New Post

Rss

Tuesday, December 8, 2009
no image

Nuounou

cebuah cerpen

Dia berjalan dalam keheningan malam. Tak ada api, hujan, dan angin. Ini malam yang mati; malam ketika lolong anjing tak akan membuat bulu kudukmu berdiri. Ah, kisah tentang malam, tak pernah akan selesai.

Malam, sebuah lagu terdengar. Pengendara dalam badai yang berjalan menantang zaman. Butuh kau segelas anggur atau sekeresek anggur? Tinggal isi kantongmu bukan yang menentukan seleramu? Ah, sudahlah. Jangan terlalu lokal. Bukankah pencerita harus menulis cerita yang menyapa lebih banyak orang? Tapi saya bukan pencerita. Saya hanya harus menorehkan beberapa kata ketika kepala sedang penuh-penuhnya. Kau tempat sampahku! Tentu saja. Ini hanya sekadar memberi rasa berarti pada jari.

Malam yang hangat. Ah, malam. Dunianya para binatang, mereka yang dari kumpulannya terbuang, kalau kau masih mau mengenang Chairil Anwar.

Anjiiiiiiiiiing! Dunia penuh pengguna topeng menjijikan dan membuat kita ingin muntah. Tapi bukankah Nietzsche mengatakan, memang begitulah hidup? Sudahlah! Katakan saja ya pada hidup. Itu mungkin lebih membantumu. Tapi tidak. Ia seorang gila, Bung. Bukan hanya itu, Nietzsche juga punya suatu kepercayaan dan punya suatu keinginan untuk membersihkan pemikiran dan hidup dari segala pedoman hidup; dia punya satu cita-cita juga, mengembalikan semua orang pada pengenalan diri sendiri dan mengikuti jalan hidupnya sendiri-sendiri. Nietzsche seorang pengagum ‘yang entah’ (dengan huruf kecil) yang sangat fanatik sepertinya. Maka, dia sama saja dengan yang lainnya dalam hal ini; ada tujuan yang terselubung. Kita butuh tujuan atau sesuatu yang kita percayai. Walau pun tujuan memang tak pernah pasti dan kepastian nyatanya tak bertujuan. Mungkin!

Arrrrrrgh, aku butuh anggur saat ini; semacam menghirup kembali intuisi Dionisian. Hidup kadang memang sungguh meresahkan di satu sisi tetapi begitu nikmatnya di sisi yang sama.

Aku sedang ingin menulis. Menulis sesuatu, yang tak perlu berarti untuk orang lain atau berarti untuk diri sendiri atau berarti untuk tulisan itu sendiri. Aku hanya sedang ingin menulis, sedang ingin dan sedang ingin saja. Mari tak bertanya apa-apa. Oke?

Ada sebuah kisah tentang Dionisius ini. Di sebuah pulau, yang saya lupa pulau apa, Dionisius dan kekasihnya, Corona, hidup bahagia. Namun suatu ketika, mampirlah di situ seorang pahlawan Sparta yang pulang dari perang saudara. Saya pun, maaf, lupa namanya. Dionisius waktu itu tengah berada di ladang anggurnya. Corona seketika itu juga jatuh cinta dan pergi bersama sang pahlawan, kesatria itu.

Sudahlah, mari kita tinggalkan Dionisius. Saya sedang menginginkan sesuatu yang lain; semacam kehangatan dalam selimut waktu, di suatu tempat yang entah, di suatu janji yang entah, di suatu masa depan yang entah juga, di sebuah suasana yang entah juga. Ah, keentahan, keingintahuan atasnyalah mungkin terkadang membuat kita bertahan di sini, melakukan hal-hal tak penting ini; merokok, mendengarkan musik, seperti menunggu Godot. Atau mungkin lebih indah dibilang mengejar Godot atau mencari Godot? Mungkin tiga kata itu punya esensi yang sama; mengejar, mencari, dan menunggu dalam hal ini berobjekan Godot.

