New Post

Rss

Saturday, July 19, 2008
no image

Edisi Kejutan

Edisi kali ini, redaksi mendapatkan kejutan dari salah satu anggota Agenda 18. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam inbox pesan facebook milik redaksi, pada 26 Juni 2008, pukul 17.14. Seperti ini isinya:


hei... halo.. mau tanya dong caranya masukin tulisan ke blog Agenda 18? tulisanku emang ga banyak. apalagi sekarang2 ini makin jarang nulis. tp pengen juga masukin tulisan ke blog.

piye yo caranya?


thanks


Sehari kemudian. setelah membacanya, segera saja pesan itu kubalas, begini:

halo juga!
kirim aja tulisannya ke email gue: xxx@email.com*

nanti akan ada sesi editing, trus baru ditampilin deh ;)

gue tunggu ya ;)


Btw, Selamat menempuh hidup baru!

God bless ur fam :)


Beberapa hari kemudian, muncul beberapa buah surat elektronik dari si pengirim pesan tadi, berisi beberapa tulisan. Ada puisi dan juga cerpen.

Lalu siapakah dia?

Bagi yang membaca 2 kalimat terakhir dari pesan balasanku, mungkin akan segera tahu. Yup, dia adalah Lia! Christie Nathalia nama lengkapnya.

Yang menarik adalah, tanggal 23 Juni 2008, pukul 17.20, Lia mengirimkan sebuah pesan kepadaku pula. Isinya:

God has made everything in His time,
beautiful..when He united,

beautiful..when He rises the love..and,

beautiful..when He be so kind as to join our love into
Holy Wedding Ceremony
"By the Grace & Blessing of Lord"


Cordinally request the honour of your presence at our Wedding :

Lia & Nang Tok


Holy Matrimony :
Sunday, 6th July 2008 at 10.30
The Church of St. Yohanes Maria Vianney

Jl. Mayjen Sutoyo, Kebumen
Central Java Wedding

Reception:
Sunday, 6th July 2008 at 12:30
SD Pius (Gereja St. Yohanes Maria Vianney),

Jl. Mayjen Sutoyo, Kebumen
Central Java.

Cordially yours,

Lia & Nang Tok


Ya! Lia saat ini telah berkeluarga sendiri! Dan tidak salah jika blog kali ini didedikasikan khusus untuk pasangan muda tersebut (tidak juga sih, lebih karena tidak ada yang mengirim tulisan lain, hehehe). Juga, melalui blog edisi kali ini, serta tulisan ini, keluarga besar Agenda 18 mengucapkan "Atas Berkat dan Rahmat Tuhan, Selamat Menempuh Hidup Baru!"


*tidak dipublikasikan untuk menjaga privasi



no image

Namaku Maya

Panggil aku Maya atau May, atau bisa juga May May. Terserah orang mau memanggilku apa. Ibu dan ayahku biasa memanggilku Sri. Sariyem Sri Handayani Prasetyoko adalah nama yang tercantum di akte kelahiranku. Nama yang tidak pernah kusukai semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta. Nama yang terlalu berbau Jawa dan kampungan. Maaf, bukannya aku benci pada kampungku, hanya aku merasa namaku agak ndeso, gak modern. Ibuku saja namanya lebih modern, Cicilia Andiriani Wijanarko, sedangkan ayahku Gatot Adi Prasetyoko. Tidak kampungan dan lebih modern. Herannya kenapa mereka bisa memberiku nama Sariyem Handayani seperti ini.


Sudah sepuluh tahun aku menggunakan nama Maya bila berkenalan dengan orang lain. Nama Sariyem Sri Handayani hanya tercantum pada KTP, SIM, rekening bank, ATM, kartu kredit dan identitas lain. Untungnya kantorku memperbolehkanku memakai nama Maya di ID card karyawan. Seluruh karyawan di kantorku, kecuali bagian HRD, juga tahunya aku bernama Maya. Mbak Maya, begitu mereka biasa memanggilku.

