New Post

Rss

Friday, April 18, 2008
no image

Sore Ini Aku ke Padewa

Kotak besi raksasa itu bergerak sangat laju. Pandangan berapa ratus meter ke depan memang tampak sangat lenggang. Hampir tak ada satu kendaraan lain yang terlihat. Tapi pandangan beberapa ratus kilo ke depan, tentunya bukan kosong tanpa tujuan. Ada sesuatu perasaan yang begitu lain. Perasaan yang amat getir dan pelit kata, tapi ranum makna.

Entah apa yang selalu membuat Ringga tertidur dengan sebelah mata. Kantuk yang begitu buas menyerangnya tak bisa dijawabnya dengan satu jawaban: tidur pulas plus ngorok yang seru, ritmis, dan melodis. Otaknya dijejali terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak kegelisahan, terlalu banyak keraguan penuh harap, tapi hanya sedikit kelegawaan.

Pagi ini, dengan segenggam niat bulat yang dikemasnya rapih, ditaruh di saku kanan kemeja kegemarannya, Ringga memboyong diri ke suatu tempat yang jauh dari rumahnya, Padewa. Ia berharap sampai di sana sebelum matahari pulang kandang.

”Nanti kalau matahari sudah meninggi, jangan lupa makan nasi kuningnya Ga! Airnya sudah Mama masukkan di kantong plastik di ranselmu”, Ringga mengingat pesan Mamanya tadi subuh sebelum berangkat. Dasar Mama, bilang ga boleh pergi, malah pakai emosi, tapi malah dibuatin bekal, geli Ringga dalam hati. Papa malah lebih konyol lagi, semalam sampe ga mau makan malam karena keputusanku untuk pergi, tapi tadi paling sibuk ngurusin cari kendaraan buatku ke terminal. Sampe minjem ojek Pak Kirmin segala lagi. Keluargaku memang sangat manis, bahkan terlalu manis untuk seorang aku yang punya ambisi kuat untuk menanggapi mimpiku.

Tapi di lain cerita, keluargaku pernah menjadi sangat tidak manis. Pahit! Tidak enak! Tidak bersahabat menanggapi keinginan yang kuutarakan tepat 2 tahun yang lalu di meja makan. Mama menjadi beradu mulut dengan Papa yang waktu itu langsung menggebrak meja makan karena aku bertahan dengan argumen-argumenku. Aku lebih gila. Aku sempat minggat beberapa hari dan menginap di rumah teman karena malas berdebat dengan kedua orangtuaku. Tapi aku tahu, aku salah kalau seperti itu. Aku takut menghadapi masalah. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berdoa. Dan jawaban doanya sangat mengejutkan aku: Padewa.

***

Bis antarkota yang Ringga tumpangi sudah berjalan kurang lebih empat setengah jam. Ringga mulai bosan, ngelamun ngalor ngidul. Dia membayangkan bila nanti dia dengan serunya berbicara lantang di depan ribuan pasang mata suatu hari. Tapi, mendadak air mukanya berubah. Wah, nanti bisa ga ada waktu buat naik gunung bareng Doddy lagi dong, pikir dia dengan segunung kekecewaan. Terus gimana dengan tempat nongkrongnya di gang sembilan? Pasti tambah sepi setelah aku pergi, gerutu Ringga dalam hati. Lalu Ninda? Bagaimana dengan Ninda, adik kelasnya di sekolah yang ditaksir berat? Memang Ringga sudah memutuskan untuk hanya menjadi cerita penghias kisahnya saja. Bahkan, Ringga sudah menitipi puisinya untuk Ninda lewat Doddy. Tapi, ini sangat berat buat Ringga. Ninda sudah ia gantungkan sangat tinggi. Bahkan terlalu tinggi ia taruh di langit-langit kamarnya, di kolong-kolong impian termanisnya. Bayangnya ke awang-awang. Ia menelan ludah. Kering.

Sambil mengambil minum dari ransel buluknya, Ringga mengeluarkan satu amplop berukuran cukup besar. Warna hitam dan agak kaku. Dibukanya perlahan dari samping amplop itu. Ternyata sebidang karton yang dilipat dua yang senada dengan warna pembungkusnya. Itu kata-kata kenangan dari teman-teman di Parokinya. ”Maju terus, jangan kayak gue!”, tulis Amra, temannya yang paling bengal. Mereka berteman sejak latihan basket tiap minggu sudah diadakan lagi oleh Mudika beberapa bulan yang lalu. Si Arnet lebih lucu lagi, gua mau liat lo angkat tangan di pernikahan gua ye, tulisnya penuh guyon. Memang, teman-teman Ringgalah yang selalu membuatnya mantap dengan cita-citanya. Mereka bagai segenggam kekuatan yang Ringga bopong menuju Padewa. Satu kutipan yang paling membekas, ”Jangan takut! Kami ada bersamamu! Tuhanpun demikian...”, kenangnya mengeluarkan memori di kepalanya atas perkataan Romo Jack. Romo Jack nama aslinya Jackobus tapi lebih senang dipanggil Jack, lebih keren candanya. Ia mengatakannya kepadaku di malam itu, persis ketika purnama mengembang.

Seorang Bapak di sebelah Ringga yang dari tadi sejak di terminal tidur, menguap. Huah...! Ternyata dia sudah bangun. Setelah melepas kacamatanya, ia mengusap-ngusap matanya yang banjir belek. Buset! Ringga terkaget-kaget. Setelah ia perhatikan, ternyata kacamata Bapak itu tebal sekali. Mungkin kaca aquarium di rumahku kalah tebal, ledek Ringga dalam hati. Setelah itu ia kenakan lagi kacamatanya yang lebih mirip kacamata buat menyelam di laut. Ringga benar-benar tak bisa berhenti meledek Bapak itu dalam hati. Ia mencoba menahan tawanya. Bapak itu kemudian menoleh dan tersenyum kepada Ringga. Sang penerima senyum pun hanya membalas seperlunya.

Basa-basi pun dimulai.

”Sendiri mas?”

”Iya Pak.”, timpal Ringga malas.

