hampir setengah kali lebih besar dari tubuhnya. Bajunya tipis dan menjadi hampir transparan serupa kulit terkena basahan air, menempel dan memperlihatkan lekukan tulang pundak yang menonjol. Kakinya jenjang tak indah, serupa bangau, kurus, panjang.. namun cekatan berlari di genangan air. Ia sudah mandi seharian dan tak kunjung kering jua.

Semalam, ia mengamati langit dari balik lubang-lubang seng yang menudunginya. Lubang tersebut makin lama makin melebar, memberi celah bagi si anak untuk merasakan sensasi meneropong angkasa saat gelap. Dia berpikiran, “malam ini awan begitu mendung, gelap sekali! Besok pasti hujan…”. Si anak senang bukan kepalang, membayangkan ia tidak usah datang ke “sekolah-sekolahan” di kolong jembatan sebelah. Dia segera menyiapkan payung andalan untuk menjajakan jasanya. Sebuah payung golf, pemberian seorang sahabat yang hilang entah ke mana.

---

“Bletak!”. Sebuah kerikil menghantam kepala seorang anak yang sedang mengorek-ngorek tanah. Sontak dia menoleh sembari meringis kesakitan. Dia mencari asal lemparan kerikil namun tak menemukan siapa-siapa kecuali seorang anak perempuan kumal memperlihatkan gigi-giginya yang setengah putih setengah hitam. Ia berteriak “ Sakit tau!!”. Si anak perempuan tertawa sambil berlari menjauh dan menghilang di balik lusinan gubuk kolong tol.

Si anak laki-laki kembali asyik mengorek tanah. “ Lagi ngapain sih?”, tiba-tiba anak perempuan itu sudah berjongkok di sampingnya. Lelaki kecil itu kaget, setengah marah ia mendorong anak perempuan kecil sampai jatuh terduduk “ Ngagetin aja! Muncul tiba-tiba kaya setan!!” dan yang dimarahi, kembali hanya nyengir.
“Marni..”, si anak perempuan mengulurkan tangannya, si anak lelaki melengos dan kembali mengorek tanah.
“Nama kamu siapa? Aku Marni..”, yang ditanya masih saja diam asyik sendiri. Marni cemberut, dan seketika dia berteriak “BUDEKKKKK!!!”. Si anak laki-laki terloncat kemudian berdiri, “Iya!!! Gue tau loe Marni! Terus kenapa?”. Marni nyengir lagi, ia ikut berdiri dan mengulurkan tangannya lagi, “ Kamu siapa?”.
“ Didit,” si anak lelaki menjawab ketus kemudian berjalan meninggalkan Marni, mencari tempat baru untuk dikorek-korek. Marni mengikuti di belakangnya, “ Kamu lagi apa sih dari tadi?”.
Didit diam, dia merasa sangat terganggu karna kehadiran bocah cerewet ini. “ Bisa ga sih loe ga ngikutin gue? Ikutin aja tuh anak ayam sama ibunya!!”, Marni menoleh melihat kumpulan ayam yang sedang mengais tanah.
“ Tapi aku kan bukan ayam. Aku kan sama kaya kamu..”
“ Emang siapa yang bilang loe tuh ayam?! Bego banget sih jadi orang!” Didit tidak habis pikir kenapa hari ini dia tidak bisa mengorek tanah dengan tenang seperti hari biasanya.
“ Tadi kan kamu suruh aku main sama ayam..”, Marni menatap Didit dengan polos. “Bego banget sih loe!!” Didit jengkel dan mulai ingin memukul gadis kecil ini, tapi didit ingat Ibunya pernah bilang “ Jangan pernah memukul perempuan, nak...Dosa!”.
Akhirnya Didit mengalah, Ia membiarkan si anak perempuan ikut mengorek tanah bersamanya. Walaupun dalam hati Didit tak yakin, apa Marni tahu tujuan dia mengorek tanah.

Sejak hari itu, setiap hari Marni selalu ada di samping Didit, entah untuk mengorek tanah ataupun hanya sekedar bercerita. Lambat laun Didit mengerti, Marni adalah orang baru di lingkungan tempatnya tinggal “Pantas ia terus mengikutiku..” batin Didit. Sebelumnya Marni bukan warga kolong tol seperti dirinya, Ia bercerita bahwa dulu Marni dan Keluarganya tinggal di sebuah perumahan. Tetapi suatu hari kebakaran hebat mengantarkan mereka ke tempat kumuh seperti sekarang ini. Ayah Marni meninggal seketika saat kebakaran dan yang tersisa hanya Marni, Kakak, serta Ibunya. Ibu Marni berjualan makanan untuk menyambung hidup mereka sekeluarga.

