New Post

Rss

Wednesday, June 18, 2008
no image

Intermezo Hujan

Inilah hidup kawan…
Rindu yang bengis itu menggerogotiku lagi
Bahkan untuk memikirkan kapan terakhir tak merindunya,
aku sepertinya tak mampu
tiba-tiba bagaikan mati lampu bergilir di
margonda

ingin kukabakan rasa ini
Sakit ini, keresahan dan rindu ini

Apakah aku harus mengirimkan pesan singkat untuknya sekarang?
“hai.. maaf mengganggu dengan pesan singkat ini….
Rindu tak bisa kubendung….. resah-sesal ini tak bisa kukekang….
Dan hanya ingin tahu… apa kabarmu hari ini?”

Aku tahu….

Ah, sial, kenapa Sigur Ros berdendang
saat-saat seperti ini?
The Land Between Solar Systems-nya Mum?
Mestikah aku tenggelam oleh placebo
My Sweet Prince?

Atau lari saja dengan optimisme utopia a la Marley atau Big Mountain?
Ahh, sudahlah
no image

Jangan Kekang Hatimu

Buah pikiran, dapat menyublim menjadi serangkai tutur kata, atau tenunan karya. Sebaliknya, saat buah pikiran itu tidak diutarakan, ia akan menguap bagai gas dari buangan biang es. Lalu si biang ini akan terus jadi pikiran tak terkendali, namanya juga biangnya, tapi bagaimanapun juga bentuknya yang seperti batu, akan tetap menjadi kerikil saat berpikir.

Saat rindu itu hadir dan terjebak dalam dimensi jiwa, setipis apapun nyawa ia tidak akan melepaskan kerinduan. Kerinduan itu jika hanya disimpan dalam sel-sel kulit mati, ia selamanya cuma akan jadi ampas, dan bukan inti. Karena inti itu adalah energi, dan ketika energi itu tidak dipakai listrik akan padam. Tak ada listrik, hidup ini punya serasa gelap. Apalagi di kala malam gelap kelam.

Jikalau rindu itu pun menggebu, tapi tanpa ventilasi yang bisa mengeluarkan debunya, ia akan menyakitkan. Ia akan terus berdenyut-denyut bagai migrain, menyeringai bagai gatal, sungguh, nyeri total. Ketika ia didiamkan terus, sifat rindu yang pendendam itu datang. Mencoreng moreng keindahan, mendera kenangan, hanya tinggal kebencian, karena ia tidak dibiarkan keluar! Suatu saat ia akan meletus tanpa ampun. Awalnya api akhirnya lahar. Sama sekali tidak bisa diajak berkelakar.

Saat rasa sayang itu terang dan hinggap di isi kutang, ia akan teriak-teriak seperti pesakitan. Ia memekakan telingamu hingga kau pengang, dan mendekam nafasmu hingga kau asma. Saat rasa sayang timbul, dan kau memaksanya untuk tenggelam. Ia akan jadi cahaya yang berubah jadi petir. Sejenak, menyambar-nyambar, ngeri.
Jika kau sayang, tapi kau tidak membiarkan rasa itu berperang, kau sudah mati sebelum berlawanan. Ia akan mendengus-dengus dalam sangkar yang kau karya, lalu perlahan hancur karena tidak tersalur. Lama kelamaan terurai, dan makin sakitlah serpihan-serpihan sayang itu. Karena sejak jadi atom, kini ia bisa menjangkiti setiap inci dari semua kutu yang ada di badanmu. Ia bahkan jadi lebih ganas, akhirnya kau pun tergila-gila. Ataupun gila.

Tapi semuanya itu cuma rekayasa kalau dibandingkan dengan, keinginan. Ia adalah si mahanyata. Mahadaya, dan mahaada. Jika kau mencoba meniadakan keinginan yang ada, serta mengada-ngada keinginan yang tiada, kau akan terima ganjaran terkuat yang pernah terasa. Saat keinginan itu datang, tapi kau tidak mengusahakannya, malah mengkhianatinya, memecatnya, mencabulinya, ia akan sangat-sangat berbahaya.
Ia hanya akan diam, tapi diam itulah sebenarnya media penyebaran virus. Virus kehilangan arah, keputusasaan, redupnya gairah. Sesaat kau tampak seperti manusia, tapi sebenarnya kau sudah mati. Sebentar kau akan bicara seperti kau mencintai diri, tapi sebenarnya kau sudah bunuh diri. Kau akan terlihat seperti mayat hidup. Zombie.