”Mau kemana? Banyak amat bawaannya?”, tanya Bapak itu semangat.
”Ke Padewa. Di daerah Guloksawa.”

”Oh ya? Sama dong! Saya juga akan ke sana. Saya baru saja menghabiskan cuti saya selama 2 minggu. Sudah bawa semua persyaratan? Nanti Mas cari Bruder Felix saja, dia yang biasanya mengurus. Sudah tigabelas tahun saya menjadi penjaga perpustakaan di sekolah.” cerocos Bapak itu beruntun. Yang dihujani kata-kata cuma diam terbingung-bingung. Perasaan Ringga, dia belum bilang apa-apa deh. Dengan mulut ternganga dia menjawab.

”I..iya..ya Pak...!”

”Kok Bapak tau?” gantian Ringga yang semangat.

”Nebak doank mas. Hehe.. Abis tadi saya lihat Mas menanyakan alamat kepada kondektur di terminal.”
Dan obrolan pun memanjang.

***

Mata Ringga menangkap jalan di luar jendela. Jalan-jalan yang semakin mengerucut di kejauhan dan dihiasi banyak tanaman di perbukitan. Dari jauh, ia melihat segerombolan walet terbang ke Barat. Ah, hari sudah mau sore. Pikirannya kembali membebaninya. Bayangannya merantau jauh.

”Aku tak habis pikir dengan apa yang ada di otakmu!”, bentak Papanya serius.
”Aku menyekolahkanmu di tempat terbaik, agar kau menjadi orang besar. Tidak melulu Ringga yang hanya anak seorang karyawan bank!” nadanya meninggi.

”Papamu benar Ga. Mama juga lebih setuju melihat kamu suatu hari menjadi petinggi di kantoran. Lain itu, mama juga takut, siapa yang akan menjaga kamu nanti di hari tua, siapa yang memelukmu di kala kamu ketakutan. Pikirkan baik-baik Ga. Mama dan Papa tak mau melihatmu tak bahagia.”

”Ya. Jadi, mama dan papa, akan jauh lebih bahagia melihat aku yang dengan terpaksa menjalani hidupku. Ini hidupku, aku bertanggungjawab atasnya!”, pekik Ringga tak kalah galaknya sambil masuk kamar membanting pintu. BUAK!!!

Ringga kaget. Tersadar dari lamunannya. Dia teringat pertempuran hebat di rumahnya kala itu. Mungkin, bila tak selesai akan menjadi perang dunia ketiga, kenang dia dengan nakal. Setelah bulan demi bulan bertimpalan, orangtuanya baru merelakannya. Itu pun kadang sering dibumbui celotehan-celotehan yang memancing mulut untuk siap berdebat tiap makan malam.

Tapi itu dulu, ketika Ringga masih sayang melepaskan Ninda. Ketika nongkrong di ruang Mudika seharian sulit ia tinggalkan. Ketika naik gunung menjadi hasrat yang sulit dibendung. Itu semua ketika Ringga lebih memilih berhenti pada sebuah keraguan. Kini, hati Ringga sudah mantap. Tekadnya bulat. Sangat bulat dan kuat. Jiwanya berani untuk tidak berhenti pada titik keraguan saja. Ia berpikir. Ia memaknai. Sampai berani menjawab: YA!

***

Langit semakin muram. Ringga sudah tertidur barang setengah jam. Mungkin kelelahan berpikir. Pak Lewang, Bapak yang duduk di sebelahnya, menepak bahu Ringga. Ringga terbangun. Kaget. Mulut belepotan liur.

”Pakai sapu tangan ini, masih bersih.” suruh Pak Klewang.

”Hah?”

”Maksudku, lap ilermu. Sebentar lagi kita turun. Padewa di depan.” jelas Pak Klewang mantap. Dia sudah bercerita banyak soal kisah-kisah di Padewa kepada Ringga sejak tadi. Tampaknya mereka akan berteman akrab di sana.

Bis mengerem perlahan. Mereka berhenti di depan sebuah wisma besar. Sambil tergopoh membawa barang masing-masing, mereka berjalan segera.
”Kamu lihat plang itu?”, pancing Pak Klewang.
”Ya. Sekolah Seminari Atas Padewa.” eja Ringga membaca plang.
Kemudian mereka masuk. Senyum dipasang. Lega.


*Makasih buat Ines karena telah menjadi teman diskusi yang menyenangkan atas ide ini.

Petojo - Karawaci
Awal April’06
Thursday, April 17, 2008
no image

"Infotainment": Pengingkaran Fungsi Informasi?

KOMPAS Minggu, 26-06-2005. Halaman: 17

SEJAK kapan kita harus menerima diktum baru: Infotainment, yang merupakan kepanjangan dari Informasi dan Entertainment (hiburan)? Apakah informasi yang layak tampil (terutama dalam televisi, khususnya yang menyangkut dunia selebriti) adalah informasi yang sekaligus juga harus menghibur? Sejak kapan informasi harus dibuat menghibur dan harus dipadukan sedemikian, terutama dengan mengobok-obok kehidupan pribadi para tokoh yang sebenarnya juga punya wilayah privasi yang hendak dilindungi mereka sendiri. Apakah mengobok- obok kehidupan pribadi seseorang adalah sesuatu yang menghibur? Bukannya sesuatu yang malah membuat kita prihatin?

Informasi ya informasi, hiburan ya hiburan. Sulit membuat keduanya saling bersatu, atau malah membuat-buatnya seolah jadi satu. Memang pula sulit untuk menyeragamkan pola pikir penonton agar tiap item berita dianggap sebagai informasi atau hiburan. Namun paling tidak kalau dua fungsi ini dikacaukan, maka yang ada wilayah abu-abu yang tak pernah jelas, dan kalau boleh saya mengatakannya, infotainment sebenarnya mengingkari fungsi informasi, terutama hak masyarakat itu sendiri untuk menerima informasi yang mereka butuhkan.