Saat ini pukul 19:00 dan aku sedang menunggu Joko di sebuah cafe dekat kantor. Dia lelaki yang sudah lima bulan ini menemani hari-hariku. Jangan tanyakan tentang namanya yang rada kampungan itu. Kalau kalian bertemu dengannya pasti tidak akan banyak protes dengan nama Joko itu. Badannya tegap, dadanya bidang, giginya rapih dan putih, wajahnya tentu saja tidak sekampung namanya. Mirip-mirip Jude Law. Itu dia datang dengan senyum manisnya dan kemeja biru tua favoritnya. Bersamanya aku merasa nyaman.

Pertemuanku dengan Joko terjadi saat aku sedang mempresentasikan beberapa contoh iklan yang telah kantorku kerjakan. Kantor Joko adalah salah satu klien baru perusahaan advertising tempatku bekerja. Maya, demikian aku memperkenalkan diriku pada Joko. Tentu saja waktu itu aku memanggilnya Pak Joko. Waktu itu Joko hanya tersenyum dan menatapku dengan tajam. Rasanya aku pernah memandang wajahnya entah dimana. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena berkonsentrasi sekarang pada presentasiku.

Keesokan harinya kantorku dihebohkan dengan adanya kiriman satu lusin karangan bunga Lily. Hei! Itu bunga favoritku. Beruntung sekali orang yang mendapatkannya. Resepsionis katanya sempat menolak bunga-bunga itu karena nama orang yang tercantum pada karangan bunga itu tidak ada di kantor ini. Si pengantar bunga tetap ngotot mengantarkan bunga tersebut karena katanya sudah dibayar dan alamatnya jelas tertera kantor ini. Akhirnya beberapa temanku mengambil karangan bunga tersebut dan menaruhnya di meja mereka masing-masing. Termasuk aku sendiri tentunya, tanpa tahu siapa si pengirim karena si pengantar bunga merahasiakannya.

Kemudian selama hari-hari berikutnya kiriman bunga itu terus datang. Kantorku sampai penuh sesak dengan bunga Lily. Bayangkan, setiap hari satu lusin karangan bunga. Karena penasaran, aku bertanya pada bagian resepsionis untuk siapa karangan bunga tersebut ditujukan. Bunga-bunga itu semua untuk Sariyem Sri Handayani. Sariyem Sri Handayani... Sa..ri...yem... Sri.. Han... da... dan tiba-tiba semuanya begitu gelap.

Bangun-bangun aku ternyata aku berada di sofa ruang meeting dengan ibu kepala HRD, Ibu Ida, disampingku. Astaga... tadi aku pingsan karena saking kagetnya mendengar namaku sendiri. Ibu Ida hanya tersenyum dan memberiku teh manis hangat. Beliau bilang tidak ada salahnya menerima dan mengakui nama yang telah diberikan orangtuaku karena tiap nama mempunyai arti dan harapannya masing-masing. Hari itu aku diijinkan pulang lebih cepat dengan diantar supir kantor. Ibu Ida yang baik tetap menjaga kerahasian nama asliku.

Sesampainya di rumah, ibuku bertanya kenapa pulang lebih cepat dari biasanya. Aku cuma bilang pusing dan langsung masuk kamar. Diam-diam aku menangis, benci dengan kepengecutan diriku untuk mengakui namaku sendiri. Umurku sudah 25 tahun dan sampai sekarang belum pernah menjalin kasih dengan siapapun. Hari-hariku diisi dengan mengejar karier. Sekarang ada seseorang yang mengirimiku lusinan bunga Lily dan aku tak bisa mengakui kalau bunga-bunga itu dikirimkan untukku. Aku tidak sanggup membayangkan apa tanggapan teman-teman kantorku kalau mbak Maya yang cantik, mbak Maya yang modis, mbak Maya yang sanggup meyakinkan klien dengan sekali presentasi, ternyata namanya Sariyem Sri Handayani.

Akhirnya aku jatuh tertidur dengan ditemani berbagai bayangan menakutkan didalam kepalaku. Aku terbangun oleh ketukan pada pintu kamarku. Ibuku bilang ada tamu dan katanya laki-laki. Mungkin teman kantorku karena berpakaian kemeja rapi. Hmm... siapa ya kira-kira yang datang menengokku. Biasanya teman-teman kantorku takut dekat-dekat denganku yang katanya galak. Mungkin karena itu juga aku sulit dapat pacar. Cantik dan galak bukanlah perpaduan yang cocok untuk dijadikan pacar.