Didit berpikir, “ Betapa enaknya hidup Marni dulu…Paling tidak dia sempat merasakan jadi orang yang punya segala..”. Didit jengah dengan hidupnya yang selalu susah dari waktu ke waktu. Sejak bayi sampai umurnya sekarang yang ia punya hanya ibu dan rumah kolong tolnya. Entah kemana Ayahnya, Didit tidak mau tahu seperti ibunya tidak pernah menceritakannya. Ibunya selalu sibuk memunguti plastik-plastik untuk dijual kepada para penadah setiap harinya. Itu usaha satu-satunya untuk bisa memberi makan Didit selama 10 tahun ini.

Marni tidak hanya menemani Didit mengorek tanah, Ia juga mengenalkan Didit pada berbagai hal. Didit kagum dan maklum, mungkin karena dulu Marni sempat sekolah jadi Ia banyak tahu. Suatu hari kala hujan, sepasang anak kecil itu hanya duduk di pinggiran salah satu gubuk kolong tol. Si anak lelaki kesal karena hujan membuatnya tak bisa mengorek tanah dan si anak perempuan terus saja berbicara tentang apa pun. Marni mengerti Didit kesal karna hujan, “ Dit, ngojek payung yuk!”. Didit diam tidak tertarik.
“Ayo, nanti bisa dapet uang. Terus uangnya bisa buat beli apaaaa ajaaa…”, Marni membuat lingkaran besar dengan kedua tangannya. “ Ngojek payung kan gampang Dit, tinggal minjemin payung ke om-om atau tante-tante gitu.. Terus kita dapet uang deh!”.
“Ga mau! Ga enak! Enakan ngorek tanah!”, Jawab Didit ketus.
“ Emang kamu ngorek tanah setiap hari buat apa sih?”
“ Buat bantuin anak ayam cari makan…jadi mereka bisa gede badannya.”
“ Terus?”
“ Ya, kalo udah gede ditangkep terus dimakan…”
“ Hahahaa…Jadi kamu mau makan ayam?”
“ Iya…”, jawab Didit setengah tertunduk. Ia malu, ingat bahwa dulu pasti Marni sering makan Ayam. Sedangkan Ia jarang sekali makan Ayam, pernah hanya sesekali, tidak sampai jumlah jari di satu tangan. Padahal daging ayam enak, tapi sayang ibu lebih doyan nasi campur garam atau kecap, sesekali tambah tempe, tahu atau telor. Kata Ibu, daging ayam mahal. Maka ketika Didit melihat ada sekumpulan ayam kecil di depan gubuknya setiap hari , ia bertekad memakan mereka suatu hari nanti.
“ Dari pada susah-susah ngasih makan ayam, lebih enak langsung beli Ayam Goreng-nya.”, Marni menjawab polos.
“ Tapi’ kan duitnya ga ada…”
“Makanya ayo ngojek payung aja, jadi bisa makan ayam goreng.”, usul Marni dengan mata berbinar.
Didit ragu sejenak, tapi semangat Marni terlihat menjanjikan. Maka, tanpa ragu anak laki-laki itu berlari mencari payung di dalam gubuknya. Dan seketika Marni pun telah siap dengan payungnya yang sangat besar. Didit hampir tertawa melihat gadis kecil itu membawanya dengan susah payah.

Pada akhirnya, mengojek payung menjadi suatu keharusan dikala hujan datang. Dan yang menyenangkan bagi Didit adalah ayam goreng nan garing di akhir petualangan mereka. Dia tidak pernah lagi menolak ajakan Marni untuk menjajakan payung di jalan-jalan besar. Bahkan sering kali Didit lebih sigap membaca kapan hujan akan datang dan tentu berikut ayam gorengnya.

Suatu hari, hujan datang begitu derasnya. Seperti biasa Didit dan Marni berlarian bersama anak-anak lainnya, saling berlomba mencari lembaran rupiah dari para pekerja kantoran. Tapi kali ini, air hujan kurang bersahabat. Mereka menggenang dimana-mana bahkan di jalan protokol tempat kendaraan berlalu lalang. Genangan ini rupanya tak mau kesepian, mereka bergabung antara satu kubangan dengan yang lainnya sehingga jadilah jalan ini tergenang air begitu tinggi. Mobil dan motor hanya bisa terdiam ditengah-tengah. Mereka terjebak tak bisa bergerak. Yang lainnya pun hanya menunggu di ujung jalan yang tidak tergenang.