Memang dunia televisi banyak melakukan inovasi dalam tayangan-tayangannya (karena target akhirnya adalah membuat orang tetap menonton), tetapi inovasi belum tentu berarti perbaikan, peningkatan mutu, dan lebih membuat para penontonnya lebih humanis, tapi sebaliknya tayangan televisi kita makin membuat kita muak karena yang
ditampilkan kehidupan manusia yang makin dalam (wilayah privasi dilanggar), makin jijik dilakukan makin ditonton (toh kita cuma menonton, pikir para pembuatnya), makin menampilkan kehidupan manusia yang semu, makin komersial, dan juga makin menghina akal sehat.

Sayangnya tak ada orang yang cukup kritis untuk mempertanyakan ketika istilah infotainment itu pertama kali diangkat dan dipopulerkan. Kembali pada fungsi dasar komunikasi, sebagaimana ditampilkan dalam berbagai buku teks ilmu komunikasi, maka media massa punya fungsi informasi, fungsi survival terhadap lingkungan, fungsi hiburan, fungsi pendidikan, dan juga fungsi kontrol sosial.

Jelas berbeda antara fungsi informasi dan fungsi hiburan. Orang tentu saja bisa meresepsi (menerima) dengan cara yang berbeda, tapi membuat batas antara informasi dan hiburan itu jadi satu, punya kelemahan fatal, yaitu membuat baurnya batas-batas mana yang harus dianggap informasi (di mana di dalamnya mengandung unsur akurasi, bersikap imbang, tidak bermula dari suatu prasangka), dan mana yang dianggap sebagai hiburan (membuat orang tertawa, tersenyum, lalu memikirkan arti hidup lebih dalam).

Membaurkan dua fungsi yang berbeda tadi hanya mengacaukan persepsi kita dan juga membuat masyarakat jadi bingung membedakan manakah yang "fakta" dan "fiksi"? Lihat saja televisi dalam berbagai tayangan infotainment-nya. Di samping materinya pun tak beda-beda amat antara satu stasiun dan stasiun lainnya, lalu apa yang bisa diambil dari tayangan tersebut. Bayangkan seorang yang mengaku "wartawan" (karena nyatanya sebagian besar produksi tayangan selebriti ini adalah karyawan production house dan bukan karyawan stasiun televisi, alias mereka ini sesungguhnya bukan wartawan, walau ada organisasi profesi kewartawanan yang mengakui mereka sebagai "wartawan").

Bayangkan dalam prosedur kerjanya, sebuah tayangan (saya tak mau menyebutnya sebagai berita) bisa bermula dari suatu "isu" (isu cerai, isu pisah ranjang, isu kawin lagi, isu pacar baru, isu pindah agama, dll). Tentu saja, lalu sang tokoh muncul di layar televisi untuk membantah atau membenarkannya. Jadi, di mana "berita"-nya? Mereka yang pernah belajar jurnalistik dasar, mulai dari yang cuma sehari hingga bertahun-tahun dan mendapat gelar dari bidang itu, pasti akan tahu bahwa definisi berita adalah peristiwa yang terjadi. Jadi bukan isu, yang adalah sekadar wangsit belaka.

Ini pula penyakit lama jurnalisme Indonesia yang dibawa-bawa ke tayangan infotainment ini: talking journalism (jurnalisme omongan) seolah kalau si tokoh sudah berucap sesuatu, maka itulah kenyataannya. Yang dikejar "wartawan" itu semata-mata pernyataan atau omongannya saja. Penyakit lama adalah yang disebut sebagai pack journalism (jurnalisme bergerombol). Pantas saja kalau tayangan infotainment isinya sama saja karena mereka semua pergi bergerombol, bergotong royong, dan rela meng-kloning (istilah baru lagi untuk saling mengkopi bahan yang mereka miliki, bisa rekaman dalam tape wawancara atau gambar dari kamera).

Pada dunia hiburan sekalipun bisa digarap serius jadi berita (ingat majalah Variety yang sangat bergengsi dan punya ulasan-ulasan yang dalam terhadap dunia hiburan), mengapa tak pernah ada yang menggarap tema; seberapa banyak sinetron Indonesia meniru tayangan Bollywood, apakah ada oligopoli atau monopoli produksi sinetron di Indonesia ini, atau bagaimana relasi antara artis/aktor dengan para produser, yang sebenarnya mencerminkan bentuk hubungan buruh-majikan juga. Cuma bedanya, buruh industri hiburan ini agak keren dan enak dilihat, wangi lagi. Tapi esensinya relasi buruh-majikan banyak diabaikan atau malu mengakuinya.

Masih banyak tema lain yang menarik untuk digali. Dari sisi dunia hiburan yang justru penting untuk para penonton, misalnya bagaimana sih cara kerja bagian pemasaran sinetron-sinetron tersebut, mulai dari mem-block prime time, memberi keleluasaan sepenuhnya kepada para produser untuk menayangkan apa saja, dan pula bagaimana sih relasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dengan berbagai tayangan macam begini? Saya akan sangat mafhum kalau para "wartawan" ini mengatakan bahwa mereka tak pernah membaca pedoman dan etika penyiaran yang dikeluarkan oleh KPI ataupun yang pernah dibuat juga oleh ATVSI (Asosiasi Televisi Swasta Indonesia).

Pertanyaan terakhir: apakah masyarakat jadi makin pintar, atau makin bodoh, atau makin terhibur setelah menonton tayangan infotainment yang makin mengepung di sekitar kita? Saya tak mau menjawab sendiri, biarlah para pembaca dan penonton televisi yang menjawabnya. Tapi saya pikir haruslah ada suatu kampanye juga untuk menyebutkan jika kita ingin memelihara akal sehat kita, baiknya kita pun diet televisi, terutama dalam tayangan infotainment macam begini (toh tak ada yang menyuruh kita menyalakan televisi 24 jam sehari), dan solusinya mudah: matikan televisi Anda.
Wednesday, April 16, 2008
Cybercrime Masih Sebagai Sebuah Ancaman

Cybercrime Masih Sebagai Sebuah Ancaman

Seperti halnya di dunia nyata, dunia Cyber atau Teknologi Informasi, juga tak luput dari kejahatan. Bila di kehidupan sehari-hari kita mengenal istilah perampokan, penipuan, penjualan ilegal, maka kejahatan di dunia cyber pun memiliki istilah sendiri. Kejahatan itu dikenal dengan istilah Cybercrime. Bentuk dari kejahatan ini pun berbagai macam. Contohnya seperti melakukan hacking atau pencurian data, pembajakan situs web, pengrusakan sistem keamanan melalui virus, dan masih banyak lagi.

