New Post

Rss

Sunday, June 28, 2009
Tuesday, June 23, 2009
no image

Orang yang Paling Sah Diracun

Sekitar sebulan terakhir perasaan saya campur aduk antara sedih, kecewa, tapi juga geli. Dan dalam tiga hari terakhir perasaan-perasaan itu tambah membuncah. Pasalnya saya baru saja membuktikan bahwa saya masih hidup di dan dengan cara dunia ketiga. Baru sekitar sebulan yang lalu bala tentara pertahanan tubuh saya nyahok lawan para begundal bakteri typhus. E… sebulan kemudian, tepatnya tiga hari lalu, serangan diare kembali luput dari pertahanan.


Dalam kondisi seperti ini yang jadi korban adalah istri, yang harus super sibuk menjalankan sejumlah peran sekaligus: ahli gizi, dokter, jururawat, koki, sopir, tukang cuci, tukang pijat (dalam kondisi sehat maunya barter), sampai konsultan yang advise-nya kayak ”grontol wutah” (bagi yang nggak ngerti, bayangkan saja cara bicara lawyer yang dibayar empat kali lipat harga pasarnya).

Saya cuma bisa tutup mulut, tergolek nggak lucu di tempat tidur.

Saya memang representasi kaum urban Jakarta yang mengalami gegar budaya. Kepada teman dan saudara di kampung yang saya anggap ndeso saya sering dengan pongah bercerita tentang Singapur, Kuala Lumpur, Hong Kong, London, Cardiff, Amsterdam, Paris, Hannover, atau Frankfurt. Bahkan juga bercerita pernah kencing di atas India, Pakistan, Laut Mati dan Italia (yang terakhir ini mengikuti teman saya Abraham Runga, yang bercerita, ”Abangmu ini pernah kencing di atas New York dan Toronto”). Tapi tetap saja, saya paling menjadi diri sendiri ketika nongkrong di warung tenda biru, nyeruput kopi tubruk murahan sambil mengudap somay, pisang goreng, atau bakwan bumbu. Kalau janjian dengan Abraham, teman saya tadi, kami juga tidak nongkrong di kafe yang penuh dengan pengunjung wangi, tapi di warteg di Jl. Mas Mansyur, yang bau amis oleh ”keringat kaum proletar”...

Nah, saya lantas ingat seorang narasumber saya, Pak Januar Darmawan. Orang miskin (dalam bahasa saya) memang paling sah untuk diracun. Perlindungan kesehatan pangan hanya berlaku untuk mereka yang berduit.

Logikanya begini. Lihat saja aturan-aturan mengenai makanan. Semuanya hanya menyangkut makanan dalam kemasan luks. Setiap pihak yang memproduksi dan menjual makanan dalam kemasan luks (nggak tertulis begitu sih, tapi makanan yang dibungkus plastik seolah bebas dari aturan) harus mencantumkan ingredien makanan, dan produk itu harus lolos uji dan standar kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Mleset sedikit saja dari ingredien yang tertulis, jangan tanya... produsen itu akan langsung jadi bulan-bulanan ”reportase investigasi” teman-teman saya, haha... Sempurna sudah perlindungan untuk kaum kaya, dengan anjing-anjing penunggu (watch-dog) yang galak.

Tentu saja aturan itu tidak jelek. Yang jelek adalah ketidaksadaran (benarkah???) bahwa aturan itu akhirnya hanya efektif melindungi kelompok pembeli yang mampu membeli makanan dalam kemasan mewah (berbahan baku karton atau aluminium foil, dicetak dengan desain grafis yang bagus). Mereka yang membeli makanan murah (entah karena maunya atau karena mampunya) secara otomatis tersingkir dari cakupan perlindungan tersebut. Bayangkan saja. Setiap hari mereka (termasuk saya, haha...) berhadapan dengan makanan yang non-standar. Bagaimana mau standar? Warung makan model ini jualan makanan apa saja nggak ada yang peduli. Jual bakso yang sempet kecemplung comberan pun nggak ada susahnya. Seorang teman bercerita, di Slipi dia lihat tukang mi ayam mengumpulkan sawi yang tidak dimakan pelanggannya, mencucinya (biar sehat kaleee...) dan mencampurkan pada porsi mi ayam berikutnya.

Terus terang saya nggak berani berharap pemerintah akan membuat standarisasi warung atau penjaja makanan kaum miskin. Di negara yang (ironis nggak sih?) sangat saya cintai ini standarisasi selalu dipersepsi sebagai sesuatu yang birokratis, susah, ribet, mahal, legalistis... sebut saja... Para elit lebih merasa diri berbobot ketika membual tentang sesuatu yang saya khawatir mereka sendiri nggak paham: neoliberalisme, jalan tengah, ekonomi kerakyatan... Bakso kecemplung comberan ... fiuh... sama sekali nggak gengsi.