Kalanya keinginan itu mengambil tempat dan waktu, kau pun akan terhisap jika kau tidak berusaha memberontak. Kau harus keluarkan keinginan itu dari kepalamu, utarakan pendapatmu, sampaikan maksudmu. Jika keinginan itu hancur lebur di dalam dirimu, maka kau tak lain memasang detonator untuk organ-organ dalammu. Sebaliknya, jika keinginan itu kau lempar jauh-jauh keluar, walaupun kadang sering tak kena sasaran—setidaknya kau sudah membuangnya dari sistem. Sungguh, jangan kekang hatimu, pikirmu, keinginanmu. Tidak akan membuat hidupmu lebih mudah, tidak akan selesai mengerjakan satu masalah pun.
no image

Sepenggal Cinta Dalam Selembar Sore

Tembok kamarku pucat
Mengerti ia,
akan aku yang rindu menenggelamkan diri
dalam matamu yang teduh
Sedang aku hanya mampu menjilati baumu
dalam sukmaku yang khawatir
Mengerti pun belum sempat

Dalam berbaring aku masih berusaha mencuri senyummu
dari ingatanku yang kuyup karena sembab
Dan kamu selalu tak pernah ingat
untuk menyekaku dengan kecup manja
Mengerti pun belum sempat

Aku hanya ingin kesederhanaan
Tiap malam bisa membelai ranumnya rambutmu
Sambil menyelipkan selamat malam pada daun telingamu yang harum
Tiap pagi bisa memeluk matamu dengan mataku
Sambil menghujanimu dengan puisi yang kukarang sebelum berangkat tidur
Dan tiap petang kita habiskan dengan terkekeh
menertawakan matahari yang menjauh ke barat

Saat itu,
aku tangkap selembar sore,
untuk mengungkapkan
bagaimana aku mencintaimu dengan sungguh


200607
petojo
no image

Hidup Selepas Awan

"Ayah. Kalau kau bisa mendengar. Aku menemukan gereja kecil di dekat kos."

Hanya sesaat. Aku terhalang sinar matahari. Marah memuncak. Aku butuh cahaya gemerlap saat ini juga. Kukutuk awan tanpa rasa melingkupi. Namun tak bisa mengucap apa-apa pada wujud tak terjangkau. Kesadaran muncul. Aku cuma boneka bertangan, menerima siang-malam-hujan dan kemarau bergantian.

Mungkin lahirku tidak sempurna membuat gampang mengumpat. Setitik debu seperti Katedral di depan mata. Desah lemah bagai teriak kondektur metromini di telinga.
Aku lahir dari ibu yang mencintaiku. Menerima asi hingga usia dua setengah tahun. Adikku berjarak beberapa tahun karenanya. Mungkin itu pula sebab aku dekat ibuku. Hingga kini enam tahun lebih sedikit hari, selat memisahkan kami, menempatkan aku di lain pulau membesarkan rinduku.

Kebahagiaanku tidak sebahagia anak-anak lain. Ayah tidak menghasilkan segenggam nasi untuk disuapkan ke mulut kecilku. Ibu. Ibu yang menyuapi aku dan kedua adikku dua kali sehari. Hanya dua kali karena itu mampu dicari. Ayah seperti bayi kecil mengangakan mulut bila waktu makan tiba. Anak ibu seperti empat orang.
Mungkin terlalu jahat mengatakan ayah seperti bayi. Tapi itu dia. Tidak pernah membelikan sebutir permen atau sekerat lemang bambu kesukaanku.

"Maukah ayah membelikan sesuatu?"
"Ayo!"

Dulu kami punya warung kecil karena bangkrut tutup. Aku dan adikku sebabnya selalu mencuri jualan. Sekarang segala sesuatunya mesti dibeli. Anak kecil sepertiku bisa bila diberi orang tua.

Aku menjumput kue tawa rudal dari stoples kaca. Kue yang pecah-pecah seperti mulut tertawa di sisi-sisinya. Rudal diambil dari nama senjata yang dipakai Amerika dan Irak saling menyerang. Sebetulnya tidak mirip sekali dengan rudal Patriot atau Scud. Panjangnya kira-kira setelunjuk orang dewasa, besarnya juga.

"Seratus rupiah"
"Pak, bayar !"

Ayah diam saja, menunduk. Satunya lima puluh rupah, sudah kugigit satu.
"Saya tidak punya"
"Kan sudah dimakan ?" Penjaga warung meninggikan suara.