Contoh kasus kejahatan cyber(1) yang terjadi di Indonesia adalah Pencurian dan penggunaan account Internet milik orang lain. Salah satu kesulitan dari sebuah ISP (Internet Service Provider) adalah adanya account pelanggan mereka yang “dicuri” dan digunakan secara tidak sah. Berbeda dengan pencurian yang dilakukan secara fisik, “pencurian” account cukup menangkap “userid” dan “password” saja. Hanya informasi yang dicuri. Sementara itu orang yang kecurian tidak merasakan hilangnya “benda” yang dicuri. Pencurian baru terasa efeknya jika informasi ini digunakan oleh yang tidak berhak. Akibat dari pencurian ini, penggunan dibebani biaya penggunaan acocunt tersebut. Kasus ini banyak terjadi di ISP. Namun yang pernah diangkat adalah penggunaan account curian oleh dua Warnet di Bandung.

Contoh kasus yang lain adalah membajak situs web. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh cracker adalah mengubah halaman web, yang dikenal dengan istilah deface. Pembajakan dapat dilakukan dengan mengeksploitasi lubang keamanan. Sekitar 4 bulan yang lalu, statistik di Indonesia menunjukkan satu situs web dibajak setiap harinya.

Kasus pembajakan situs web ini lah yang biasanya menjadi salah satu jenis kejahatan di dalam penggunaan internet banking. Nasabah yang biasa menggunakan fasiltas internet banking dapat saja terjebak dengan tampilan yang sangat mirip dengan tampilan web aslinya. Bahkan nyaris tidak ada bedanya.

Tampak pada gambar bahwa tampilan ke dua web salah satu bank swasta di indonesia ini serupa. Tidak ada bedanya. Padahal. Gambar yang berada di sebelah kiri merupakan situs bank palsu (2). Perbedaannya memang tidak tampak pada tampilan namun pada alamat dari situs tersebut. Alamat dari situs yang palsu adalah http://secure.bank2home.com.cn/ib-niaga/Login.html sedangkan alamat yang asli adalah https :// secure.bank2home.com /ib-niaga/Login.html.
Perbedaannya adalah pada situs yang palsu domain nya adalah com.cn sedangkan yang asli adalah com. Perbedaan yang lain adalah "http" dan "https" . akhiran ‘s’ pada http merupakan tanda bahwa situs tersebut telah aman/ secure karena telah dilindungi teknologi enkripsi data berupa Verisign SSL (Secure Socket Layer). SSL ini merupakan lapisan pertama system pengamanan yang biasa digunakan dalam dunia perbangkan untuk fasilitas internet banking. Dengan mengunakan system ini, semua data yang dikirim dari server suatu bank ke nasabah juga berlaku sebaliknya akan mengalami proses enkripsi (acak secara system).

Kerugian dari kejahatan ini pun tidak sedikit. Nasabah yang terjebak dan data login nya diketahui, semua proses transaksi melalui internet banking akan diambil alih oleh penyadap data tersebut. Alhasil uang yang disimpan di bank pun akan dapat berpindah tangan dengan mudah.

Dalam mensikapi maraknya kejahatan di dunia maya, maka di negara-negara maju dan berkembang membuat sebuat aturan yang disebut dengan istilah CyberLaw. Negara Singapura telah memiliki The Electronic Act 1998. Ini merupakan undang-undang tentang transaksi yang dilakukan secara elektronik. Selain itu, juga memiliki Electronic Communication Privacy Act (ECPA). Negara yang juga mempunyai CyberLaw adalah Amerka Serikat. Negara Adi kuasa tersebut memiliki undang-undang yang disebut Communication Assistance For Law Enforcement Act dan Telecommunication Service 1996 (3)

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sejak sebelum tahun 1999, inisiatif untuk membuat Cyberlaw sudah ada. Namun pada pelaksanaan terus terkatung-katung. Hingga saat ini aturan tersebut masih berupa Rancangan Undang-Undang (RUU). Nama dari RUU ini pun terus berganti. Mulai dari RUU Pemanfaatan Teknologi Informasi yang lalu berubah menjadi RUU Transaksi Elekstronik. Dan akhirnya menjadi RUU Informasi dan Transaksi Elektronik (4).

Lepas dari permasalahan ada atau tidaknya cyberlaw di Indonesia, kesediaan dan kesiapan sumber daya manusia yang handal di bidang teknologi informasi, harus menjadi perhatian yang prioritas. Dengan adanya sumber daya manusia yang handal maka, perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat akan dapat ditanggapi dengan tepat dan bijak.

(1)Dikutip dari makalah Budi Rahardjo , PPAU Mikroelektronika ITB, IDCERT – Indonesia Computer Emergency Response Team, 2001-07-28. www.budi.insan. co.id

(2)http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/02/tgl/04/time/102059/idnews/888641/idkanal/399

(3)http://yogyacarding.tvheaven.com/cyber_crime_tugas_besar_dunia_ti_indonesia.htm

(4)www.budi.insan.co.id
Apa Itu Cinta?

Apa Itu Cinta?


Judul Buku : Kisah Cinta Abadi Sepasang Merpati
Bila Kita Percaya Cinta
Pengarang : Meylani
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tebal : 378 halaman
Cetakan ke : 1 (Juni 2004)

Cinta. Tak ada habisnya diperbincangkan. Tua muda, selalu saja bicara tentang cinta. Dan lagi, kata orang, kisah cinta di SMU itulah yang paling menarik. Bertemu, berkenalan, berteman, dan kemudian menjadi lebih dari sekedar sahabat dekat.