Didit dan Marni asyik mengejar langganan mereka, bahkan kali ini makin banyak orang yang membutuhkan ojekan itu. Didit senang bukan kepalang, membayangkan hari ini bisa mendapat ayam goreng bukan hanya sepotong tetapi tiga potong untuk Ibunya dan Marni sebagai sahabatnya. Genangan air di jalan bukan hambatan, walau badan kecil mereka harus menahan arus yang begitu kuat. Kaki kecil itu sekuat tenaga tetap berpijak demi sedapnya Ayam Goreng Bu Sum langganan mereka.

Hujan tak kunjung henti. Air makin tinggi, dingin pun semakin menusuk raga anak-anak kurus itu. Marni terbatuk-batuk sambil menggigil. Tubuh gadis ini rupanya tak kuat menahan hawa yang terus berhembus melewati baju tipisnya. Dia memutuskan tak lagi berjalan dan hanya meringkuk di pinggiran halte mencoba menghangatkan diri. Didit menghampiri Marni, dengan menggebu anak laki-laki itu menarik-narik gadis ini untuk turun kembali ke jalan. Tetapi Marni lelah…Marni lemah. Maka ia meminjamkan payung besarnya untuk Didit karena miliknya telah berlubang dimana-mana. Didit sumringah dan kembali berlarian sambil berjanji, Marni akan mendapat 2 potong ayam goreng hari ini.

Waktu berlalu, hujan telah reda dan kantong Didit pun penuh sudah. Dia berlari mencari Marni dan ingin segera mengunyah yang renyah-renyah itu. Tetapi Marni tertidur diantara orang-orang yang berjejalan. Tubuh kecilnya digoncang-goncang Didit.
“Marni..Marni…Gimana sih loe malah tidur disini?!”
Tapi Marni diam. Dia beku tak terganggu sedikitpun. Tubuh itu tak bereaksi bahkan terlihat membiru dimana-mana. Didit kelu, dia kosong…
Detik berganti..menit pun berlalu.. Marni tiada! Didit terhentak dan menjerit seketika, memanggil Marni…memanggil Ibunya..meneriaki setiap kata tanpa sadar. Anak itu menangis kejang menyaksikan sahabatnya tergulung meringkuk kaku.

---

Didit sudah selesai menjajakan payungnya hari ini. Walau langit belum cerah benar , ia memutuskan segera ke warung Bu Sum dan pulang ke rumah. Didit membeli dua potong ayam untuknya dan Ibu. Sesampainya di rumah Ibu menyambut dengan dua piring nasi aking hangat baru matang. Sebelum makan, seperti biasa anak itu hening berbicara pada Sang Pencipta. Kemudian ia berbisik pada sahabatnya…” Marni, semoga ayam goreng di surga sama enaknya dengan Bu Sum punya…”.


-HuN, Depok 9 Maret 2008-
Thursday, May 1, 2008
Mempertanyakan Sosok Thaksin Sesungguhnya

Mempertanyakan Sosok Thaksin Sesungguhnya


Judul : Thaksin: The Business of Politics in Thailand
Penulis : Pasuk Phongpaichit dan Chris Baker
Penerbit: Silworm Books, Chiang Mai, 2004
Tebal : ix + 302 halaman

MAJALAH Money and Banking di Thailand edisi bulan Desember 2004 mengeluarkan daftar 500 orang kaya di negeri gajah putih tersebut. Dari daftar itu keluarga Shinawatra, alias keluarga Perdana Menteri Thailand, menjadi keluarga paling kaya di Thailand. Selain itu, perusahaan keluarga dalam bidang telekomunikasi ini tercatat sebagai perusahaan terkaya di Thailand.

KORAN The Nation (edisi 14 dan 15 Desember 2004) yang mengumumkan hasil survei dari Money and Banking ini juga menunjukkan bahwa kekayaan perusahaan naik 70 persen dalam waktu setahun terakhir ini. Apakah semua kekayaan ini adalah berkat kedudukan yang dipegang oleh Thaksin sejak awal 2001? Banyak dugaan akan mengiyakan pertanyaan tadi, dan orang pun bisa menduga lebih jauh, Thaksin dan keluarganya akan menjadi salah satu keluarga penting dan kuat di wilayah Asia Tenggara

Nama Thaksin Shinawatra di regio Asia Tenggara jadi buah bibir karena ia membiarkan pasukan militernya membantai para demonstran di kawasan Thailand selatan awal Oktober lalu. Sementara itu, di dunia internasional, ia dianggap sama kelakuannya dengan Silvio Berlusconi, Perdana Menteri Italia, pemilik industri media besar yang jadi pemimpin politik.