Kukembalikan yang belum kugigit, berlari pulang. Ayahku tidak punya
apa-apa. Kue yang terlanjur kumakan tidak usah dibayar. "Lain kali bayar !" Kuhabiskan yang separuh tak bersemangat. Aku memikirkan ayah yang tak punya uang. Mengapa pula mau kuajak padahal tak punya uang ? Belakangan kutahu ayah sangat mencintaiku. Tidak bisa menolak apa permintaanku.

Masa kanak-kanaknya, ayah pernah sakit setahun penuh. Selama itu berbaring di tempat tidur papan beralas tikar pandan. Punggungnya bolong-bolong busuk. Hanya napas lemah keluar dari hidung pertanda masih ada hidup. Aku masih melihat bekas bolong-bolong itu di masa tuanya. Menderita.

Dia pulang berendam di kali seharian, malamnya demam. Sejak itu tidak pernah keluar kamar. Otaknya diserang malaria tropika. Aku tidak tahu kebenaran kalau menderita sakit ini si sakit lemah ingatannya. Ayahku pelupa. Ditanya sudah makan atau belum dia lupa.

Dia dijanjikan akan dijemput pastor dari Medan. Ayahku terpanggil jadi pastor sejak kecil. Tapi sampai di hari ayah mandi seharian tidak juga pastor itu datang. Dia kecewa.

Aku pernah punya keinginan seperti ayah. Adik perempuanku pun ingin membiara. Panggilan untukku berhenti dan sengaja kuhentikan, adikku beralih iman.
Ayah tetap pelupa sampai kami bertiga lahir bahkan dewasa dan ia menua. Hingga sekarang ia tetap pelupa dan tidak pernah memberiku apa-apa.

Sesuatu menyadarkan aku di masa remaja. Ayah bukan tidak memberiku apa-apa. Yang terbesar kudapat di masa pertumbuhan imanku. Hanya ayah yang selau berdoa ketika bangun tidur, saat makan dan menjelang tidur. Ini pemberian terbesar buatku. Ini menguatkanku.

Ia tidak bisa memberikanku kue tawa rudal. Ia tidak bisa membelikanku lemang bambu. Ia tidak pernah mengajakku ke pasar. Tapi ia memberi hadiah besar untuk imanku.
Hanya selintas awan waktu diberikan Tuhan bagiku menerima hadiah besar hidupku. Tertancap dalam. Awan yang datang pun megandung hujan di kala gersang. Saat-saat kemarahanku. Aku selalu ingat ketekunanmu. Dan aku tenang di rantau. Dari rantau aku ingin pulang di doakan olehmu.
no image

Pengantar Malam Ini…

Aroma dupa masih tercium dari rambutku. Aroma yang melekat siang tadi di perkuburan rupanya enggan melepaskanku begitu saja. Padahal aku tak pernah menyukainya. Selalu saja kukuatkan hati menahan napas ketika ada dupa dibakar di sekitarku. Langkah selalu kupercepat ketika melewati rumah peramal nasib yang hanya berjarak dua blok dari rumahku. Sengaja kumencari tempat agak jauh dari altar saat perayaan ekaristi agung, sekadar menjauhkan diri dari hembusan angina yang membawa aroma dupa merasuk rongga hidung. Bahkan aku selalu menolak menemani nenek buyut berdoa ketika kami masih tinggal bersama lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Aku hanya tidak ingin menghirup asap dupa yang tak pernah terlupa diayunkan nenek buyut sembari berdoa.

Namun, aku sering meminjam dupa itu sebelum dibakar dan meniru nenek buyut mengayun-ayunkannya di depan altar kecil di rumah kami. Menyenangkan rasanya mengayun-ayunkan batangan dupa merah itu. Lebih menyenangkan lagi, setelah puas mengayun, selalu ada paman yang siap menggendongku lantaran altar dan tempat menancapkan dupa batangan itu terlampau tinggi. Kala itu usiaku belum genap lima tahun. Begitu paman menyalakan dupa yang kutancap tadi, tanpa dikomando aku melarikan diri sejauh mungkin. Biasanya ke pekarangan, lantas mengajak anjing mengejar ayam-ayam kate peliharaan kami. Bocah.

Tahun-tahun berlalu. Tidak ada lagi dupa batangan merah yang tertancap menyala di altar itu. Nenek buyut telah berpulang dan tak ada yang meneruskan ritual tersebut, meskipun sekurang-kurangnya lima kali setahun keluargaku dan ribuan umat lain terpaksa menghirup aroma serupa dari dupa bakaran yang dipersembahkan dalam perrayaan ekaristi agung. Simbolis saja. Asap dupa yang mengangkasa diasosiasikan dengan lantunan doa-doa yang dipanjatkan, diharap sampai juga kepada Sang Maha. Tapi, tetap saja, aku tak menyukai aromanya.