Mungkin...berikutnya pernikahan?! Siapa tahu? Yang pasti, kisah sepasang sejoli – yang juga melibatkan manusia-manusia lain di sekeliling mereka – mampu mengundang segudang rasa ingin tahu. Simak saja kisah cinta Melisa di akhir masa SMU-nya.

Semenjak “kecelakaan” di kafe tempat Lisa bekerja paruh waktu, Frans mengijinkan Lisa mengetahui lebih jauh perihal kehidupan pribadinya. Latar belakang keluarga yang berantakan membentuk Frans menjadi sosok yang angkuh dan “berkuasa”. Frans pun menganggap cinta itu tidak masuk akal. Dengan tegas Lisa membantahnya. Keyakinannya begitu kuat akan cinta sejati yang selama ini dipendamnya untuk David, gacoannya. Keyakinan ini pulalah yang memberinya daya untuk membantu Frans memperbaiki diri.

Namun, Frans menyalahartikan perhatian Lisa. Ia terus berusaha mendekati Lisa dengan caranya yang khas. Sayangnya, hal-hal yang dianggap biasa oleh Frans adalah sesuatu yang luar biasa bagi cara bergaul Lisa, juga David. Lalu, bagaimana ia menjelaskan kedekatannya tersebut pada David? Akankah kecemburuan yang dirasa David yang memergoki keakraban keduanya memutuskan hubungan mereka? – bayangkan, apa yang akan kau lakukan bila melihat orang yang kau kasihi begitu dekat dengan orang lain seusai menghabisan waktu hanya berdua denganmu? – Akankah David berpaling pada sahabat Lisa yang selama ini memendam perasaannya demi kebahagiaan David dan Lisa?

Meylani, sang penulis, dengan gayanya yang unik menyajikan problematika yang sudah tidak asing lagi bagi pembaca (problematika apa yg tidak asing?). Meskipun inti cerita yang diangkatnya biasa saja – cinta segitiga, persahabatan, drugs, pelacuran – gaya bertuturnya yang gamblang dengan sedikit sisipan nuansa puitis mampu menyegarkan novel bergenre remaja ini. Walau terasa menghindarkan diri dari kebakuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), serta berusaha memilih kata yang akrab pada percakapan sehari-hari, justru lewat pilihan kata yang digunakannya itulah yang membuat novel ini menjadi ringan, tidak seberat ukuran fisiknya. Seperti mendengarkan curhat teman, begitulah.

Sayangnya, latar tempat dan waktu yang digunakan dalam novel ini kurang spesifik. Pembaca harus mereka-reka tempat dan waktu suatu kejadian yang sedang berlangsung. Positifnya, pembaca bebas meletakan peristiwa-peristiwa tersebut dalam ruang imajinasinya. Pembaca dapat memilih tempat favoritnya untuk memudahkan kita memahami alur cerita.

Kaver buku ini di-dominasi warna merah jambu, – kata orang – warna cinta. Belum lagi karikatur ketiga tokoh utama ala Jepang yang dikelilingi hati-hati mungil bersayap. Sungguh girly.

Membaca halaman persembahan Sang Penulis yang dikemas unik ini – bagi yang pernah mengalami hal yang sama dengan pengarang – kita diajak bernostalgia. Bagi pembaca yang belum pernah mengalami hal serupa, kita diajak membangun imajinasi masing-masing.

Buku bertajuk Kisah Cinta Abadi Sepasang Kekasih – Bila Kita Percaya Cinta ini memang ditujukan bagi muda-mudi yang tengah kasmaran, terutama siswa-siswi sekolah kelas menengah. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi khalayak ramai untuk turut menikmati kisah ini. Melalui kisah Lisa dan kawan-kawan ini, pembaca diajak belajar menyikapi permasalahan “cinta – persahabatan - keluarga - hidup” dengan bijak. Segala sesuatu bisa saja terjadi dan mungkin saja akibatnya pahit terasa. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita memetik pelajaran dari peristiwa tersebut, bagaimana kita bersikap, bagaimana kita memilih, dan bertindak tegas.

Prinsip-prinsip yang dipegang teguh Lisa membantu kita untuk konsisten dan bertanggung jawab. Lisa dan David telah membuktikan bahwa balas dendam bukanlah penyelesaian. Keluarga Frans mengajari kita untuk bertahan hidup dan terus berjuang. Lisa membantu kita bertahan akan mimpi dan harapan. Semua tokoh dalam novel ini, juga kita sebagai pembacanya, belajar perihal cinta yang murni, bukan nafsu sesaat. (R-net)
Wednesday, April 2, 2008
no image

Alunan Gitar di Tengah Jakarta Yang Basah

Seorang komposer besar asal Jerman pernah berujar, gitar adalah miniatur orkestra. Pujian ini tidaklah berlebihan. Pasalnya, nilai eksotik yang diemban instrumen bertubuh sintal ini bukan main-main. Dengan segala keterbatasannya (jangkauan nada, kekuatan bunyi, panjang gema) gitar dituntut untuk tetap tampil mempesona di atas panggung.

Kata-kata di atas tadi milik Ludwig van Beethoven. Walau ia tidak pernah menulis karya untuk gitar, tapi pujian di atas tadi mengantar kita pada satu keyakinan, bahwa gitar bukan instrumen sepele. Karena itu ia tak bisa diremehkan.

Adalah Alessio Nebiolo, seorang gitaris Itali yang menjajal kemagisan gitar tersebut dalam rangkaian acara ‘The Guitar Maestros’, sebuah perhelatan dunia gitar, yang rajin mengundang berbagai seniman gitar dunia. Disajikan dalam bentuk resital tunggal, dan dibayangi malam yang basah sehabis hujan, tak mengurangi minat penggila gitar klasik untuk menyambangi resital yang diadakan di Erasmus Huis, Kuningan, pada tanggal 26 April 2007 itu. Seluruh kursi yang setengahnya diduduki warga asing, hampir tidak tersisa. Ini membuktikan posisi gitar klasik yang mulai diakui di kancah pertunjukkan musik klasik di Jakarta.