Ufh, hopiofola…. Hufh, hopiofola… Hufh, ah…. hopiofola. Kupanggang benda tanpa sapa asal.

Mungkin mengisi kekosongan ini, kita kembali pada Dionisius. Ketika Dionisius kembali dari ladang anggurnya, ia tak menjumpai Corona. Seketika, tahulah ia, Corona telah pergi meninggalkannya. Di tangannya, Dionisius menggenggam mahkota dari zaitun buatannya yang hendak dipersembahkannya untuk Corona. Dalam kesedihannya, Dionisius mengeluarkan segala anggur yang dimilikinya. Ia, penghuni hutan, dan makhluk-makhluk penceria kemabukan yang dengan mata telanjang tak mungkin kita lihat, berpesta pora anggur malam itu di tengah hutan.

Anda para pejuang yang menganggap sesuatu yang anda inginkan harus menjadi milik pribadi anda, mungkin berandai Dionisius pada suatu ketika akan mencari Corona dan mempersembahkan mahkota indah yang dibuatnya itu? Hem, ternyata tidak. Tidak, saudara-saudari. Dalam kemabukan amat sangat dan tanpa syaratnya, disaksikan makhluk-makhluk hutan dan makhluk-makhluk penceria kemabukan yang lain, Dionisius dengan penuh khidmat mengambil mahkota itu. Sepenggal saat, Dionisius memperhatikannya dengan saksama. Lalu dengan teriakan lantang, (saya ingin menambahkan dengan berlinang air mata di sini, tetapi tentu terkesan sangat hiperbolis) Dionisius sekuat tenaga melemparkan mahkota itu ke langit. Mahkota itu terbang, terus terbang dan terus terbang, entah didorong apa atau entah membawa apa. Gerak perginya mahkota itu mengabadi, mewujud petanda, mewujud pedoman para pemabuk. Pandanglah langit, bila anda melihat sebuah rasi bintang indah berbentuk mahkota, itulah rasi bintang Corona, tanda keabadian gerak pergi kenangan Dionisius

Lalu, malam itu pun berubah fiksi. Seseorang datang padaku dan duduk di sampingku. Kami tak berbicara apa-apa. Orang itu mungkin ingin berbicara sesuatu tetapi saya memang sedang tak mau berbicara apa-apa. Demi kesopanan, anda harus mengingat hal ini sungguh-sungguh, kesopanan! Saya lalu menyapanya, memulai sebuah pembicaraan.

“Malam yang dingin.”

Dia menjawab,

“Hujan pertama yang jatuh.”

“Seperti ada yang hendak dibisikan Sang Dingin.”

“Sawah dan ladang berceria.”

“Ah, telingaku belum terbiasa dengan bahasanya.”

“Petani-petani di desa, hahahahahaha, mereka pasti bahagia. Sungguh bahagia. Aku teringat, ayah selalu akan tersenyum bahagia bila hujan pertama turun ke bumi. Ibu menggigil kedinginan, ayah lantas menyuruhku, anak satu-satunya mereka waktu itu, segera tidur. ‘Akan ada kilat jahanam yang menculik anak kecil ketika hujan pertama’.”

“Terkadang aku berpikir, kegelapanlah tempat di mana segalanya tersedia. Dengan berteman kegelapan, hidup menjadi mudah untuk dijalani. Engkau pasrah pada misteri, engkau awas pada bahaya menghadang, engkau sedia pada segala yang tak tersedia.”

“Ah, Bapak, aku rindu padamu.”

“Ada banyak jenis malam. Aku baru mengenal sepuluh di antaranya. Aku sedang menunggu yang keempat. Ia berjanji akan menemuiku di sini, beberapa saat lagi. Atau mungkin, anda utusannya?”

“Aku akan mengambil cuti barang empat hari bulan depan dan pulang sebentar ke kampung. Anakku mungkin kubawa serta. Ibunya jelas tak bisa ikut. Jatah cutinya sudah habis.”