Saya lebih berharap ada LSM yang sungguh peduli (jangan-jangan ini mimpi yang lebih parah), yang mau melakukan standarisasi warung makan kaum miskin ini. Mimpi saya, LSM ini akan membina para penjaja makanan mengenai standar kebersihan dan kesehatan, baik di tingkat poses, produk maupun lingkungan (warung). Warung-warung yang lolos standar ini akan mendapat label yang mencolok: Warung Sehat...

Oh iya... tapi kalau warung itu lantas laris, harga kopi tubruk dan somaynya jangan-jangan naik... sial juga. Haha, dasar ide proletar...
Wednesday, June 17, 2009
no image

NYANYIAN PEZIARAH

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Ia seperti riak-riak kecil dalam lautan ketenangan
Ia seperti guncangan-guncangan dalam padang kemapanan
Ia seperti roda-roda putar dalam kemandegan
Ia seperti ikan-ikan kecil lepas dari pusaran arus

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Jadi diri sendiri di tengah wajah-wajah seragam
Jadi pembangkang di tengah ketaatan bodoh
Jadi pendosa di belantara orang suci yang palsu
Jadi orang asing di depan jiwa-jiwa tak berwajah

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Memilih berjalan daripada berpangku tangan
Menyelami kedalaman di tengah samudra kedangkalan
Mengatakan tidak, jika tidak
Mengatakan ya, jika memang ya

Cinta adalah jiwa pemberontakan
Membaca apa yang tidak terbaca
Mendengar apa yang tidak terdengar
Mengatakan apa yang tidak terkatakan
Melakukan apa yang diacuhkan


Cinta adalah jiwa pemberontakan
Membebaskan dari belukar ketidakbebasan
Memaknai segala ketakbermaknaan
Mengembangkan di dalam arus pengekangan

Dan kami bertekad saling mencintai
Saling memerdekaan, bukan membelenggu
Saling mengembangkan, bukan memasung
Saling menghormati, bukan menindas
Kami mau memadukan langkah-langkah dalam peziarahan
Peziarahan di JALAN PEMBERONTAKAN....


@ Hari Kristus Raja Semesta Alam, 26 November 2006. Diterbitkan di Buku Misa Pernikahan Sigit Kurniawan dan Natalia Alami Asih
no image

Petir Merah Jambu

“Tok, tok… toktrook,” aku mengetuk pintu. Tak ada yang membukanya. Kuulangi lagi mengetuk pintu. Masih belum ada yang mau membukakannya. Kuulangi lagi, masih tak ada. Terus kuulangi….

“Dari mana kamu, Di?” sapaan perempuan itu perlahan-lahan menyentuh selaput telinga. Terdengar jauh.

Cuek! Aku masuk. Tak sedikit pun mataku mampir padanya. Mungkin ia memandangku kesal, sedih, getir, pilu. Ah, jelas aku tak punya waktu untuk memikirkannya. Apalagi merenungkannya.


Berjalan gontai, aku melewatinya. Ia mengikutiku dari belakang. Inderaku telah sangat terlatih untuk merasakan setiap gerakan perempuan satu ini bahkan dalam keadaan setaksadar apa pun. Kini pun aku tahu, tatapan matanya terus mengikuti jejak bayanganku yang tertinggal di ubin putih.

Aku memanjat anak-anak tangga kayu dan meninggalkan bunyi berderit yang bergema malu. Langkahku tak pasti. Absolute Vodka, Jack Daniels, Black Label, enggan melepaskan lilitannya di urat-urat syarafku. Perempuan itu masih membuntutiku. Langkah kakinya meremajakan derit yang kutimbulkan.

Dengan sentuhan lembut sepatu botku, kudorong pintu kamar. Sprai, selimut, bantal, tertata rapi di ranjang. Kulemparkan tubuh yang masih beratribut ziarah malamku ke ranjang. Dengan manis, wajah mendarat di atas bantal empuk diikuti tindihan tubuh pada kasur. Seketika, bantal dan kasur mengerutkan diri, enggan menyambutku. Tetapi, apa daya mereka? Tubuhku terus saja menindih mereka. Wah, ternyata mereka memberontak! Kasur dan bantal menurunkan tubuh mereka beberapa senti. Tiba-tiba bagaikan tali busur, mereka membusungkan tubuh dan melemparkanku ke udara. Aku melenting ke langit sejauh puluhan lemparan tombak.