Tampil dengan setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu, Nebiolo membuka resitalnya dengan sebuah karya apik milik seorang komposer Spanyol, Gaspar Sanz berjudul Suite Espanola. Karya jaman Renaisans ini dibawakan ketujuh bagiannya dengan lengkap. Harmoni dalam karya Renaisans, didominasi oleh 2 suara, melodi dan bass. Hampir tanpa kesalahan yang berarti, Nebiolo menampilkan kekhasan karya ini. Karakter yang riang dan lincah, serta alur suara bass yang mantap setia mengiringi melodi hingga akhir lagu. Semua ornamen juga dimainkan dengan amat sempurna. Memang, terkesan bawa Nebiolo masih berusaha beradaptasi dengan aroma panggung. Itu terlihat dari permainannya yang terkesan terburu-buru. Perpindahan antara bagian dimainkan hampir tidak terasa. Not-not pendek sering diterjangnya begitu saja tanpa mengambil nafas.

Nebiolo yang tampil 2 hari sebelumnya di Bandung, tidak membawakan karya seharusnya yang ditulis di buku acara. Karya Benjamin Britten diganti dengan karya Grand Sonata dari Paganini.. Tampak sedikit lebih tenang, karya ini seperti mewakili rasa Itali yang khas. Dibuka dengan melodi yang liris dan manis, berkembang menjadi paduan musik yang ramai dan ceria. Tapi sayang, produksi suara yang dihasilkan Nebiolo terlalu tipis. Hingga penonton mesti sigap menangkap not-not tinggi, untuk mendapat efek mendayu yang terdengar samar. Karya ini terdengar lebih biolistik daripada gitaristik. Tak heran, karena sang empunya lagu, Paganini, adalah seorang biolis terkemuka di jamannya. Walau dikenal sebagai pemain biola, Paganini yang dikategorikan sebagai komposer jaman Romantik Awal, juga menciptakan karya untuk gitar, karena ia pun bermain gitar.

Gantian, Heitor Villalobos, seorang komposer Brazil yang lama menetap di Prancis ini dipilih untuk dibawakan karyanya oleh Nebiolo. Villalobos adalah seorang komposer yang cerdas dan revolusioner. Dalam kumpulan karya 12 Etudes-nya, Nebiolo membawakan Etude No.7 dan 11. Dalam menulis karya Etude, Villalobos lebih terobsesi untuk melihatnya sebagai sebuah pergerakan tangan atau jari. Ia tidak menulis secara konvensional yang hanya memikirkan musik saja. Sering terlihat bahwa karyanya hanya pergerakkan jari atau tangan yang hanya bergeser-geser tanpa mempedulikan prinsip harmoni. Tapi itu tak membuat karyanya terdengar asal-asalan. Justru menarik untuk disimak karena punya warna lain dalam pencapaian bermusik.

Pada karya Villalobos ini, Nebiolo bermain dengan amat baik dan mendekati sempurna. Etude No. 7 diterjemahkannya dalam nuansa ketegangan dan kegugupan yang amat sangat. Sedang Etude No. 11, terasa mengalir dan berjatuh-jatuh dengan alami. Persis seperti apa yang diucapkan sendiri oleh Lobos, “Musikku seperti air terjun”.

Sehabis jeda, karya dari J.J. Froberger berjudul Tombeau sur le most de mousicus dan karya Dusan Bogdanovic berjudul Jazz Sonata, menuyusul menjadi karya yang layak diperhatikan. Tidak terlalu familiar memang karya keduanya, tapi tetap membuat mimik serius terpasang di wajah masing-masing penonton.

Karya dari Dusan adalah sebuah karya modern yang menyimpan banyak kejutan di dalamnya. Seperti bunyi senar yang terdapat di kepala gitar tak luput dari jarahan musiknya. Hentakan kaki dan penjalahan nada tinggi yang melampaui wilayah nada gitar juga menjadi kejutan karya yang tercipta di tahun 1982 ini, yang sayang bila dilewatkan. Dusan Bogdanovic sendiri adalah seorang komposer Yugoslavia. Dia juga dikenal sebagai gitaris jazz dan etnik, selain klasik.

Karya Isaac Albeniz yang sangat populer berjudul Asturias didaulat Nebiolo menjadi Encore pada malam itu. Karya yang aslinya bermain dalam tangga nada G minor ini dibuat untuk piano pada mulanya. Namun kemudian, Francisco Tarrega mentranskipnya dalam tangga E minor untuk gitar. Nebiolo memulainya dengan dinamik yang amat lembut dan tempo yang tidak terlalu cepat. Kelembutan dinamiknya menanjak dengan amat perlahan. Penonton seperti tertahan untuk mendengar ekspresi musiknya yang biasanya dimainkan galak dan ceplas-ceplos oleh para banyak gitaris. Tapi itu tak mengurangi tepukkan panjang dari para penonton untuk mengapresiasi penampilan Alessio Nebiolo pada malam itu. Dan mereka pulang dengan menyimpan sebuah malam penuh arti yang ditransfer oleh kecantikkan permainan gitar klasik. Sebuah instrumen yang kata Beethoven adalah miniatur orkestra.

Versi bahasa Inggrisnya dimuat di Jakarta Post, 5 Mei 2007
Tuesday, April 1, 2008
no image

Ekspresi Identitas Dalam Dunia Cyber

KOMPAS Minggu, 04-06-2000. Halaman: 18

" MILIS ini untuk dipakai oleh siapa saja, pengamat burung,pemerhati, atau sekadar memperoleh, mengikuti kabar burung serta lingkungannya... konon kabarnya, kabar burung lebih asyik daripada burungnya sendiri..."

Jangan dulu berasosiasi macam-macam dengan persoalan burung dan kabar burung di atas, karena kalimat di atas tersebut dipetik dari "welcoming message" dari suatu milis para penggemar burung yang ada dalam grup diskusi eGroups.

Milis 'burung' di atas dibuat untuk mereka yang berminat untuk berbicara, berdiskusi, saling tukar informasi sebagai sesama pencinta burung. Milis para pencinta burung ini sejauh datanya tertera pada www. egroups.com & http://www. egroups.com & beranggotakan enam orang, dan milis semacam ini hanya satu dari sekian ratus (ribu?) milis yang dibuat oleh orang-orang Indonesia dengan menggunakan media internet sebagai sarana diskusi.