“Malam adalah teman semua orang. Tak ada yang tak. Kegelapannya membuat orang rindu padamu. Dinginnya, membuatmu merindu rasa hangat.”

“Kemarin, adik bungsuku menelepon. Ayah sudah tak kuat lagi turun ke ladang, katanya. Yah, tentu aku paham itu. Sudah dari enam bulan lalu, aku melarangnya bekerja. Tinggal saja denganku. Tapi ayah tak mau. Katanya, tunggu sampai ayah tak mampu menolak segala ajakan apa pun, baru kau bawah ayah ke rumahmu.”

Kami lantas diam. Malam semakin larut saja. Taman itu, tak seterang lima minggu yang lalu. Beberapa lampu taman sudah pecah. Ada yang sengaja dipecahkan dan bolam di dalamnya diambil, ada yang pecah akibat permainan anak-anak. Seorang gelandangan tidur nyenyak di balik perdu. Aku memandang sekeliling; tak ada yang terlihat lewat. Langit mulai bercahaya.

“Senja segera tiba. Ayo pulang, Bung!”

Kami pun melangkah bersama, pulang ke rumah.


pada sepenggal dinihari 5/12/09

ketika dingin memuntahkan isi perutnya

dan malam berbisik lirih, “manusia itu sendirian, Bung!”

Thursday, December 3, 2009
no image

JIKA TERLALU MEMUJA DIRI

The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement, Jean M. Twenge & W. Keith Campbell, New York: Free Press, 2009.

Minggu-minggu lalu banyak orang di Amerika dan dunia dihebohkan dengan kabar soal sebuah balon gas yang mengudara di kawasan Denver, dengan dugaan ada seorang anak berumur 4 tahun di dalamnya. Segera media menjadikannya liputan dengan nuansa human interest. Berjam-jam liputan ditujukan pada nasib balon gas serta nasib si anak balita tadi. Ketika balon gas akhirnya mendarat, ternyata si anak tak ada di situ.

Muncul kepanikan baru, jangan-jangan si anak terjatuh dari angkasa. Kepanikan terjadi, spekulasi macam-macam muncul. Belakangan diketahui si anak bersembunyi di rumah temannya karena habis dimarahi ayahnya. Lebih mengagetkan lagi, rencana ini semua adalah sandiwara yang dilakukan ayahnya guna kontrak dalam sebuah program televisi reality show untuk drama tadi. Banyak orang kemudian marah-marah mengetahui akhir cerita ini.

Reality show adalah salah satu bagian dari proses bagaimana banyak orang di belahan dunia ikut terkena epidemi: epidemi narsisme. Jean M. Twenge & W. Keith Campbell, penulis buku ini yang juga adalah para psikolog, melihat bahwa di Amerika masalahnya makin terlihat bagaimana narsisme makin menjadi-jadi. “Bukan karena narsisme adalah bagian dari budaya orang Amerika, tetapi orang biasa-biasa pun jadi tergoda untuk menonjolkan kekayaan mereka, penampilan fisik mereka, pengidolaan atas para selebriti, dan aneka kegiatan mencari perhatian.”

Twenge dan Campbell (keduanya associate professor psikologi dari dua universitas yang berbeda: San Diego State University, dan University of Georgia), menyebut narsisme sebagai epidemi karena : “…penyakit ini menjangkiti sejumlah besar individu dalam masyarakat”. Untuk konteks Amerika narsisme ini adalah penyakit yang sama seriusnya dengan penyakit obesitas (kegemukan). Bahkan untuk narsisme pun ada pengukuran saintifik yang disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD), dimana 1 dari 4 mahasiswa memenuhi symptom NPD tersebut. Atau jika penelitian diperluas: 1 dari 10 orang Amerika yang berusia 20-an tahun mengalami symptom tersebut, atau 1 dari 16 orang Amerika dari segala usia juga mengalami symptom yang sama.