Langit tak mau menerimaku, ternyata. Awan-awan, langit biru, matahari, bintang, bulan, semuanya tak sedetik pun tersenyum padaku. Kembali aku ditendangnya ke bawah. Di bawah, bantal dan kasur masih saja marah. Aku kembali dilentingkan ke langit.

Langit masih tak mau menyambutku sedangkan bantal dan kasur belum juga berhenti marah. Aku melenting ke langit, ditendang kembali ke tempat tidur, dilentingkan, ditendang lagi….

***

“Adi. Bangun, Di! Mama mau bicara sebentar,” kata-katanya merasuki telinga, seiring belaian tangannya di kepalaku. Bagaimana bisa ia ada di sini? Apakah ia pun terlempar ke ketinggian ini? Atau mungkin ia menyusulku entah dengan kendaraan apa? Huh, apa pun itu, ia tetap mengganggu aktivitasku. Mataku terus terpejam. Kedua otot penggerak kelopakku pun, masih kehilangan semangat bekerja mereka.

“Di, kamu dari mana, Nak? Kok, baru pulang selarut ini?”

“Ah, ini kan baru jam dua belas?” jawabku sekadarnya.

Ya, jam berapa sekarang? Jam. Kata ini telah keluar dari repertoar kosa kata otakku dalam beberapa hari terakhir ini. Kapan harus pulang ke rumah, kapan belajar, kapan begini, kapan begitu, kapan melakukan apa dan kapan diperlakukan bagaimana, telah aku lupakan. Telah menjadi masa lalu.

Aku tak tahu. Sudah kukatakan tadi aku tak tahu. Aku telah menyepelekannya. Yang kutahu, jalan sepanjang kampung ini telah sunyi. Tak ada bunyi “tok, tok, tok” nasi goreng, tak ada suara “roti, roti” penjajak roti, tak ada bunyi lonceng kecil bahkan suara perkelahian daun dan angin pun sama sekali tak kudengar.

“Kamu mabuk lagi ya, Di?” Aku hanya diam, tak ada semangat membantahnya.

“Aduh, Nak. Jangan sentuh lagi barang itu. Mama dan Papa hampir bosan menasihatimu tentang soal yang satu ini. Bahkan, Bapamu sudah tak mau memikirkannya lagi. Kamu mau mabuk-mabukkan atau melakukan apa pun, dia sudah tak mau ambil peduli. Tapi mama tak…”

Kata-katanya masih saja berkejaran di langit-langit kamarku. Kutinggalkan jauh di bawah semuanya. Aku terus melayang, masih melayang dan semakin melayang-layang bak layangan.

Dunia kugenggam, dunia kupegang. Terus melayang. Di langit, hari siang berganti malam lalu siang lagi dan malam pun tiba kembali. Aha, dan lihatlah di bawah sana. Bumi mulai cerah wajahnya, kala matahari terbit di timur. Bila matahari tiba di barat, bumi dengan wajah memerahnya melambai-lambai pada matahari berucap sayonara.

Aku terus melayang-layang. Awan-gemawan menyelimuti tubuhku. Hah, dinginnya. Inikah dingin yang sejati? Dingin yang menyejukkan sekaligus meremas-remas tubuhku. Tulang-tulangku luluh, luruh oleh sejuknya.

Aku terus melayang-layang. Burung-burung sejenak singgah, sejenak hinggap di tanganku, di kepalaku, di sekujur tubuhku. Kulewati awan-awan, kulewati langit biru gemerlapan. Aku semakin jauh melayang. Kulihat bumi bagaikan bola kaki biru belang-belang putih. Aku terus menjauh, melayang-layang. Segerombolan awan kulewati, tiba aku di gerombolan awan yang lain, sejenak aku mampir di sana membasahi tubuhku dan tenggorokanku.

***

Suara-suara tawa kecil terdengar kini. Lirih. Kubayangkan hantu-hantu kecil (atau malaikat?) mengitariku, memandangiku. Suara tawa kecil itu semakin ramai terdengar. Ah, aku kedinginan lagi. Sejuk terasa di wajahku. Apakah awan punya tangan halus yang mampu membelai seindah ini? Dingin.... Suara-suara itu ramai menikam telingaku.

Kubuka mataku. Oh, benar. Ada tangan putih yang membelaiku. Anehnya, setelah membelai, tangan itu seolah-olah hilang, lesap ke dalam pori-poriku. Lalu, muncullah tangan putih lain yang pada akhirnya hilang juga ditelan pori-poriku.