Jumlah kelompok diskusi ini kalau kita tambahkan dengan kelompok yang menggunakan bahasa Inggris sebagai medium utamanya, jumlahnya bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan ribu.

Kehadiran para kelompok diskusi via dunia cyber ini merupakan suatu perkembangan yang menarik dalam melihat kemajuan teknologi komunikasi lewat media bernama internet. Bahkan kalau menurut Krishna Sen dan David T Hill dalam buku terbarunya (Media, Culture and Politics in Indonesia, 2000, lihat bab "The Internet: Virtual Politics")-dan juga seperti yang pernah dikemukakan oleh Dedy Nur Hidayat dalam salah satu artikelnya-medium internet ini punya peran besar dalam usaha para aktivis mahasiswa dan golongan kelas menengah untuk menjatuhkan rezim Soeharto. Signifikansi medium internet ini oleh Sen dan Hill dianggap setara dengan medium radio yang menjadi pelopor dan alat penyebarluasan kabar proklamasi tahun 1945.

Tulisan kecil ini sekadar memberikan feature atas perkembangan teknologi komunikasi yang kini makin dimanfaatkan sebagai ekspresi identitas dari berbagai kelompok, yang mungkin saja pada masa Orde Baru kesulitan mendapat tempat untuk berdiskusi secara bebas untuk topik-topik yang dianggap tabu oleh Negara (masalah Marxisme, Gay-Lesbian, misalnya).

Perkembangan ini bisa saja dilihat sebagai bentuk demokratisasi media dimana sensor penguasa makin sulit dilakukan oleh rezim-rezim otoriter, tetapi juga bisa juga kita khawatir kalau melihat dalam kerangka besar bahwa industri media, termasuk internet, masuk dalam kekuasaan kapitalisme global, yang kini hanya dimiliki oleh tinggal beberapa aktor besar dalam industri ini. Kita ingat saja kejadian awal tahun 2000 ini yaitu merger antara media internet American On Line (AOL) dan Time Warner yang bernilai $350 milyar. Rekor baru dalam nilai merger dalam industri media sebelumnya antara penggabungan stasiun televisi CBS dengan Viacom (pemilik MTV) senilai $37 milyar.

Sementara itu jumlah pengguna media internet di Indonesia masih sangat terbatas (cuma 0,4% dari total populasi Indonesia, lihat Kompas 6 Mei 2000, "Masa Depan ada di Jaringan Internet", atau kira-kira sama dengan 8 juta orang), jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dari data International Data Corporation, di Asia Tenggara pengguna terbesar dibandingkan dengan rasio penduduknya adalah Singapura (17,9%), Malaysia (5,6%), dan Thailand (2%).

Wacana alternatif
Kelompok-kelompok diskusi dalam dunia cyber yang jauh berkembang dalam dua tahun belakangan ini, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dengan hadirnya berbagai wilayah publik yang bisa dijadikan wacana yang tidak tergantung oleh wacana dominan, seperti misalnya yang ditampilkan oleh surat kabar, majalah dan televisi.

Pembicaraan yang ada di milis grup ini bisa sekadar obrolan santai, saling tukar menukar isu, memberi informasi, saling berkenalan, atau bahkan berdiskusi serius, terutama perkembangan muktahir dalam bidang ekonomi dan politik di Indonesia, misalnya. Bahkan tak jarang dalam salah satu posting milis-milis ini (terutama yang berdiskusi soal politik) ada juga ajakan untuk melakukan demonstrasi untuk memprotes suatu kebijakan pemerintah. Bahkan kita masih ingat dalam beberapa bulan terakhir ini, hasil dari komunikasi via internet ini telah menghasilkan suatu demonstrasi-demonstrasi berskala global kepada rezim ekonomi politik dunia yang dikuasai oleh sejumlah negara industri sambil didukung oleh beberapa agen keuangan multilateral dunia (IMF & World Bank). Kejadian di Seattle pada awal Desember 1999.

Haruslah diakui bahwa dengan keberadaan internet ini telah muncul suatu komunitas tersendiri yang terbagi-bagi atas dasar identitas yang mereka pilih. Mungkin ini juga semacam imagined communities (konsep yang pertama kali diperkenalkan Ben Anderson dalam menjelaskan soal nasionalisme tahun 1983) dengan pengertian lebih diperluas dan memasukkan ide tentang teknologi komunikasi
muktahir di dalamnya.

Kalau dalam penjelasan soal nasionalisme, Ben menyebut medium surat kabar sebagai pemersatu dari komunitas imaji tersebut, namun dengan perkembangan yang canggih dari teknologi komunikasi, medium internet bisa menghasilkan suatu komunitas baru yang tersendiri, yang memiliki berbagai pilihan identitas dan itu sama sekali yang menyangkut soal nasionalisme. Komunitas ini memiliki beragam pilihan identitas dalam saat yang bersamaan, dengan masing-masing kelompok bisa mencapai jutaan anggota, ada yang mencapai ribuan orang, tetapi sebaliknya ada juga yang cuma beranggotakan puluhan orang atau di bawah angka 5 orang misalnya.

Dari ratusan milis yang dikelola oleh para warga Indonesia bisa dikategorikan sebagai kumpulan para professional (jurnalis misalnya, lewat milis Aliansi Jurnalis Independen, serikat jurnalis), atau kumpulan kelompok minoritas (milis tionghoa, milis gay-lesbian misalnya), kelompok ideologi politik (indo-marxist, misalnya), kumpulan yang berhobi sama (milis mancing, musik Indonesia, jazz Indonesia, misalnya),kumpulan mereka yang sedaerah asal (Sukoharjo, Medan, dan lain-lain), kumpulan alumni suatu lembaga pendidikan (mulai dari alumni smp-sma-hingga universitas, baik dalam maupun luar negeri) ataupun kumpulan atas dasar minat tertentu (agama, musik, film, motor, basket dan lain-lain), bahkan beberapa milis ada yang dibuat khusus untuk suatu keluarga besar (misalnya milis Krapyak, yang berada di bawah Yayasan Sapardi Dwijosastro). Tiap milis yang didirikan mendasarkan diri pada suatu identitas yang mereka sepakati.