Narsisme sendiri adalah perilaku yang memuji diri sendiri, atau menjadikan diri sendiri sebagai pusat kegiatan. Menurut Twenge dan Campbell, narsisme bukanlah soal self-esteem (kepercayaan diri) yang umumnya ditanamkan dan diacu untuk meningkatkan rasa nyaman diri seseorang. “Narsisme adalah sebentuk kepercayaan diri yang berlebihan” katanya. Narsisme menjadi terutama dalam hal berhubungan dengan orang lain, dimana orang yang narsis akan kehilangan empati ataupun kepekaan saat berhadapan dengan orang lain. Yang lebih penting adalah dirinya terus menerus dipuja.

Jika merujuk pada asal kata narsis, kita akan bertemu dengan sosok Narsisius, seorang pemuda tampan dari khasanah legenda Yunani, yang selalu menolak wanita-wanita cantik yang berupaya mendekatinya. Sampailah ketika ia duduk di pinggir danau dan menengok atas air yang tenang, ia menemukan wajah pemuda tampan yang sempurna. Narsisius tak sadar bahwa bayangan itu dirinya sendiri, dan ia hidup terus dengan kecintaan atas bayangan pada air danau itu.

Twenger dan Campbell sepakat untuk menyebut 4 fenomena sebagai akar yang menghasilkan epidemi narsisme: perlakuan orangtua yang berlebihan kepada anak, fenomena para selebriti serta media-media yang mentransmisikan narsismenya, merebaknya dunia cyber dan kompetisi untuk mendapatkan perhatian, serta kemudahan fasilitas kartu kredit yang membuat orang tergiur untuk terus berbelanja dengan kartunya tanpa berpikir soal pembayarannya kelak.

Alarm yang dinyalakan oleh dua penulis ini sangat tepat, justru di saat dimana fenomena narsisme menjadi makin menggila. Kita pasang Youtube (ingat semboyannya: “broadcast yourself”?), juga kita bisa memasang My Space (“My Space is your space – express who you are”), atau juga Facebook, jaring sosial yang makin populer di berbagai kalangan usia. Alarm ini penting untuk dinyalakan karena melihat betapa gejala narsisme, sebagaimana dikatakan dua penulis ini, menekankan sifat manusia terutama dalam soal materialistis, keunikan diri, perilaku antisosial, masalah hubungan dengan orang lain, dan lain-lain.

Singkat kata narsisme bukanlah keutamaan (virtue), tapi malah ia menjadi gangguan. Percaya diri secukupnya penting, tapi jika ia berlebih, ia jadi suatu problem baru.

Buku ini penting untuk dibaca banyak pihak, dan mungkin baik juga untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, agar semakin banyak orang bisa memahami fenomena memuji diri sendiri yang terlalu berlebih itu. Narsisme memang dekat dengan fenomena memoles citra terus menerus dan menjadikannya makin lama makin jauh dari kenyataan sesungguhnya.

Para artis, orang biasa-biasa, politisi, para pejabat, tampil secara narsis. Paling utama terlihat pada masa-masa kampanye beberapa bulan silam semasa pemilihan umum. Kini kita pun masih sering menemukan tampilan narsis dari berbagai pejabat yang memasang billboard besar-besar di pinggir jalan dengan wajahnya serta aneka pesan ‘pembangunan’nya. Para motivator ataupun para ‘marketer’ yang laku di kalangan pebisnis harus menampilkan foto ketika mengiklankan suatu event.

Memang ini fenomena hyper realitas sebagaimana sering disebut oleh Baudrillard. Orang senang dengan ‘yang semu’, dan tak jemu untuk terus dibohongi. Citra mendahului kenyataan, dan yang penting adalah apa yang jadi kulit luar ketimbang apa yang jadi intisari masalah. Jadi, anda masih mau narsis?

(terbit di Ruang Baca, Koran Tempo 29 November 2009)
Copyright © agenda 18 All Right Reserved