Kulayangkan mataku sedikit jauh ke atas. Nah, sekarang baru aku tahu, dari mana datangnya suara-suara kecil menggelikan itu. Di atas sana, sekitar dua puluh meter dari mukaku, kulihat manusia-manusia kecil dengan sayap merpati putih di punggungnya. Kulit mereka bening. Seolah terbuat dari air. Tapi, tidak. Kalau air pasti mengalir. Kalau gas, pasti tak berbentuk. Yah, mereka seperti es. Sangat kecil, sekecil dua telapak tangan. Walau mereka telanjang, aku tak bisa membedakan jenis kelamin mereka. Bentuk tubuh mereka hampir sama, alat kelamin mereka tak terlihat jelas.

Mereka terus terbang ke sana-ke mari sambil bercanda tawa ria. Di sekitar mereka, kadang-kadang menyembullah dari bumi kilat merah muda. Bila kilat merah muda itu muncul, makhluk-makhluk itu memandangnya dengan penuh kerinduan, semacam akhir penantian panjang.

Nah, lihat. Kilat merah muda itu muncul lagi.

”Plop”. Bunyi letupan kecil mengiringi kedatangan seorang lelaki kecil berkulit kemerah-merahan, lesung pipit manis hiasi pipi gemuknya. Tentu saja lelaki kecil itu bersayap halus serupa malaikat kecil.

”Hui… hui… Kupido, Kupido, Kupido! Amor, Amor, Amor. Ia datang…. Ia datang….” Makhluk-makhluk kecil itu bersorak-sorai kegirangan dan terbang meloncat-loncat indah. Kupido tersenyum manis. Dibelainya beberapa makhluk kecil yang berada di dekatnya; membuat pipi-pipi bening beberapa makhluk kecil itu berkilat mengkilat dan mengeluarkan bunyi ”ting”. Lalu, Amor mengangkat tangannya ke atas dan muncullah di tangannya sebuah busur berwarna biru muda dengan tali busur sewarna susu. Tanpa anak panah, ia menarik tali busur itu. Sekali lagi ia tersenyum memamerkan lesung pipitnya sambil mengedipkan mata pada makhluk-makhluk kecil yang kini berkerumun di belakangnya. Tiba-tiba, muncullah di busur dan tali busurnya sebuah anak panah merah.

Ia lalu maju ke depan, terbang melewatiku. Kuarahkan mataku mengikutinya. Ia berdiri di atas awan putih kecil. Lalu, dibidikannya anak panahnya dan dilepaskannya tali busurnya. Anak panah bermata hati itu melesat, melewati awan gemawan, langit biru, dan terus menukik ke bawah. Anak panah itu terbang sembari meninggalkan bekas garis merah muda yang bercahaya terang.

Beberapa menit setelah panah dilepas, salah satu dari makhluk-makhluk kecil itu beramai-ramai didorong teman-temannya. Mereka tertawa-tawa bahagia saat mendorongnya.

”Selamat ya….”

”Penantian panjangmu berakhir sudah.”

”Tunggu kami di bawah sana, ya.”

”Semoga kita bersua pula.”

Salah satu dari gerombolan makhluk kecil itu mendekati seluncuran merah muda. Ia mengecup pipi makhluk kecil yang didorong tadi sambil berbisik pelan, ”kita akan bersatu di bawah sana. Harus bersatu dan bersama di bawah sana” Selesai berbisik, ia lalu menancapkan kukunya pada bahu makhluk yang didorong tadi. Tanda lahirmu. Agar aku bisa mengenalimu kelak, katanya kemudian.

” Hei, siapa kau?” Amor melihatku dan membentakku.

”Teman-teman. Ada penyusup. Usir dia.” Katanya lagi.

Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu makhluk kecil itu mendekatikku. Ah, makhluk kecil. Bisa kuhabiskan sepuluhnya dalam satu kebasan tangan, pikirku. Ternyata, aku salah. Setiap kali aku ingin menerjang mereka, seketika itu juga seluruh tubuhku terasa kaku.

”Pergi kau! Dan ingat; kau harus melupakan segala yang kau lihat tadi.”

--

Pontianak Post Minggu 7 Juni 2009
no image

Surat Buat Penjilat Rakyat

Kami tidak punya kamus
Dari anda lah kami belajar kata-kata baru
Khususnya kata janji

Sambil tersenyum anda bilang:
“Saya janji akan membuat kalian sejahtera!”
Dan dengan semangat anda berseru:
“Saya janji tidak akan meninggalkan kalian!”

Sejak saat itu kami menggunakan kata janji untuk sesuatu yang tidak akan kami lakukan.

Lalu anda berteriak:
“Dukung saya!”


Inilah jawab kami:
“Kami janji akan mendukung anda sepenuh hati”
“Kami janji tidak akan membuat anda menderita sampai mati”
“Kami akan datang bersama sebilah belati”
“Sudah kami siapkan pula sebuah peti”
“Sampai nanti”
Copyright © agenda 18 All Right Reserved