Identitas di sini yang menjadi pembeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya, dan setiap orang bisa punya banyak identitas, ia bisa seorang lulusan dari Universitas Indonesia, sekarang menjadi pengacara, suami dan ayah dalam sebuah keluarga, punya hobi mancing, ikut dalam milis yang mendiskusikan soal sufi tetapi ia juga tertarik dengan musik jazz.

Konflik yang tak berdarah
Dalam milis-milis ini tentu saja ada pertentangan pendapat, ada juga mungkin konflik identitas, ada ketidaksepahaman. Namun konflik-konflik atau perbedaan pandangan dari para anggota milis ini tentu saja tidak lalu menjadi suatu kepanjangan tangan dari konflik yang berdarah. Paling banter adalah mencaci lawan bicara, atau membalas argumen seseorang dengan opini yang lain. Namun biasanya setiap milis memiliki moderator atau administratur yang akan mengatur lalulintas pembicaraan, dan kala dianggap diskusi sudah melenceng jauh atau jauh dalam maki-makian, biasanya si moderator akan mengingatkan penulisnya.

Setidaknya konflik seperti ini sehat saja untuk membiasakan para anggota milis untuk beradu pendapat, tanpa harus jatuh dalam sikap emosional yang diikuti dengan kegiatan fisik untuk melukai lawan bicaranya. Misalnya dalam milis madia-info (Madia= Masyarakat Dialog Antar Agama) pernah ada debat yang menarik ketika membahas soal gerakan Jihad di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini, atau juga debat soal Yesus sebagai fenomena sejarah yang kerap kali tak cocok dengan gambaran seperti yang ada dalam kitab suci, atau juga perdebatan soal kerusuhan di Ambon. Sekeras apa pun argumen dilontarkan, terserah kepada masing-masing anggota milis untuk menilai mana yang terbaik untuk mereka. Milis madia-info ini dibentuk pada 22 Oktober 1998 dan beranggotakan 83 orang (hingga bulan Mei 2000) dan termasuk milis yang aktif berdiskusi dengan rata-rata pesan yang tersirkulasi per bulannya mencapai 200-300 pesan dalam lima bulan terakhir ini.

Konflik dalam bentuk yang lebih sederhana bisa saja terjadi dalam dunia musik misalnya. Umpama ada seorang fans fanatik dari grup band Rolling Stones berkampanye untuk publik mengakui kebesaran band tersebut. Tetapi tentu saja tak semua bisa dipaksa untuk menyukai Rolling Stones. Generasi muda angkatan 90-an tentu lebih kenal dengan nama-nama group band seperti Counting Crows, Pearl Jam, Guns n' Roses atau Kid Rock.

Grup diskusi sebagai wadah ekspresi
Harus diakui menjelang kejatuhan Soeharto pada bulan Mei 1998 intensitas pemakaian internet sangat besar, dan bahkan sementara pihak ada yang menyebut bahwa kejatuhan Suharto adalah kejatuhan yang disebabkan oleh revolusi yang disusun lewat internet. Perdebatan soal kondisi politik dalam negeri tetap saja menjadi bahan pembicaraan yang tak habis-habis, apalagi dengan melihat adanya polarisasi kekuasaan yang tajam di antara kalangan pendukung dan penentang Presiden Abdurrahman Wahid.

Akan tetapi di samping pembicaraan tentang politik, ada juga berbagai agenda lain yang juga dibawakan oleh berbagai kelompok yang memiliki identitas lain, misalnya saja milis yang dimiliki dan dikelola oleh beberapa kelompok minoritas politik selama ini. Salah satu kelompok minoritas itu misalnya, kelompok masyarakat Tionghoa yang memiliki milis sejak tanggal 15 November 1998 dan hingga kini memiliki 57 orang anggota. Dari catatan yang disebut dalam halaman muka milis ini, frekuensi korespondensi yang paling tinggi adalah antara bulan Juli - September 1999. Misalnya salah satu topik diskusi yang berkembang di situ adalah soal istilah antara "cina", "mandarin", atau "hoa yu" atau "gou yu" guna mengidentifikasi diri mereka, berikut dengan sejarah masing-masing kata tersebut. Lalu juga perdebatan soal "ketionghoaan" itu sendiri sebagai identitas diri dan kelompok.

Kelompok minoritas lain yang juga menggunakan internet sebagai wahana diskusinya adalah kelompok gay dan lesbian. Setidaknya ada dua milis yang memberikan tempat untuk berdiskusi soal kehidupan gay dan lesbian di Indonesia, dan keduanya dikelola oleh kelompok Gaya Nusantara yang dipimpin oleh Dede Oetomo.

Menarik sekali melihat perkembangan besar yang terjadi dalam dunia komunikasi via internet, yang bisa jadi wadah untuk menimba ilmu, mencari teman, berdiskusi, mendapat informasi atau bahkan berkomunikasi dengan para tokoh misalnya.

Fenomena di atas baru sekadar menggambarkan perkembangan dari grup diskusi di internet, namun masih harus dilihat lagi apakah misalnya fenomena merebaknya berbagai grup diskusi ini akan memberi perkembangan tertentu bagi kemajuan bangsa misalnya. Karena media ini pun jika dipakai secara optimal bisa menjadi alat untuk memungkinkan komunikasi jadi lebih setara, demokratis dan lebih murah.
no image

In Memoriam II

terulang lagi
seperti kemarin pagi
bersamamu bermandi hari

dan waktu menembus lapar

kau ingatkanku
puisi yang belum selesai
atau memang tak perlu risau
tentang titik koma spasi

ruang ini kosong, ava adore ompong

seperti tanda perubahan ini
mungkin dahi
tak pantas bergelombang
hanya senjata butuh kukokang


Disimpan:
15:42:53
2008/01/13
Copyright © agenda 18 All Right Reserved