Siapakah Thaksin Shinawatra sesungguhnya? Bagaimana ia memulai karier politiknya? Apakah ia sama kelakuannya dengan para jenderal yang pernah memimpin negeri gajah putih tahun-tahun sebelumnya? Dan, apakah Thaksin akan menjadi salah satu "orang kuat" Asia Tenggara berikutnya dalam deretan para pemimpin baru di kawasan ini? Buku ini mencoba untuk menguak sisi-sisi kehidupan Thaksin, sembari menaruhnya dalam konteks perubahan politik dan ekonomi yang terjadi di Thailand. Pasuk Phongpaichit, penulis buku ini, adalah guru besar ekonomi di Universitas Chulalongkorn, yang bekerja sama dengan Chris Baker, seorang penulis lepas yang juga bersama Pasuk telah menulis beberapa buku lain tentang Thailand.

***

DALAM sejarah politik di negeri ini tercatat tahun 1973 terjadi kudeta politik dari pemerintahan sipil oleh kalangan militer. Sejak itu berkali-kali para jenderal memimpin negeri gajah putih ini, dan baru pada awal tahun 1990-an tradisi militer berpolitik terhenti, dan para pebisnis yang juga tertarik masuk politik menguasai arena tersebut. Kita pun ingat, krisis ekonomi di Asia Tenggara dimulai dari kejatuhan baht Thailand, dan kemudian meruntuhkan fondasi ekonomi macan (kertas) Asia lainnya: Indonesia. Sementara kini Thailand telah melepaskan diri dari kemelut ekonominya, Indonesia masih terus bergulat antara menjadi makin mundur atau perlahan-lahan bergerak maju.

Dalam konteks kejatuhan ekonomi inilah, sosok Thaksin muncul. Mantan polisi yang juga penyandang gelar PhD dalam bidang penanganan kejahatan dari Sam Houston State, Texas, meniti kariernya jadi pengusaha. Jangan salah, awalnya ia memulai usaha banyak merugi, dan baru setelah mendapat konsesi untuk pengadaan komputer di sejumlah kantor pemerintah ia jadi pengusaha yang sukses.

Untuk terjun ke politik, walau ia pernah jadi menteri sekretaris kabinet sepulang dari studi di Amerika, ia mendirikan Thai Rak Thai, sebuah partai yang menawarkan kebijakan-kebijakan populis. Misalnya, Thaksin pernah mengatakan bahwa ia tak memerlukan gaji sebagai seorang perdana menteri, dan ia akan menyumbangkan seluruh gajinya kepada orang-orang miskin.

Ibarat menunggang ombak laut dengan papan selancar, Thaksin mendapatkan keuntungan dari laju angin yang tepat pada saat ekonomi Thailand terpuruk akhir 1990-an. Thaksin juga menunjukkan keahlian menjaga keseimbangan di atas papan selancar, saat ia mengembangkan bisnis telekomunikasinya, pada waktu bidang ini sedang meroket, dan jadi kebutuhan banyak orang untuk berkomunikasi dengan cara yang makin canggih.

Suami Pujaman Damaphang dan ayah tiga anak ini (Panthongthae, Pinthongtha, dan Phaethongtharn) selalu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang "biasa-biasa" saja yang kemudian bisa mendapatkan semua kesuksesan ini karena kerja keras yang ia lakukan bertahun-tahun. Jarang ia mengungkapkan kondisi sebenarnya bahwa ia adalah generasi keempat keluarga Shinawatra yang sukses berbisnis sejak zaman kakek buyutnya dulu.

***

KEPEMIMPINAN politik dan ekonomi Thaksin mengambil pendekatan yang pragmatis, pragmatis terhadap pasar dan juga pada persoalan politik yang ada. Kemunculan Thaksin bisa dilihat sebagai buah dari krisis ekonomi di Asia Tenggara, tetapi di sini lain juga adalah kemunculan kelompok kelas menengah- terutama kalangan pebisnis-di pentas politik, yang mencoba untuk memperbaiki negeri yang telah hancur akibat krisis ekonomi.