Ternyata tamuku adalah Pak Joko. Dia datang karena katanya tadi mencariku di kantor dan mendapat keterangan bahwa aku pulang cepat karena sakit. Joko, kemudian dia memintaku memanggilnya tanpa embel-embel Pak, mengajakku makan malam hari Sabtu besok. Herannya aku mengiyakan saja, seperti sudah tersihir oleh pesonanya. Astaga, Joko ini ganteng sekali kalo dilihat, obrolan kami pun sudah seperti teman lama saja.
Semenjak aku jatuh pingsan, karangan-karangan bunga itu tidak pernah datang lagi. Hubunganku dengan Joko pun semakin dekat semenjak makan malam di hari Sabtu itu. Aku pun juga mulai melupakan tentang lusinan karangan bunga, entah siapapun pengirimnya, dan pagi ini setelah lima bulan berlalu tiba-tiba kantorku mendapatkan lima lusin karangan bunga Lily yang ditujukan untuk Sariyem Sri Handayani. Ibu Ida hanya menatapku tajam dan aku hanya bisa pura-pura tidak peduli dengan bunga-bunga tersebut.

Teman-temanku pun mulai berceloteh: senang sekali si Iyem yang dapat bunga-bunga ini, dari kampung mana dia, kenapa bisa nyasar ke Jakarta, jangan-jangan dia itu Office Girl kantor sebelah yang dikejar-kejar Pak Lurah dari kampung, dan beberapa celotehan yang membuat kupingku panas. Ingin rasanya aku menghajar orang yang mengirim bunga-bunga tersebut.

Itu adalah kejadian pagi ini, dan sekarang didepanku ada Joko yang baru saja datang. Tiba-tiba didepanku ada seikat bunga Lily putih. Ini untukmu, kata Joko. Bunga favoritmu dari dulu. Darimana Jaka tahu bunga favoritku dan kenapa tiba-tiba dia berlutut didepanku? Joko mengeluarkan cincin dari sakunya dan mengatakan, “Sariyem Sri Handayani Prasetyoko, maukah kau menemani hari-hariku sebagai istriku?” Sariyem.... darimana dia tahu nama Sariyem itu dan bunga-bunga Lily ini. Jangan-jangan.... dan semuanya pun menjadi gelap lagi. Aku hanya sempat mendengar Joko mengatakan bahwa dia teman masa kecilku di kampung.

*Cerpen pernah dimuat di majalah SPICE edisi April '07.
no image

Ketika ‘Ku Hitam

Akankah kau mengenaliku di surga sana?
Jika semuanya tampak begitu sempurna
Begitu indah dan damai
Terang gemilang

Akankah kau mengenaliku yang hitam ini?
Penuh dengan air mata kesedihan
Amarah yang menggelegak
Iri hati yang membusuk

Akankah kau menyambutku lagi…
dengan sayap keemasanmu?
Menyelimutiku dengan kedamaian
Seperti dulu… ketika kumasih putih
dan berada dipelukanmu

Akankah kau melihatku diantara terangmu?
Ketika ku hitam
Andai iya…
Ijinkan aku menjadi bayangan darimu
Mengikutimu kemanapun
Dan aku pun kembali menjadi putih dalam terangmu

26/12/2006

no image

Iri

Aku iri…
Iri pada burung-burung yang bebas beterbangan
Pada anak-anak yang tertawa di pinggir kali

Aku iri..
Iri sekali…
Sampai ingin rasanya aku mematahkan sayap-sayap burung itu
Ingin aku menampar pipi-pipi halus anak yang tertawa
Aku iri…
Tidak ada yang boleh bebas selain aku!
Tidak ada yang boleh tertawa selain aku!
Hanya aku… aku… dan aku…
Karena aku iri..
Dan itu semua sudah cukup.
no image

Haruskah Aku Menangis?