Kali ini aku terlalu malas untuk membasuh rambut, mengganti aroma dupa dengan harum mint shampoo yang kusuka. Perjalanan pulang satu jam tadi terasa seabad. Rasanya tenagaku tercecer di setiap bongkah kerikil beraspal yang kulewati. Bongkah-bongkah kerikil yang memisahkanku dari peristirahatan kekal seorang teman.

Baru beberapa minggu yang lalu aku masih duduk bersamanya mengelilingi meja yang sama, membahas hasil kerja bersama dalam rapat rutin triwulan kami. Baru sebulan yang lalu aku berkumpul bersama teman-teman sepermainan di rumahnya yang kami jadikan markas. Ketiga anak lelakinya tentu bergabung bersama, bahkan si sulung itulah kepala regu kami.

Masih sulit kupercaya bahwa baru saja kami menyaksikan raganya disimpan rapi dibalik bongkahan tanah merah bertabur bunga. Belum ada satu minggu sejak kuhadiri doa untuk ketenangan arwah seorang nenek dari teman. Sehari sesudahnya, sms teman lain kuterima. Informasi lain seputar duka cita. Seorang teman sekelas sewaktu SMP meninggal karena leukemia. Jadilah minggu ini kuiisi dengan berkeliling rumah duka dan pemakaman.

Letih yang menghinggapi badan membuatku bertahan dan segera terlelap ketika berhasil mengunci pintu rumah dan mencapai kamar tidurku. Aroma yang melekat di rambut tak mampu menunda ritual istirahat malamku. Hmm… kali ini aroma dupa membuka celah bagi rasa yang lain. Rasa rindu.
no image

Bahasa Musik Anak Muda Jepang

Setidaknya ada 2 kemungkinan setiap seorang musisi muda pulang sedari menonton konser bermutu. Musisi muda itu akan termotivasi untuk berlatih lebih giat. Itu kemungkinan pertama. Kemungkinan kedua, ia akan berhenti belajar musik karena merasa ia tak akan mampu sehebat musisi yang ditontonnya.

MENGAMBIL tempat di Teater Kecil, Taman Ismail Jakarta, pada 20 April 2008, sore hari, sekelompok musisi muda dari Jepang mencoba mengurai kemungkinan-kemungkinan di atas dengan jalan kesenian yang mereka tempuh. Dengan dominasi alat tiup, kelompok yang menamai diri Chanchiki Tornade ini menghipnotis penonton yang hadir untuk menemani mereka hinga penampilan usai.

Konser yang bertajuk ‘Chanchiki Tornade from PASAR to PASAR at TIM’ ini adalah salah satu bagian dari rangkaian KITA!! Project yang diadakan oleh The Japan Foundation dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan persahabatan Indonesia dengan Jepang.

Tampaknya Jepang bukan lagi sekelompok bangsa yang tertanam di benak kita sebagai penjajah. Lewat musisi muda mereka, misi kesenian yang dihidupkan ini berupaya mengakrabkan diri dengan saling mencicipi produk kesenian masing-masing. Publik Indonesia pun tak kalah ramah. Mereka mebalas dengan merangkai puja-puji atas usaha yang ditekuni Chanchiki Tornade.

Itulah yang tergambar dalam pementasan di gedung pertunjukkan yang belum begitu karib dengan publik seni pertunjukkan, termasuk musik. Walau begitu, di tengah-tengah miskinnya pemerintah untuk mengapresiasi seni, sebagai gedung pertunjukkan, Teater Kecil patutlah dilirik. Bukan saja arsitektur luarnya yang mantap dan futuristik, nuansa interior di dalam ruangan pertunjukkannya pun cukup unik dan segar. Ditambah dengan akustik ruangan yang cukup baik, maka lengkaplah ia sebagai salah satu gedung pertunjukkan bermutu di Jakarta.

***

Di ruang gelap itu, ketika para penonton sudah menduduki bangkunya dengan rapih, beberapa perempuan Jepang, lengkap dengan kimono dan lentera, menyeruak di antara penonton. Mereka menyodorkan sesuatu. Rupanya kertas program acara.

Kemudian, di tengah-tengah riuh rendahnya suara penonton – publik musik Jakarta belum mengerti mengapresiasi seni, dan kebisingan mereka mengganggu – muncul suara-suara dari atas panggung. Lalu, samar-samar, seperti ada suara tambahan yang melagu dari kejauhan. Suara-suara itu bergerak mendekat. Menyusup dari arah belakang penonton yang mengisi celah di kanan dan kiri bangku.