Di sini mungkin orang akan ingat pada Jenderal Soeharto di Indonesia yang juga menggelar kebijakan ekonomi yang pragmatis, proses pembangunan bertahap, sebagai respons atas krisis ekonomi yang dihadapi pertengahan tahun 1960-an. Demikian pragmatisnya pendekatan yang diambil sehingga mengorbankan masyarakat lain yang juga ingin adanya demokrasi, kebebasan berbicara, dan kontrol terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.

Cara Thaksin menangani kekerasan di wilayah Pathani, bagian selatan Thailand, menunjukkan bahwa ia tak mau memberikan ruang yang terlalu besar bagi suatu perbedaan aspirasi politik. Dalam hal perang terhadap para pengedar narkotika, Thaksin juga melakukan tindakan yang sangat tegas dan banyak korban jatuh. Thaksin pun sempat dihebohkan ketika ia berencana membeli klub sepak bola Manchester United alias MU (sementara Thaksin hanya tahu nama dua pemain MU).

Kembali pada soal kekayaan yang diraih keluarga Shinawatra secara signifikan, pengumuman dari majalah Money and Banking tadi telah menunjukkan fakta yang jelas bahwa dengan berkuasanya Thaksin sebagai perdana menteri, maka perusahaan Shin telah makin kaya (walau banyak sahamnya dialihkan kepada anggota keluarga lainnya). Lalu mengapa Thaksin dan Shin Corporation masih terus memperkarakan seorang aktivis bernama Supinya Klangnarong, yang telah membuat studi soal kekayaan Thaksin lebih dulu dan kini sedang digugat Thaksin atas tuduhan mencemarkan nama baik?

Wajah Thaksin sesungguhnya bisa kita lihat bersama-sama.

no image

Mimpi

Telah kuungsikan mimpi
Ucapkan selamat tinggal pada sawah ladang
Aku pergi ulurkan persahabatan dengan mesin-mesin pabrik,
Gedung-gedung perkantoran yang katanya menjanjikan!
Tergoda nyanyian zaman yang dibawa televisi-televisi masuk ke seluruh denyut nadiku
aliran darahku, merasuk, mengalir...... dan membangkitkan gairahku untuk bermimpi

Gemerlap kota Jakarta.............
Ya, dan aku pun terhanyut
Terus mabuk……….mabuk!
Tak berpijak lagi pada bumi dan tanah leluhur yang melahirkanku
Gelombang dan terpaan yang dimiliki Jakarta dengan iramanya
Seperti magnet bagiku.

Tapi lama-lama irama itu mengapa makin menyayat-nyayat hati, genderangnya apalagi
Melindas tanpa ampun, tanpa bulu, tanpa iba……
Buat aku yang pasrah dan bergantung begitu saja pada angin dan rintik hujan

Akhirnya, aku terseret ke lorong-lorong jalan, ke terminal-terminal, ke lampu merah-lampu merah.
Sambil jajakan dagangan, dan teriakkan harapan
Harap daganganku laku dan pulang bawa uang untuk anak-istriku
Belajar terjemahkan tiap langkahku, aduh…..mengapa?
Tangis batin menjerit-jerit!
tapi terhibur pengertian dan kesabaran
setiap kali Matahari mengunyah airmata
Air mata yang terus menghitung berapa utang terbebani

Tapi, mimpi itu tetap ada
Mimpi pijar lampu neon kota, mimpi anakku bisa sekolah
Meski ribuan rintik hujan berjuang berkali-kali menguburnya dalam tanah yang berpijak-pijak.

Mimpi yang akhirnya tercecer di setiap perempatan-perempatan jalan.
Kala lampu di situ tidak merah,
Ingin kuteriakkan pada angin, pada daun, pada aspal, pada hujan
“Aku baik-baik saja, Bung!”
Dan kulayangkan senyum pada surat-surat kabar kota, moncong2 radio
Dan stasiun-stasiun TV,
Lalu, kuceritakan kisah daun, meski pohon tak menginginkannya lagi
Ia tetap setia pada sang pohon,
Walau orang berpikir ia selingkuh pada tanah yang menerimanya iklas saat ia jatuh,
Ia tetap setia.
Untuk anak dan istriku aku adalah daun itu
Dengan caranya bersama tanah, bikin pohon terus berbuah meski ia harus mati.

Aku terus hanyut ……….mabuk……..terbang…….berlari..
Bermimpi trus saja bermimpi tentang khayalan anakku
Bermimpi saja tapi jangan pasrah
Bermimpi saja tapi jangan hanya bergantung pada angin dan rintik hujan.

(Terminal Bekasi, 19 Maret 2007)

Copyright © agenda 18 All Right Reserved