Mencermati geliat pendidikan di indonesia, ada masa di mana pendidikan itu terasa "bergairah". Sayangnya gairah itu selalu disertai dengan kesedihan dan tak jarang ada amarah di dalamnya. Hal itu dikarenakan tidak sedikit pelajar yang harus menelan pil pahit dari Ujian Akhir nasional. Bagaimana tidak jika hampir setiap tahunnya ada ratusan bahkan ribuan siswa di indonesia harus mengulang atau bahkan tidak lagi melanjutkan pendidikannya setelah hampir tiga tahun mengenyam pendidikan.

Ironisnya, pelajarlah yang selalu menjadi kambing hitam dari permasalahan tahunan itu. Mereka dicap pemalas, tidak belajar dengan tekun atau bahkan tidak berprestasi. Jika cap-cap itu menempel, lalu mereka harus apa. Padahal, pada kenyataanya yang gagal menembus dinasti Ujian Akhir Nasional itu, tidak sedikit pelajar-pelajar yang memiliki banyak prestasi bahkan unggul dalam pelajaran.

Orientasi dari Ujian Akhir Nasional terlihat hanya pada hasil. Tujuannya yang dibungkus dengan istilah "untuk menguji kemampuan" hanyalah menjadi sebuah kamuflase dari lemahnya penilaian pada UAN. Maka, tidak salah lah jika tidak sedikit orang yang terjebak pada budaya instan yang menutup sebelah mata proses yang dilakukan untuk mencapai tujuan.

Kita sering kali tidak menyadari bahwa sebenarnya proses lebih dahulu dari pada hasil. Yang lebih banyak kita pahami adalah hasil merupakan ukuran untuk melihat bahwa seseorang mampu atau tidak. Sebagai sebuah analogi, saat seseorang lahir, yang petama kali dilakukannya adalah menangis bukan bernyanyi. Apakah kita tau saat anak itu lahir bahwa ia akan menjadi seorang penyanyi. Proseslah yang akan menunjukan bahwa ia akan menjadi penyanyi atau tidak.

Lemahnya kebiasaan yang mengabaikan proses membuat ungkapan-ungkapan seperti, “kamu anak bodoh”, ”kamu anak malas”, “kamu anak tidak berprestasi” mudah terucapkan. Jika sebuah proses itu di hargai maka niat untuk berusaha pun akan tumbuh. Tetapi jika tidak ada rasa penghargaan
terhadap proses, maka akan semakin banyak orang berpikir, ”untuk apa bersusah payah mengusahakan sesuatu jika kemungkinan gagal masih ada?”

Untuk dapat membawa penilaian pada orientasi proses, perlu ada inovasi terhadap bentuk dari UAN. Selama ini bentuk yang ada adalah soal-soal pertanyaan, dan yang dijadikan nilai adalah benar dan salah. Jika benar dapat nilai. Jika salah, ya sudah mau diapakan lagi? Untuk dapat mengarah pada orientasi proses maka bentuk ujiannya pun harus sesuai. Untuk ujian bahasa indonesia, siswa tidak selalu harus menjawab pertanyaan teoritis. Dapat saja dalam jangka waktu satu tahun, sendiri atau secara kelompok, mereka membuat kumpulan cerpen atau novel. Dari situ mereka akan lebih banyak belajar bahkan menerapkan teori-teori yang pernah diajarkan. Sekolah atau pihak penerbit umum dapat menerbitkan hasil mereka sebagai bentuk penghargaan kerja keras yang dilakukan.

Selain itu, untuk bidang matematika, pelajar dapat diuji dengan cara melakukan praktek mengajar untuk teman-temannya, adik kelasnya atau bahkan untuk anak-anak jalanan. Dengan berbagi ilmu seperti itu, dapat dilihat pehaman pelajar terhadap materi yang telah dipelajari. Dan yang pasti tidak hanya berguna untuk dirinya tetapi juga bagi orang-orang yang mendapat kesempatan dibantu dalam belajar.

Untuk dapat melakukan hal itu, peranan sekolah pun harus aktif melakukan proses dan memberikan penilaian objektif pada proses yang dilakukan pelajar secara berkesinambungan.

Semoga pendidikan di Indonesia tidak lagi menuai tangis dan kekecewaan dari peserta didiknya, namun kembali bergairah dan mampu mengargai serta memberi tempat pada proses yang dilakukan.
Copyright © agenda 18 All Right Reserved