Ternyata suara-suara itu datang dari trompet dan klarinet. Kemudian mereka naik ke panggung, bergabung, membentuk formasi, dan memainkan sepotong karya yang mereka beri judul Romantic Circus Band.

Sambung karya kedua, dan BUM! Mendadak karya yang menggelegar ini membungkam kebisingan yang ada. Komposisi lagu berjudul Super Habotan ini langsung digarap mereka dalam formasi lengkap: 3 saksofon (alto, tenor, sopran), 1 flute, 1 klarinet, 1 trompet, 1 tuba, 1 trombon, 3 perkusi (triangle, snare, tam-tam), dan iringan dari piano.

Lewat pilihan motif-motif yang bervariasi, lagu ini dibawakan dengan amat cepat. Sesekali tenor, alto, dan sopran saksofon saling bersahutan. Membentuk sebuah kalimat yang ekspresif dan eksotis. Kekayaan ini pun diperkaya dengan iringan perkusi yang intensitasnya dijaga konstan.

Karya ketiga mengagetkan kembali. Setelah sebelumnya penonton diserbu musik yang ramai, yang berikut ini justru amat kontras. The Gentle Dessert of Coconut – nama karyanya – amat syahdu, intim. Melodi dibawakan oleh saksofon sopran yang diiringi piano oleh Shunsuke Okuchi.

Memainkan alat tiup memang cenderung mudah. Tapi untuk menghasilkan suara yang berkarakter tidak bisa dianggap sepele. Butuh ketekunan yang luar biasa untuk mencari warna suara yang personal. Suara saksofon dari Hiroshi Suzuki, pimpinan Chanchiki Tornade, setidaknya mempu menghasilkan suara yang khas. Bukan saja khas, tapi di usia yang masih muda, Hiroshi sudah memiliki kematangan. Ia tidak hanya memiliki kematangan instrumentasi, tapi juga musikal. Itu dibuktikannya dengan improvisasi yang begitu luar biasa. Kadang ia meringkih, atau melolong panjang lewat instrumen logam yang penciptaannya dikembangkan dari klarinet tersebut.

Belasan lagu yang lain dibawakan para musisi muda Jepang ini dengan amat lancar. Mereka tak lagi berbicara teknik. Tapi menukik ke dalam esensi bermusik dalam sebuah kelompok yang lebih membutuhkan kekompakkan dan kesehatian. Penampilan mereka dalam berbagai formasi – trio, duo, kwartet, lengkap – selalu melahirkan tepuk tangan panjang dan elu-eluan dari penonton.

Walau didominasi oleh nuansa minor harmonik khas timur tengah, namun lewat mereka nada-nada muram ini justru dibahasakan lain. Aransemen yang berupaya mengawinkan musik tradisi dengan modern kontemporer, memperlihatkan semangat orang muda yang mendobrak kemapanan. Mendobrak kekakuan dan kebakuan. Terus mencari, menggali, dan mendandani seni.

Namun, kelompok yang sehari sebelumnya tampil di Jogja (di sini mereka bermain musik di atas becak sambil berkeliling kota) belum berani memasang wajah mereka dengan tegas. Untuk disebut pop, mereka terlalu cerdas. Untuk disebut jazz, itu pun kurang pas. Juga tidak pas untuk sebutan kontemporer, karena mereka masih malu-malu menuju ke arah itu. Tapi entah mengapa, keragu-raguan sikap musik mereka justru menghadirkan kekayaan tersendiri. Karena kita bisa mendengar bunyi-bunyi hasil perkawinan musik tradisi, jazz, dan kontemporer secara bersamaan.

Di lagu-lagu terakhir, tiba-tiba saja mereka turun panggung sambil memainkan instrumen. Lalu mengajak para penonton untuk menuju lobi gedung. Di sana mereka membangun sebuah panggung imaji. Imaji akan sebuah ruang publik yang ramai seperti pasar. Di mana kemapanan untuk sementara ditanggalkan, lalu berganti menjadi ajang saling memberi. Di situ Chanchiki Tornade memberi sentuhan kesenian yang khas buat publik musik Indonesia.

Dan mungkin saja, salah satu sentuhan yang diberikan mereka kepada para penonton, berbicara mengenai kemungkinan pertama, yakni memotivasi musisi muda Indonesia untuk bergiat dalam musik. Sebuah jalan panjang yang tidak mudah untuk dicintai. Karena mencintai berarti berkorban.
Copyright © agenda 18 All Right Reserved